BENGKULU –Keluarga mantan Bupati Bengkulu
Selatan (BS), Reskan Effendi mulai buka-bukaan. Hal ini setelah Reskan
ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penemuan narkoba di ruang kerja
Bupati Bengkulu Selatan (BS), Dirwan Mahmud.
Pihak keluarga menyebut Reskan Effendi bukan aktor utama melainkan hanya sebagai korban. Ada dugaan keterlibatan oknum petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bengkulu dalam kasus ini. Putri bungsu Reskan Effendi, Ria Oktarina, S.Psi yang juga anggota DPRD Provinsi Bengkulu menegaskan keterlibatan bapak kandungnya itu hanya sebatas mengetahui. Itupun karena dimanfaatkan oleh oknum anggota BNNP sebagai alat untuk menangkap dan menyelidiki Dirwan Mahmud.
“Jadi tidak benar kalau bapak kami dikatakan aktor atau penyumbang dan penyedia dana untuk memasukkan narkoba ke ruang kerja Bupati BS itu. Dia itu korban akibat dimanfaatkan oleh oknum petugas BNNP. Jadi bapak kami benar-benar dijadikan alat BNNP ketika kondisinya sedang tidak stabil pasca kalah pilkada,” kata Ria kepada RB, kemarin.
Ria mengaku sebelum dilakukan penggeledahan di ruang kerja Bupati BS, Dirwan Mahmud pada Selasa, 10 Mei 2016, ada oknum petugas BNNP datang ke rumah menemui bapaknya. Waktu itu, oknum tersebut mengatakan bahwa ingin menyelidiki dan menangkap Dirwan Mahmud yang sudah menjadi target nasional. Oknum itu juga mengatakan meminta bantuan kepada orangtuanya itu demi tugas negara.
“Oknum itu memang mengatakan minta bantuan karena demi tugas negara. Sehingga bapak saya mempersilakan BNN melakukan penyelidikan. Dalam penemuan narkoba itu tidak ada sangkut pautnya dengan bapak saya. Cuma mengetahui kalau BNN akan menyelidiki,” bebernya.
Diungkapkan Ria, saat itu bapaknya memang sedang tidak stabil karena kalah pilkada. Tentu menuruti apa yang diinginkan oknum petugas BNNP itu. Namun, Ria belum mau menyebutkan siapa oknum petugas yang dimaksud. Begitu juga apa saja yang dibicarakan pada pertemuan itu. Semuanya baru akan dibeberkan saat di pengadilan nanti. Untuk itu, dirinya meminta agar aparat penegak hukum benar-benar melakukan pengusutan secara transparan. Jangan ada yang disembunyikan.
“Kami dari keluarga hanya berdoa dan memberikan support kepada bapak agar sabar dan dapat mengikuti proses hukum ini dengan tenang. Ibarat pepatah semakin tinggi pohon, semakin kencang tiupan angin. Kami juga minta dan mendesak agar kasus ini dibuka transparan,” harapnya.
Lanjut Ria, dalam kasus ini orangtuanya memang benar-benar jadi korban. Semua keluarga terpukul. Karena tidak ada untungnya kalau orangtuanya melakukan perbuatan tersebut. Apalagi menjadi aktor untuk menjebak Dirwan Mahmud, menurut Ria, tidak ada untung bagi bapaknya. “Intinya bapak kami dapat sialnya saja. Dia hanya mengetahui BNNP akan melakukan penyelidikan. Dalam persidangan nanti akan dibuka semuanya. Agar tahu siapa aktornya, sehingga jelas siapa saja dan siapa dalang sebenarnya,” tandasnya.
Kondisi Reskan Sehat
Ria menerangkan setelah ditahan BNNP, kondisi bapaknya tetap sehat. Hanya saja tidak dibolehkan untuk bebas keluar masuk atau jalan-jalan seperti selama ini. “Tadi (kemarin, red) kami sudah dibolehkan menemui bapak di BNNP. Alhamdulillah kondisinya sehat. Untuk mendampinginya dalam proses penyidikan sudah ada kuasa hukum,” tuturnya.(che)
Pihak keluarga menyebut Reskan Effendi bukan aktor utama melainkan hanya sebagai korban. Ada dugaan keterlibatan oknum petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bengkulu dalam kasus ini. Putri bungsu Reskan Effendi, Ria Oktarina, S.Psi yang juga anggota DPRD Provinsi Bengkulu menegaskan keterlibatan bapak kandungnya itu hanya sebatas mengetahui. Itupun karena dimanfaatkan oleh oknum anggota BNNP sebagai alat untuk menangkap dan menyelidiki Dirwan Mahmud.
“Jadi tidak benar kalau bapak kami dikatakan aktor atau penyumbang dan penyedia dana untuk memasukkan narkoba ke ruang kerja Bupati BS itu. Dia itu korban akibat dimanfaatkan oleh oknum petugas BNNP. Jadi bapak kami benar-benar dijadikan alat BNNP ketika kondisinya sedang tidak stabil pasca kalah pilkada,” kata Ria kepada RB, kemarin.
Ria mengaku sebelum dilakukan penggeledahan di ruang kerja Bupati BS, Dirwan Mahmud pada Selasa, 10 Mei 2016, ada oknum petugas BNNP datang ke rumah menemui bapaknya. Waktu itu, oknum tersebut mengatakan bahwa ingin menyelidiki dan menangkap Dirwan Mahmud yang sudah menjadi target nasional. Oknum itu juga mengatakan meminta bantuan kepada orangtuanya itu demi tugas negara.
“Oknum itu memang mengatakan minta bantuan karena demi tugas negara. Sehingga bapak saya mempersilakan BNN melakukan penyelidikan. Dalam penemuan narkoba itu tidak ada sangkut pautnya dengan bapak saya. Cuma mengetahui kalau BNN akan menyelidiki,” bebernya.
Diungkapkan Ria, saat itu bapaknya memang sedang tidak stabil karena kalah pilkada. Tentu menuruti apa yang diinginkan oknum petugas BNNP itu. Namun, Ria belum mau menyebutkan siapa oknum petugas yang dimaksud. Begitu juga apa saja yang dibicarakan pada pertemuan itu. Semuanya baru akan dibeberkan saat di pengadilan nanti. Untuk itu, dirinya meminta agar aparat penegak hukum benar-benar melakukan pengusutan secara transparan. Jangan ada yang disembunyikan.
“Kami dari keluarga hanya berdoa dan memberikan support kepada bapak agar sabar dan dapat mengikuti proses hukum ini dengan tenang. Ibarat pepatah semakin tinggi pohon, semakin kencang tiupan angin. Kami juga minta dan mendesak agar kasus ini dibuka transparan,” harapnya.
Lanjut Ria, dalam kasus ini orangtuanya memang benar-benar jadi korban. Semua keluarga terpukul. Karena tidak ada untungnya kalau orangtuanya melakukan perbuatan tersebut. Apalagi menjadi aktor untuk menjebak Dirwan Mahmud, menurut Ria, tidak ada untung bagi bapaknya. “Intinya bapak kami dapat sialnya saja. Dia hanya mengetahui BNNP akan melakukan penyelidikan. Dalam persidangan nanti akan dibuka semuanya. Agar tahu siapa aktornya, sehingga jelas siapa saja dan siapa dalang sebenarnya,” tandasnya.
Kondisi Reskan Sehat
Ria menerangkan setelah ditahan BNNP, kondisi bapaknya tetap sehat. Hanya saja tidak dibolehkan untuk bebas keluar masuk atau jalan-jalan seperti selama ini. “Tadi (kemarin, red) kami sudah dibolehkan menemui bapak di BNNP. Alhamdulillah kondisinya sehat. Untuk mendampinginya dalam proses penyidikan sudah ada kuasa hukum,” tuturnya.(che)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar