BAB 1
PENGANTAR ISBD
TUJUAN PEMBELAJARAN
setelah melakukan
pembelajaran ini, diharapkan mahasiswa mampu :
1. mengemukakan kompetensi dasar dan pokok
substansi kajian sebagai ruang lingkup ISBD
2. menjelaskan pentingnya ISBD sebagai kelompok
mata kuliah berkehidupan bermasyarakat (MBB) dan program pendidikan umum
perguruan tinggi.
3. menggunakan ISBD sebagai sudut pandang
alternative atas pemecahan masalah social dan budaya.
MATERI PEMBELAJARAN
A. Hakikat dan ruang lingkup ISBD
B. ISBD sebagai MBB dan penddikan umum
C. ISBD sebagai alternative pemecahan masalah
social budaya.
KATA-KATA KUNCI
Ilmu social dasar, ilmu budaya dasar, kompetensi, matakuliah
berkehidupan masyarakat, system nilai budaya.
pada bagian pertama buku ini, akan diuraikan topic mengenai
pengantar kuliah ilmu social dan budaya dasar (ISBD)sebelum menguraikan lebih
lanjut materi-materi pokok yang ada dalam substansi kajian ISBD. bagian
pengantar ini dimaksudkan untuk memberikan penjelasan umum mengenai mata kuliah
ISBD. dalam pengantar ini akan disajikan mengenai hakikat dan ruang lingkup
ISBD, ISBD sebagai MBB dan pendidikan umum, dan ISBD sebagai alternative
pemecahan masalah dan social budaya.
A. HAKIKAT DAN RUANG LINGKUP ISBD
1. Hakikat ISD dan IBD
secara garis besar ilmu
dan pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu:
a. ilmu alamiah (natural sciences)
b. ilmu social (social sciences)
c. pengetahuan budaya (the humanistic)
ilmu social dasar (ISD) termasuk dalam kelompok ilmu social.
namun, ISD tidak bersifat sebagai pengantar kea rah suatu bidang disiplin ilmu
social sebagaimana pengantar ilmu politik, pengantar antropologi, pengantar
sosiologi, dan sebagainya. ISD menggunakan pengertian yang berasal dari
berbagai disiplin ilmu untuk menanggapi masalah-masalah social, khususnya yang
dihadapi masyarakat Indonesia.
ISD mempunyai tema pokok, yaitu hubungan timbale balik manusia
dengan lingkungannya. adapun objek sasaran atau objek kajian ISD adalah sebagai
berikut.
a. berbagai kenyataan bersama merupakan masalah
social yang dapat ditanggapi melalui pendekatan sendiri maupun pendekatan
antarbidang (interdisiplin).
b. keanekaragaman golongan dan kesatuan social dalam
masyarakat yang masing-masing memiliki kepentingan dan kebutuhan sendiri,
tetapi terdapat juga persamaan kepentingan yang dapat mengakibatkan kerjasama
dan pertentangan.
intinya, matakuliah ISD adalah upaya untuk memberkan pengetahuan
dasar dan pengetahuann umum tentang konsep-konsep yang dikembangjan untuk
mengkaji gejala-gejala social sehingga daya tangkap, presepsi, dan penalaran
mahasiswa terhadap lingkungan social meningkat, dengan demikian kepekaan
sosialnya pun bertambah.
tujuan matakuliah ISD adalah membantu perkembangan wawasan
pemikiran dan kepribadian mahasiswa agar memperoleh wawasan pemikiran yang
lebih luas dan cirri-ciri kepribadian yang diharapkan dari setiap tingkah laku
manusia dalam menghadapi manusia lain, serta sikap dan tingkah laku manusia
lain terhadap manusia yang bersangkutan.
ilmu budaya dasar (IBD) dalam kelompok ilmu pengetahuan termasuk
dalam kelompok pengetahuan budaya (the humanistic), tetapi tidak identik dengan
pengetahuan budaya itu sendiri. IBD berbeda dengan pengetahuan budaya.
pengetahuan budaya mengkaji masalah masalah nilai manusia sebagai makhluk
berbudaya,sedangkan IBD mengkaji masalah kemanusiaan dan budaya. IBD budaya
ialah suatu pengetahuan yang menelaah berbagai masalah kemanusiaan
dan budaya, dengan menggunakan pengertian yang berasal dari dan telah
dikembangkan oleh berbagai bidang ilmu pengetahuan atau keahlian.
adapun yang menjadi pokok kajian IBD adalah berbagai aspek
kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya
serta hakikat manusia yang satu. termasuk pula didalamnya pemahaman akan system
nilai budaya, yaitu konsepsi tentang nilai yang hidup dalam pikiran sebagian
besar masyarakat. system nilai budaya berfungsi sebagai pedoman bagi sikap
mental, pola piker dan pola prilaku warga masyarakat.
IBD merupakan suatu upaya memberikan pengetahuan dasar dan umum
mengenai konsep-konsep budaya untuk menkaji masalah kemanusiaan dan budaya.
pendekatan pokok kajian IBD dilakukan dengan menggunakan pengetahuan dasar dan
umum tentang konsep budaya dari berbagai keahlian pengetahuan buadaya maupun
degan menggunakan masing-masing keahlian dalam pengetahuan budaya.
tujuan IBD adalah mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara
memperluas wawasan pemikiran dan kemampuan kritikalterhadap masalah-masalah
budaya sehingga daya tangkap, presepsi, dan penalaran budaya mahasiswa menjadi
halus dan manusiawi.
namun dalam rangka evektifitas dan keterpaduan maka sesuai SK
dirjen dikti no 44/2006 pengorganisasian materi maupun teknik penyajiannya digabungkan
menjadi ISBD. dengan demikian ISBD dapat dikatakan sebagai paduan atau
integrasi dari kajian ISD dan IBD. sebgai integrasi dari ISD dan IBD , ISBD
memiliki kompetensi dasar menjadi ilmuan yang professional, yakni yang berfikir
kritis, kreatif, sistematik dan ilmiah, berwawasan luas, etis, serta memiliki
kepekaan dan empati terhadap solusi pemecahan masalah social dan budaya secara
arif (SK dirjen Dikti No, 44 tahun 2006).
2. Ruang lingkup ISD,IBD, dan ISBD
ISD memberikan dasar-dasar pengetahuan kepada manusia yang
diharapkan akan cepat tanggap serta mampu menghadapi dan menanggulangi
masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat (masalah social). dengan mengetahui
dan mengorientasikan diri kedalamnya, paling tidak ia harus mempu mengetahui
kea rah mana pemecahan jalan keluar suatu permasalahan yang dihadapi.
karena, bagaimanapun juga pada saat ini masalah-masalah social
telah berkembang sedemikian kompleksnya. mulai dari ruang lingkup local,
regional, nasional, maupun internasional.
ruang lingkup materii yang disajikan dalam ISD meliputi :
1. individu, keluarga, dan masyarakat.
2. masyrakat desadan masyarakat kota
3. masalah penduduk
4. pelapisan social
5. pemuda sosialisasi
6. ilmu pengetahuan,teknilogi, dan kemiskinan.
berdasarkan hasil konsorsium pada lokakarya tahun 1982, ditetapkan
behwa matakuliah IBD adalah usaha yang diharapkan dapat memberikan bekal
pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan
untuk mengkaji masalah-masalah budaya.
seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa IBD bukanlah
pengetahuaan mengenai budaya. jadi materi yang disajikan bukanlah tema atau
topic tentang kebudayaan. yang dijadikan pokok kajian IBD adalah aspek
kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan, maupun masalah kemanusian dan
budaya, hakikat manusia yang satu, serta system nilai budaya. ruang lingkup
yang dijadikan tema dalam matakuliah IBD mencakup hal-hal berikut.
a. manusia dan pandangan
b. manusia dan keindahan
c. manusia dan keadilan
d. manusia dan cinta kasih
e. manusia dan tanggung jawab
f. manusia dan kegelisahan
g. manusia dan harapan
kemudian, ketika materi
ISD dan IBD di gabung menjadi ISBD maka sesuai dengan konsep kurikulum berbasis
kompetensi memuat sejumlah substansi kajian yang mengarah pada tercapainya
kompetensi dasar. artunya, bahwa pemberian substansi kajian atau ruang lingkup
kajian ISBD yang ada kepada mahasiswa diharapkan dapat mencapai kompetensi
dasar matakuliah yang dimaksud.
adapun
substansi kajian ISBD berdasarkan ketentuan dalam surat keputusan dirjen dikti
no.30/dikti/kep/2003 tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok matakuliah
berkehidupan bermasyarakat di perguruan tinggi Indonesia, mencakup pokok-pokok
kajian sebagai berikut :
a. pengantar ISBD
b. manusia sebagai maklik budaya
c. manusia dan peradaban
d. manusia sebagai makhluk individu social
e. manusia,keragaman,kesederajatan
f. moralitas dan hukum
g. manusia, sains dan teknologi
h. manusia dan lingkungan
sedangkan menurut
ketentuan baru, yaitu surat keputusan dirjen dikti nomor 44/dikti/kep/2006
tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok matakuliah berkehidupan bermasyarakat
di perguruan tinggi, substansi kajian ISBD meliputi hal-hal berikut.
a. pengantar ISBD
b. manusia sebagai makhluk budaya
c. manusia sebagai makhluk individu social
d. manusia dan peradaban
e. manusia,keragaman, dan kesetaraan
f. manusia, nilai , moral, dan hukum
g. manusia,sains, teknologi dan seni.
h. manusia dan lingkungan
menyimak dari isi kajian di atas, dapat dikemukakan bahwa kajian
ISBD mencakup masalah social dan masalah budaya serta keberadaan manusia
sebagai subjek bagi masalah-masalah tersebut. baik dihadapkan pada masalah
social maupun budaya tersebut, diharapkan manusia dapat meningkatkan
wawasannya, kepekaannya, serta berempati terhadap masalah maupun pemecahan
masalahnya.
B. ISBD SEBAGAI MATAKULIAH BERKEHIDUPAN
BERMASYARAKAT (MBB) DAN PENDIDIKAN UMUM
1. ISBD merupakan kelompok MBB di perguruan tinggi
menurut keputusan
menteri pendidikan nasional republic Indonesia nomor 232/U/2000 tentang pedoman
penyusunan kurukulum pendidikan tinggi dan penilaian hasil belajar mahasiswa,
kelompok bahan kajian dan pelajaran yang dicakup dalamsuatu program studi yang
dirumuskan dalam kurikulum terdiri atas:
a. kelompok matakuliah pengembangan kepribadian
(MPK) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran untuk mengembangkan manusia
Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan yang maha esa, berbudi pekerti
luhur, berkepribadian mantap dan mandiri, serta mempunyai rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.
b. kelompok mata kuliah keilmuan dan keterampilan
(MKK) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang ditujukan terutama untuk
memberikan landasan penguasaan ilmu dan keterampilan tertentu.
c. kelompok matakuliah keahlian berkarya (MKB)
adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan untuk menghasilkan
tenaga ahli dengan kekaryaan berdasarkan tenaga ilmudan keterampilan yang
dikuasai.
d. kelompok matakuliah prilaku berkarya (MPB)
adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang bertujuan umtuk membentuk sikap
dan perilaku yang diperlukan seseorang dalam karya menurut tingkat keahlian
berdasarkan dasr ilu keterampilan yang dikuasai.
e. kelompok metakuliah berkrhidupan bermasyarakat
(MBB) adalah kelompok bahan kajian dan pelajaran yang diperlukan untuk dapat
memahami kaidah berkehidupan bermasyarakat sesuai dengan pilihan dengan
keahlian dalam berkarya.
menurut surat keputusan menteri No.23/U/2000 tersebut ISD dan IBD
termasuk dalam kelompok MPK kurikulum institusional. kurikulum institusional
merupakan sejumlah bahan kajian dan pelajaran yang merupakan bagian dari kurukulum
pendidikan tinggi, yang terdiri atas tambahan dari kelompok ilmu dalam
kurikulum inti yang disusun dengan memerhatikan keadaan dan kebutuhan
lingkungan secara cirri khas perguruan tinggi yang bersangkutan. sedangkan
kelompok MPK kurikulum institusional yang lain, misalnya bahasa Indonesia,
bahasa inggris, ilmu alamiah dasar, filsafat ilmu, dan olahraga(pasal 10 ayat
2)
selanjutnya terjadi perubahan berdasarkan surat keputusan dirjen
dikti No.30 /Dikti/kep/2003 tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok matakuliah
berkehibupan bermasyarakat di perguruan tinggi maka ISBD termasik dalam
kelompok MBB. selengkapnya, mata kuliah yang termasuk dalam MBB terdiri atas :
a. ilmu social dan budaya dasar (ISBD)
b. ilmu kealaman dasar (IAD)
a. visi kelompok matakuliah berkehidupan
bermasyarakat (MBB)
visi kelompok MBB di
perguruan tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman bagi penyelenggaraan
program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadianm kepekaan
social, kemampuan hidup bermasyarakat, pengetahuan tentang pelestarian,
pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup, dan mempunyai wawasan
tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
b. misi kelompok matakuliah berkehidupan
bermasyarakat (MBB)
misi kelompok MBB di
pergguruan tinggi membantu meumbuhkembangkan daya kritis, daya creative,
apresiasi, dan kepekaan mahasiswa terhadap
nilai-nilai social dan budaya
demi memantapkan kepribadiannya sebagai bekal hidup bermasyarakat selaku
makhluk hidup dan makhluk social yang mwmiliki sifat sebagai berikut :
1. bersikap demokratis, berkeadapan, menjunjung
tinggi nilai kemanusiaan, bermartabat serta peduli terhadap pelestarian sumber
daya alam dan lingkungan hidup.
2. memiliki kemampuan untuk menguasai dasar-dasar
ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
3. ikut berperan mencari solusi pemecahan masalah
social budaya dan lingkungan hidup secara arif.
c. kompetensi kelompok matakuliah berkehidupan
bermasyarakat (MBB)
standar kompetensi kelompok MBB yang harus dikuasai mahasiswa
meliputi berpikir kritis,kreatif,sistematis, ilmiah, berwawasan luas,
etis,estetis, memiliki apresiasi, kepekaan dan empati social, bersikap
demokratis, berkeadapan, dan menjunjung tinggi nilai kemampuan; memiliki kepedulian
terhadap pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup; mempunyai wawasan
tentang perkembangan ilmu pengetahuan,teknologi dan seni sehingga dapat ikut
berperan mencari solusi pemecahan masalah social,budaya,dan lingkungan hidup
secara arif.
kompetensi dasar untuk bidang ISBD adalah menjadi ilmuwan dari dan
professional yang berpikir kritis,kreatif,sistematik, dan ilmiah, berwawasan
luas,etis, memiliki kepekaan dan empati terhadap solusi pemecahan masalah
social dan busaya secara arif.
kompetensi dasar untuk IAD adalah menajadi ilmuwan dan
professional yang berfikir kritis, kreatif,sistematik,dan ilmiah,berwawasan
luas,etis,lingkungan hidup, mempunyai wawasan luas tentang perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta dapat ikut berperan dalam mencari solusi
pemecahan masalah lingkungan hidup secara arif.
2. ISBD sebagai program pendidikan umum (general
education)
pendidikan tinggi
sebagai kelanjutan dari pendidikan menengah diselenggarakan untuk menyiapkan
peserta didik menjadi anggaota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan
professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu
pengetahuan, teknologi dan kesenian. pendidikan tinggi dilaksanakan di
perguruan tinggi dan oleh perguruan tinggi yang terdiri atas pendidikan
akademik dan professional.
lulusan
perguruan tinggi baik ilmuan / akademisi dan professional diharapkan memiliki
kemampuan yang meliputi kemampuan personal, kemampuan akademik, dan kemampuan
professional.
kemampuan personal adalah kemampuan kepribadian. dengan kemampuan
ini para teaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga mampu menunjukan
sikap, tingkah laku, dan tindakan yang mencerminkan kepribadian Indonesia;
memahami dan mengenal nilai-nilai keagamaan, kemasyarakatan,dan kenegaraan
(pancasila); memiliki pandangan yang luas dan kepekaan terhadap berbagai
masalah yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia.
kemampuan akademik adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara
ilmiah, baik lisan, maupun tulisan; menguasai peralatan analisis, berpikir
logis, kritis, sistematik dan analitik; memiliki kemampuan kensepsional untuk
mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dihadapi serta mampu menawarkan
alternative pemecahan.
kemampuan professional adalah kemampuan dalam bidang profesi
tenaga ahli yang bersangkutan. dengan kemampua ini, para tenaga ahli diharapkan
memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dalam bidang profesinya.
kemampuan personal adalah ditanamkan kepada para mahasiswa sebagai
calon tenaga ahli melalui program pendidikan umum. pendidikan umum merupakan
studi kajian yang membekali pesrta didik berupa kemampuan dasar tentang
pemahaman, penghayatan,dan pengalaman nilai-nilai dasar kemanusiaan, sebagai
makhluk tuhan, sebagai pribadi, anggota keluarga, masyarakat, warga Negara, dan
sebagai bagian dari alam.
ISBD mengambil peran sebagai program pendidikan umum yang bersifat
mengantarkan mahasiswa memiliki kemampuan personal. menempatkan diri sebagai
anggota masyarakat yang tidak terpisahkan dari masyarakat serta kemampuan untuk
memiliki tanggung jawab social kemasyarakatan. tanggung jawab itu diwujudkan
dengan keikutsertaan dalam memecahkan masalah social dimasyarakatnya sesuai
dengan ilmu yang dimilikinya.
program pendidikan umum berusaha untuk memperluas cakrawala perhatian
dan pengetahuan para mahasiswa sehingga tidak terbatas pada bidang
pengetahuan keahlian serta golongan asal masing-masing; membantu mahasiswa
menemukan diri sendiri dan menempatkan diri dalam perkembangan masyarakat dan
kebudayaan yang sedang berlangsung, menghadapkannya dengan masalah-masalah
susila serta masalah yang diwujudkan oleh kenyataan-kenyataan kehidupan sosialm
ekonomi, dan politik yang secara sadar ataupun tidak sadar senantiasa
dihadapinya; memberikan pengertian pada mereka mengenai hubungan dan
keterkaitan dari ilmu pengetahuan. singkatnya, program pendidikan umum
diharapkann dapat menjadikan mahasiswa lebih peka dan lebih terbuka, disertai
rasa tanggung jawab yang lebih kuat.
C. ISBD SEBAGAI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH SOSIAL
BUDAYA
ISBD sebagai integrasi
dari ISD dan IBD memberikan dasar-dasar pengetahuan social dan konsep-konsep
budaya kepada para mahasiswa sehingga mampu mengkaji masalah social,
kemanusiaan, dan budaya. selanjutnya, diharapkan mahasiswa peka,tanggap,kritis,
serta berempati atas solusi pemecahan masalah social dan budaya secara arif.
seperangkat
konsep dasar ilmu social dan budaya tersebut secara interdisiplin digunakan
sebagai alat bagi pendekatan dan pemecahan masalah yang timbul dan berkembang
dalam masyarakat. dengan demikian ISBD memberikan alternative sudut pandang
atas pemecahan masalah social budaya dimasyarakay. bardasarkan pemahaman yang
diperoleh dari kajian ISBD, mahasiswa dapat mengorientasikan diri untuk
selanjutnya mampu mengetahui kea rah mana pemecahan masalah harus dilakukan.
pendekatan
dalam ISBD lebih bersifat interdisiplin atau multidisiplin, khususnya ilmu-ilmu
social dalam menghadapi masalah social. pendekatan dalam ISBD bersumber dari
dasar-dasar ilmu social dan budaya yang bersifat terintegrasi.ISBD digunakan
untuk mencari pemecahan masalah kemasyarakatan melalui pendekatan
interdisipliner atau multidisipliner ilmu-ilmu social dan budaya. sedangkan
pendekatan dalam ilmu social lebih bersifat subjek oriented, artinya berdasarkan
sudut pandang dari ilmu social tersebut. misalnya, ilmu ekonomi melihat suatu
masalah melalui prespektif ekonomi serta pemecahan masalah pun dari sudut
pandang ekonomi pula.
pendekatan
dalam ISBD akan memperluas pandangan bahwa masalah social, kemanusiaan, dan
budaya dapat didekati dari berbagai sudut pandang. dengan wawasan ini pula maka
mahasiswa tidak jatuh dalam sifat pengotakan ilmu secara ketat. sebuah ilmu
secara mandiri tidak cukup mampu mengkaji sebuah masalah kemasyarakatan. dewasa
ini perkembangan sebuah masalah semakin kompleks. kajian atas suatu masalah
membutuhkan berbagai sudut pandang keilmuan, demikian pula dengan solusi
pemecahannya.
ISBD
sebagai kajian masalah social, kemanusiaan dan budaya, sekaligus pula member
dasar pendekatan yang bersumber dari dasar-dasar ilmu social yang terintegrasi.
pendekatan yang mendalam bersifat subject oriented di bebankan pada ilmu social
dan budaya yang lebih bersifat teoritis , baik yang menyangkut ruang lingkup,
metode dan sistematikanya.
demikian
pula halnya dengan pendekatan dalam ilmu-ilmu alam atau yang bersifat eksakta.
pendekatan dalam ilmu-ilmu alam dalam mengkaji gejala alamiah juga bersifat
subject oriented. mahasiswa yang menekini ilmu-ilmu eksakta akan mengkaji
gejala alam menurut sudut pandang ilmu mereka. dengan diberikan kajian ISBD
diharapkan dapat member wawasan akan pentingnya pendekatan social dan budaya
dalam menangani masalah alam. misalnya,seorang sarjana teknik sipil dalam
upayanya membuat jembatan harus mempertimbangkan aspek social dan budaya
masyarakat dan sekitarnya. ia semata-mata tidak boleh hanya mempertimbangkan
masalah teknis. harus dipahami bahwa manusia tidak lepas dari gejala alam dan
kehidupan lingkungan. alam dan manusia akan saling mempengaruhi. namun,sebagai
subjek kehidupan, manusia perlu memperlakukan alam secara baik sehingga akan
memberikan manfaat bagi kesejahteraan hidupnya.
berdasarkan
hal tersebut beberapa perguruan tinggi memberlakukan ISBD sebagai mata kuliah
wajib bagi mahasiswa dari program ilmu alam atau eksakta. hal ini dimaksudkan
agar pendekatan social dan budaya senantiasa dipertimbangkan dan melandasi
setiap upaya mencari solusi atas pemecahan dari masalah alam yang mereka
hadapi. dengan demikian manusia sebagai calon ilmuwan dan professional harapan
bangsa mampu bertindak secara arif dan bijaksana.
BAB II
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
TUJUAN PEMBELAJARAN
setelah melaksanakan
pembelajaran ini, mahasiswa diarapkan mampu :
1. menganalisis manusia sebagai makhluk berbudaya
2. menjelaskan hakekat kemanusiaan dan kebudayaan
3. membedakan antara etika dan estetika berbudaya
4. menunjukkan sikap hormat dan menghargai sesama
manusia
5. memberikan contoh problema kebudayaan dewasa ini
MATERI PEMBELAJARAN
1. hakikat manusia sebagai makhluk budaya
2. apresiasi terhadap kemanusiaan dan kebudayaan
3. etika dan estetika berbudaya
4. memanusiakan manusia
5. problematika kebudayaan
KATA KUNCI
akal budi, budaya,
kebudayaan, etika,estetika.
bab
ini membahas tentang manusia sebagai makhluk budaya yang berkemampuan
menciptakan kebaikan, kebenaran,keadilan, dan bertanggung jawab. sebagai
makhluk berbudaya, manusia mendayakan akal dan pikirannya untuk menciptakan
kebahagiaan baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat demi kesempurnaan
hidupnya. sebagian makhluk berbudaya, manusia menciptakan kebudayaannya.
dalam
bab ini akan dibahas mengenai hakikat manusia sebagai makhluk budaya, apresiasi
terhadap kemanusiaan dan kebudayaan, etika dan estetika berbudaya, memanusiakan
manusia, dan problematika kebudayaan.
A. HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
Manusia adalah salah
satu makhluk tuhan di dunia. makhluk tuhan di alam fana ini ada empat macam, yaitu
alam,tumbuhan, binatang, dan manusia, sifat-sifat yang dimiliki ke empat
makhluk ini sebagai berikut :
1. alam memiliki sifat wujud
2. tumbuhan memiliki sifat wujud dan hidup
3. binatang memiliki sifat wujud,hidup dan dibekali
nafsu
4. manusia memiliki sifat wujud,hidup, dibekali
nafsu serta akal budi.
akal budu merupakan
pemberian sekaligus potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki
makhluk lain. kelebihan manusia disbanding mekhluk lain terletak pada akal
budi. anugrah tuhan akan akal budilah yng membedakan manusia dengan makhluk
lain. akal adalah kemampuan berfikir manusia sebagai kodrat alami yang
dimiliki. berpikir merupakan kegiatan operasional dari akal yang mendorong
untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan hidup manusia. jadi,
fungsi dari akal adalah berfikir. karena manusia di anugerahi akal maka manusia
dapat berfikir. kemampuan berfikir manusia juga digunakan untuk memecahkan
masalah-masalah hidup yang dihadapinya.
budi
berarti juga akal. budi menurit kamus lengkap bahasa Indonesia adalah bahian
dari kata hati yang berupa paduan akal dan perasaan dan yang dapat membedakan
baik-buruk sesuatu. budi dapat pula berarti tabiat atau perangai dan akhlak.
sultan takdir alisyabanha mengungkapkan bahwa budilah yang menyebabkan manusia
mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan
memberikan penilaian objektif terhadap objek atau kejadian. dengan akal
budinya, manusia mampu menciptakan,mengkreasikan, memperlakukan, memperbaharui,
memperbaiki, mengembangkan dan meningkatkan sesuatu yang ada untuk kepentingan
hidup manusia. contohnya, manusia bisa membengun rumah , membuat aneka masakan,
menciptakan beragam jenis pakaian, membuat alat transportasi,sarana komunikasi,
dan lain-lain. binatangpun bisa membuat rumah dan mencari makan. akan tetapi,
rumah atau makanan jenis suatu binatang tidak akan pernah berubah ataupun
berkembang. rumah burung, atau sarang burung dari dulu sampai sekarang tetap
saja wujudnya, tidak ada pembaharuan dan peningkatan. manusia dengan kemampuan
akal budinya bisa memperbaharui dan mengembangkan sesuatu untuk kepentingan
hidup.
kepentingan
hidup manusia adalah dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidup. secara umum,
kebutuhan manusia dalam kehidupan dapat dibedakan menjadi 2. pertama, kebutuhan
yang bersifat kebendaan(sarana-prasarana), atau badani / ragawi/
jasmani/rohani. contohnya adalah makan,minum, bernafas,istirahat dan
seterusnya. kedua, kebutuhan yang bersifat rohani, atau mental dan psikologi.
contohnya adalah kasih saying,pujian,perasaan aman, kebebasan dan lain
sebagainya.
Abraham
maslow seorang ahlu psikologi berpendapat, bahwa kebutuhan manusia dalam hidup
dibagi menjadi 5 tingkatan. kelima tingkatan tersebut adalah sebagi berikut :
1. kebutuhan fisiologis
2. kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan
3. kebutuhan social
4. kebutuhan akan penghargaan
5. kebutuhan akan aktualisasi diri
meurut maslow, kebutuhan manusia awalnya diawali dengan kebutuhan
fisiologis atau paling mendesak, kemudian ecara bertahap beralih pada tingkat
kebutuhan diatasnya sampai tingkatan tertinggi, yaitu kebutuhan aktualisasi
diri. beliau menjelaskan bahwa kita tidak dapat memenuhi kebutuhan yang lebih
tinggi kalau kebutuhan yang lebih rendah belum terpenuhi. itu berarti kebutuhan
nomor 5 akan diupayakan pemenuhannya kalau kita sudah memenuhi
kebutuhan-kebutuhan sebelumnya. jadi, kebutuhan manusia bertingkat dan
membentuk hierarki.
dengan akal budi, manusia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan
hidup, tetapi juga mampu mempertahankan juga meningkatkan derajadnya sebagai
makhluk yang tinggi bila disbanding makhluk lain. ,manusia tidak sekedar homo
tetapi human (manusia yang manusiawi). dengan demikian manusia mempu
mengembangkan sisi kemanusiaanya.
dengan akal budi, manusia mampu menciptakan kebudayaan. kebudayaan
pada dasarnya adalah hasil akal budi manusia dalam interaksinya, baik dengan
alam maupun alam sekitarnya. manusia merupakan makhluk yang berbudaya. manusia
adalah pencipta kebudayaan.
B. APRESIASI TERHADAP KEMANUSIAAN DAN KEBUDAYAAN
1. manusia dan kemanusiaan
istilah kemanusiaan berasal dari kata manusia mendapat tambahan
awalan ke dan akhiran-an sehingga menjadikan kata benda abstrak. manusia
menunjuk pada kata benda konkret, sedangkan kemanusiaan kata benda abstrak.
dengan demikian kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari manusia. manusia adalah
homo sedangkan kemanusiaan adalah human.
kemanusiaan berarti hakekat dan sifat-sifat khas manusia sebagai
makhluk yang tinggi harkat dan martabatnya. kemanusiaan menggambarkan
ungkapan akan hakikat dan sifat yang seharusnya dimiliki oleh
makhluk yang bernama manusia. kemanusiaan merupakan prinsip atau nilai yang
berisi keharusan/tuntutan/ untuk berkesesuaian dengan hakikat dari manusia.
hakikat manusia bisa dipandang secara segmental atau dalam arti
parsial, misalkan, manusia dikatakan sebagai homo economicus, homo faber, homo
socius,homo homini lupus, zoon politicon dan sebagainya. namun pandangan
demikian tidak bisa menjelaskan hakikat manusia scara utuh
hakikat manusia berdasarkan pancasila sering dikenal dengan
sebutan hakikat kodrat mono prulalis, hakikat manusia terdiri atas ;
1. mono dualis, susunan kodrat manusia dari segi
aspek keragaan.meliputi wujud materi anorganis banda mati, vegetative, dan
animalis serta aspek kejiwaan meliputi cipta, rasa dan karsa.
2. monodualis sifat kodrat manusia terdiri dari
segi individu dan segi social.
3. monodualis kedudukan kodrat meliputi segi
keberadaan manusia sebagai makhluk yang berkepribadian merdeka (berdiri
sendirii) sekaligus juga menunjukan keterbatasannya sebagai makhluk tuhan.
hakikat manusia harus dipandang secara utuh, manusia merupakan
makhluk tuhan yang paling sempurna, karena ia dibekali akal budi. manusia
memiliki harkat dan derajad yag tinggi. harkat adalah nilai sedangkan derajat
adalah kedudukan. pandangan demikian berlandaskan pada ajaran agama
yang diyakini oleh manusia sendiri . contoh dalam ajaran agama islam surah
at-tin ayat 4 dikatakan ‘sesungguhnya kami (allah) telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
karena manusia memiliki harkat dan derajat yang tinggi maka
manusia hendaknya mempertahankan hal tersebut. dalam upaya mempertahankan dan
meningkatkan hal tersebut, maka prinsip kemanusiaan berbicara, prinsip
kemanusiaan mangandung arti adanya penghargaan dan penghormatan terhadap harkat
dan martabat manusia yang luhur itu, semua manusia adalah luhur, karena itu
manusia tidak harus dibedakan perlakuannya hanya karea perbedaan
suku,ras,keyakinan,status social ekonomi, asal usul dan sebagainya.
ada ungkapan bahwa the makind is one (kemanusiaan adalah satu).
dengan demikian, sudah sewajarnya antar semua manusia tidaksaling mennindas,
tapi saling menghargai dan menghormati dengan pijakan prinsip
kemanusiaan.prinsip kemanusiaan yang ada pada diri manusia menjadi penggerak
manusia untuk berperilaku yang seharusnya sebagai manusia.
dalam pancasila sila kedua terdapat konsep kemanusiaan yang adil
dan beradap. kemanusiaan yang adil dan beradab berarti sikap dan perbuatan
manusia yang sesuai dengan kodrat hakikat manusia yang sopan dan susila yang
berdasarkan atas nilai dan norma moral. kemanusiaan yang adil dan beradab
adalah kesadaran akan sikap dan perbuatan yang didasarkan pada budi murni
manusia yang dihubungkan dengan norma-norma, baik terhadap diri sendiri, sesame
manusia, maupun terhadap lingkungannya..
2. manusia dan dan kebudayaannya
kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, yaitu budhayah yang
merupakan bentuk jamak dari budhi (budhi atau akal) diartikan sebagai hal-hal
yang berkaitan dengan budi dan akal. ada pendapat lain mengetakan budaya
berasal dari kata budi dan daya. budi merupakan unsure rohani,
sedangkan daya adalah unsure jasmani manusia. dengan demikian,
budaya merupakan hasil budi dan daya dari manusia.
dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal
dari kata lain colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. dalam bahasa belanda,
cultur berarti sama dengan culture, cultur atau culture bisa diartikan juga
sebagai mengolah tanah atau bertani. dengan demikian kata budaya ada
hubungannya dengn kemampuan manusia dalam mengelola sumber-sumber kehidupan,
dalam hal ini pertanian. kata culture juga terkadang diterjemahkan sebagai
kultur dalam bahasa Indonesia.
kebudayaan sebagai system pengetahuan yang meliputi system idea
tau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan bersifat abstrak. sedangkan perwujudan kebudayaan
adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya,
berupa prilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola
perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social,religi,seni, dan
lain-lain, yang kesemuannya ditujukan untuk membentu manusia dalam
melangsungkan kehidupan bermasyarakatnya.
C. ETIKA DAN ESTETIKA BERBUDAYA
1. etika manusia dalam berbudaya
kataetika berasal dari
bahasa yunani, yaitu etos, secara etimologis etika adalah ajaran tentang
baik-buruk, yang diterima umum tentang sikap,perbuatan,kewajiban dan
sebagainya. etika bisa disamakan artinya dengan moral (mores dalam bahasa
latin), akhlak atau kesusilaan. etika berkaitan dengan masalah nilai, karena
etika pada pokoknya membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat
nilai susila, atau tidak susila, baik dan buruk. dalam hal ini , etika termasuk
dalam kawasan nilai, sedangkan nilai etika itu sendiri berkaitan dengan
baik-buruk perbuatan manusia.
namun,
etika memiliki makna yang bervariasi, bertens menyebutkan ada tiga jenis makna
etika sebagai berikut.
a. etika dalam arti nilai-nilai atau norma yang
menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok orang dalam mengatur tingkah
laku.
b. etika dalam arti kumpulan asas atau nilai moral
(yang dimaksud di sini adalah kode etik)
c. etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang baik
dan buruk. disini etika sama artinya dengan filsafat moral
etika sebagai nilai dan
dan norma etik atau moral berhubungan denganmakna etika yang pertama .
nilai-nilai etik adalah nilai tentang bik buruk kelakuan manusia. nilai etik
diwujudkan kedalam norma etik, norma moral atau norma kesusilaan.
norma etik berhubungan dengan manusia sebagai individu karena
menyangkut kehidupan pribadi. pendukung norma etik adalah nurani individu dan
bukan manusiasebagai makhluk social atau sebagai anggota masyarakat yang
terorganisir.norma ini dapat melengkapi ketidakseimbangan hidup pribadi dan
mencegah kegelisahan diri sendiri.
norma etik ditujukan kepada umat manusia agar terbetuk kebaikan
akhlak pribadi guna pnyempurnaan bentuk manusia dan melarang manusia melakukan
perbuatan jahat. membunuh,berzinah,mencuri dan sebagainya, tetapi dirasakan
juga sebagai bertentangan dengan norma kesusilaan dalam setiap hati nurani
manusia. orma etik hanya membebani manusia dengan kewajiban-kewajiban saja.
asal atau sumber norma etik adalah dari manusia sendiri yang
bersifat otonom dan tidak ditujukan kepada sikap lahir. tetapi ditunjukan
kepada sikap batin manusia. batinnya sendirilah yang mengancam perbuatan yang
melanggar norma kesusilaan dengan sanksi itu. kalau terjadi pelanggaran norma
etik, misalnya pencurian atau penipuan, maka akan timbullah dalam hati nurani
si pelanggar itu penyesalan, rasa malu, takut, dan merasa bersalah.
daerah berlakunya norma etik relative universal, meskipun tetap
dipengaruhi oleh ideology masyarakat pendukungnya. prilaku membunuh adalah
prilaku yang amoral,asusila, atau tidak etis. pandangan ini bisa diterima oleh
dimana saja atau universal. namun, dalam hal tertentu, perlaku seks bebas bagi
masyarakat penganut kebebasan kemungkinan bukan perilaku amoral. etika
masyarakat timu mungkin berbeda dengan etika masyarakat barat.
norma etik atau norma moral menjadi acuan manusia dalam
berprilaku. dengan norma etik, manusia bisa membedakan mana perilaku yang baik
dan mana perilaku yang buruk. norma etik menjadi semacam das-sollen untuk
berperilaku baik. manusia yang beretika berarti perilaku manusia itu baik
sesuai dengan norma-norma etik.
budaya atau kebudayaan adalah hasil cipta,rasa dan karsa manusia.
manusia yang beretika akan menghasilkan budaya yang memiliki nilai-nilai etik
pula. etika berbudaya mengandung tuntutan/keharusan bahwa budaya yang dicptakan
manusia mengandung nili-nilai rtik yang kurang lebih bersifat universal atau
diterima sebagian besar orang. budaya yang memiliki nilai-nilai etik adalah
budaya yang mampu menjaga, mempertahankan, bahkan mampu meningkatkan harkat dan
martabat manusia itu sendiri. sebaliknya, budaya yang tidak beretika adalah
kebudayaan yang akan merendahkan atau bahkan menghancurkan martabat
kemanusiaan.
namun demikian, menentukan apakah suatu budaya yang dihasilkan
manusia itu memenuhi nilai-nilai etik ataukah menyimpang dari nilai etika
adalah bergantug dari paham atau ideology yang diyakini masyarakat pendukung
kebudayaan. hal ini dikarenakan berlakunya nilai-nilai etik bersifat universal,
namun amat dipengeruhi oleh ideology masyarakatnya.
contohnya, budaya perilaku berduaan di jalan antara sepasang muda
mudi, bahkan bermesraan di depan umum. masyarakat individu menyatakan demikian
bukanlah perilaku tidak etis, tetapi aka nada sebagiano orang atau masyarakat
yang berpandangan hal tersebut merupakan penyimpangan etik.
2. estetika manusia dalam berbudaya
etika dapat dikatakan
sebagai teori tentang keindahan atau seni. estetika berkaitan dengan
nilai-nilai jelek (tidak indah). nilai estetikaberarti nilai tentang keindahan.
keindahan dapat diberi makna secara luas, secara sempit dan estetik murni.
a. secara luas, keindahan mengandung nilai
kebaikan. bahwa segala sesuatu yang baik termasuk yang abstrak maupun nyata
yang mengandung ide kebaikan adalah indah. keindahan dalam arti luas meliputi
banyak hal ,seperti watak yang indah, hukum yang indah, ilmu yang indahdan
kebajikan yang indah. indah dalam arti luas mencakup hampir seluruh yang
ada.apakah merupakan hasil seni, alam moral, dan intelektual.
b. secara sempit, yaitu indah yang terbatas pada
lingkup presepsi penglihatan (bentuk dan warna)
c. secara estetik murni, menyangkut pengalaman
estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diresapinya
melalui penglihatan, pendengaran,peradapan, dan perasaan, yang
semuanya dapat menimbulkan presepsi (anggapan) indah.
jika estetika dibandingkan dengan etika, maka etika berkaitan
dengan nilai yang berkitan dengan baik-buruk, sedangkan estetika yang berkaitan
dengan indah jelek. sesuatu yang estetik berarti memenuhi unsure keindahan
(secaraestetik murni maupun secara sempit, baik dalam bentuk warna ,
garismkata, ataupun nada). budaya yang estetik berarti budaya itu memiliki
unsure keindahan.
apabilai nilai etik bersifatrelativuniversal, dalam arti bisa
diterima banyak orang, namun nilai estetik amat subjektif dan particular.
sesuatu yang indah bagi seseorang belum tentu indah bagi orang lain. misalkan
dua orang memandang sebuah lukisan, orang pertama akan mengakui keindahan yang
terkandung di dalam luksan tersebut, namun bisa jadi orang kedua sama sekali
tidak menemukan keindahan di lukisan tersebut.
oleh karena subjektif, nilai estetik tidak bisa dipaksakan pada
orang lain. kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mengakui keindahan sebuah
lukisan sebagaimana pandangan kita, nilai-nilai estetik lebih bersifat
perasaan, bukan pernyataan.
budaya sebagai hasil karya mausia sesungguhnya diupayakan untuk
memenuhi unsure keindahan. manusia sendiri memang suka akan keindahan.
disinilah manusia berusaha berestetika dalam berbudaya. semua budaya pastilah
dipandang memiliki nilai-nilai estetik bagi masyarakat pendukung budaya
tersebut. hal-halyang indah dan kesukaannya pada keindahan diwujudkan dengan
menciptakan aneka ragam budaya.
namun sekali lagi, bahwa suatu produk budaya yang di pandang indah
oleh masyarakat pemiliknya belum tentu indah bagi masyarakat budaya lain.
contohnya, budaya suku-suku bangsa di Indonesia. tarian suatu suku berikut
penari mungkin dilihat tidak ada nilai estetikanya, bahkan dipandang aneh oleh
warga dari suku lain, demikian pula sebaliknya.
oleh karena itu, estetika berbudaya tidak semata-mata dalam
berbudaya harus memenuhi nilai-nilai keindahan. lebih dari itu estetika
berbudaya menyiratkan perlunya manusia untuk menghargai keindahan budayayang
dihasilkan oleh manusia lainnya.keindahan adalah subjektif. tetapi kita akan
dapat melepas subjektivitas kita untuk melihat adanya estetik.
5. BIMBINGAN SOSIAL
TERHADAP KEKUATAN PSIKISNYA
Menurut
pandangan aliran psikoanalisa kesenian, kesusasteraan, dan 9segala jenis
idealisme sosial dan politik muncul dari kenyataan bahwa kekuatan psikis yang
dapat ditanamkan di dalam obyek-obyek yang secara sosial dapat diterima,
memberiknnya suatu nilai yang tegas dan pasti. Masalah besar
yang dihadapi sosiologi dewasa ini ialah menemukan cara-cara untuk
mempergunakan kekuatan psikis ini sehingga bermanfaat secara kemasyarakatan.
Telah
kita pahami bahwa idealisasi dan sublimasi adalah bentuk-bentuk khusus dari apa
yang kita sebut secara lebih umum dengan ‘pemindahan kekuatan psikis’,
menggunakan kekuatan psikis yang sama dengan yang digunakan dalam kasus neorosa
atau rasionalisasi atau pembentukan reaksi, namun dengan akibat yang sungguh
berbeda. Apakah kekuatan psikis itu ditanamkan di dalam obyek-obyek yang secara
kemasyarakatan dapat diterima, tentu saja tergantung kepada kepribadian
individual, namun demikina mungkin pula tergantung kepada sifat dari bimbingan
kekuatan-kekuatan yang bekerja di dalam masyarakat dimana individu yang
bersangkutan hidup.
Kita
kini hidup dalam suatu periode dimana ide perencanaan sosial tidaak lagi
merupakan konsepsi yang asing sama sekali. Mungkin sekali bimbingan terhadap
kekiatan psikis kita, cepat atau lambat akan dianggap sebagai suatu masalah
sosial yang penting. Bimbingan demikian tentu saja bukan berarti bahwa kita
dapat atau menghendaki untuk mengatur perkembangan individual kita secara
mekanik atau kita harus mencoba meramalkan perkembangan evolusi dari individdu
tertentu. Peramalan evolusi dari individu demikian itu adalah suatu hal yang
tak mungkin dan tak perlu; namun ada kemungkinan bahwa faktor-faktor umum
cenderung membentuk perilaku manusia dan kondisi pemanfaatan kekuatan psikis
yang berlebih-lebihan mungkin ditampung dan dibimbing karena mempengaruhi
kebanyakan orang kearah tingkat tertentu dan kedalam aturan tertentu. Dalam hal
ini orang harus membedakan dua hal. Pertama, kondisi individual tertentu dalam
keadaan sebelum ditentukan, yakni sebelum mendapatkan bantuan dari institusi
tertentu yang menghasilkan tipe khusus individu. Sekiranya ada orang yang
mempercayai terbentuknya kepribadian individu menurut cara ini, maka orang itu
tentu berasumsi bahwa perkembangan masyarakat secara berangsur-angsur dapat
diramalkan, dan merupakan suatu yang tak dapat dielakkan. Tetapi ini sama
sekali bukan pendirian kita. Kita berasumsi bahwa kondisi tertentulah yang
menyebabkan timbulnya beberapa pengaruh dengan derajat kemungkinan statistik
tertentu. Namun kebebasan berkembang diluar tipe itu adalah sesuatu yang
esensial terhadap perkembangan yang lebih banyak bersifat tentatif dan yang
mudah disesuaikan ini.
Bimbingan
terhadap kekuatan psikis dan emosional dalam masyarakat yang lebih sederhana,
pertama terdiri dari penyesuaian kekuatan aktif menurut kebutuhan masyarakat
yang lebih sederhana seperti yang lahir dari proses pembagian kerja dalam
masyarakat, dan kedua dalaam menyelaraskan kekuatan yang berlebihan dengan
merangsang pertumbuhan pola sublimasi dengan mempengaruhi aktivitas yang
menyenangkan dan sebagainya. Kita harus mempelajari dengan sangat hati-hati
bagaimana proses sublimasi dan pemindahan kekuatan psikis dan emosional itu
mendapatkan bimbingannya dalam masyarakat yang lebih kuno.
6. PENETAPAN OBYEK DAN
PEMINDAHAN LIBIDO
Kemungkinan
untuk membimbing kekuatan emosionla disediakan oleh kenyataan fundamental bahwa
emosi manusia tidak seluruhnya ditentukan pada waktu lahir kepada obyek
tertentu, dan malahan sering kali situasi sosial yang menghubungkannya dengan
obyek-obyek tertentu. Sekali emosi dihubungkan dengan suatu obyek tertentu,
maka kita berbicara tentang ‘penentuan obyek’ atau disebut juga kathexis.
Penetapatn obyek seperti itu misalnya kecintaan anak terhadap orang tuanya dan
sebaliknya, kecintaan anak terhadap saudara-saudaranya, kecintaan murid
terhadap gurunya san sebaliknya, kecintaan anak terhadap teman sepermainannya
dan sebagainya. Disamping itu, dapat pula mencakup kecintaan terhadap rumah
atau kecintaan terhadap kegiatan-kegiatan seperti terhadap pekerjaan dan
terhadap simbol-simbol keagamaan atau politik, atau kepercayaan. Sekali
penetapan obyek telah terjadi maka ikatannya menjadi terkunci dengan era, namun
demikian dalam hal ini masih terdapat kemungkinan pergeseran libido dari satu
obyek ke obyek yang lain.
Seperti
terjadi dalam proses evolusi kehidupan anak-anak dimana terdapat model umum
peniruan, yang dimulai dari orang yang paling dekat hubungannya dengan si anak,
kemudian mengarah kepada orang yang lebih jauh hubungannya dengannya, dan dari
contoh-contoh yang lebih konkrit menuju kepada yang lebih abstrak, demikian
pula proses pemindahan emosi itu terjadi, dimulai dari ibunya dan anggota
keluarganya yang lain menjurus kepada anggota komunitas diluar anggota
keluarganya, dan akhirnya terhadap ide-ide abstra komunitas itu sendiri.
Selanjutnya karena situasi dasar pada setiap jenis kemampuan sosialisasi
manusia ditemukan kenyataan bahwa anak manusia lebih tergantung dibandingkan
dengan anak binatang, dengan demikian maka nasib libido ditentukan oleh situasi
fundamental yang sama. Selama periode menyusu dan pemeliharaan yang intensif,
anak manusia mengembangkan perasaan ketergantungan terhadap orang lain yang
mendorong kearah pengembangan kecenderungan yang bersifat libido dan
kecenderungan emosional demikian itu disatukan dan diaraahkan kepada seseorang,
yang biasanya adalah ibunya. Karena penetapan obyek emosional yang mula-mula
terjadi selama masa bayi, maka pola keluarga yang mula-mula itu sangat penting
bagi individu dalam membantu menciptakan sikap-sikapnya yang mendasar. Lasswell
menekankan pada kenyataan bahwa pemikiran orang dewasa hanyalah sebagian saja
yang benar2benar diperolehnya dalam masa dewasanya, dan karena itu obyek dan
model-model yang diperkenalkan semasa bayinya mempengaruhi perilaku orang dewasa
dalam situasi sosial. Kita sering melihat pertumbuhan tingkah laku anak-anak
mencerminkan sikap ibunya. Perasaan gelisah, pola kepercayaan tahyul dan tabu
dari seseorang mungkin sekali berasal dari sikap orangtuanya, dan terus
berpengaruh setelah anak itu menjadi dewasa. Karena itu setiap keluarga yang
memperlihatkan pola sikap dan pola perilaku tertentu, besar kemungkinan berasal
dari lingkungan eluarga si ayah dan si ibunya sendiri. Kenyataan ini sebagian
menerangkan kelambatan perkembangan masyarakat sekalipun dalam periode dinamis
atau periode revolusioner. Kelambatan perkembangan ini bukan karena kenyataan
bahwa individu tidak dapat diubah, melainkan karena kenyataan bahwa unit
pembentuk kepribadian yang fundamental yakni keluarga, telah bekerja dalam
waktu yang lama dan dengan cara yang sama, sekalipun lingkungan sosialnya telah
berubah. Bukan warisan biologis dan warisan mental yang menjadi alasan kenapa
pola mental tertentu direproduksi dari satu generasi ke generasi berikutnya
tetapi adalah kenyataaan bahwa perubahan-perubahan dalam kehidupan publik hanya
merembes dengan sangat lambat ke dalam kehidupan keluarga.
Seorang
anak, sekali ia telah dibentuk oleh keluarganya, hanya dapat dengan secara
bertahap mengubah pola utama sikap dan perilakunya itu. Namun demikian,
terdapat suatu periode dalam perkembangan anak-anak ketika pemindahan bagian
penting penetapan libido terjadi. Inilah yang dikenal sebagai periode pubertas
atau periode remaja. Fase pertumbuhan biologis ini bertepatan dengan kontak-kontak
sosial baru dan kebutuhan-kebutuhan sosial yang baru pula. Suatu konflik
peranan dapat terjadi, dan pada umumnya jika tak terselesaikan dengan baik,
pemindahan fiksasi emosional dapat terjadi. Terdapat suatu masalah remaja di
dalam masyarakat kita (Barat) dimana aspirasi kalangan remaja yang menuntut
adanya kebebasan dan desakan para orangtua terhadap keterikatan, bertentangan
satu sama lain. Menarik sekali bahwa masyarakat primitif mempunyai perencanaan
dan menginstitusionalisasikan fase transisi ini di dalam adat-istiadatnya yang
dihubungkan dengan upacara pelantikan atau pembayaran paraa remajanya menjadi
orang dewasa yang dikenal dengan istilah ‘initiation rites’.
Dalam
suatu simposium yang membahas penelitian sosiologi tentang masalah remaja,
Margaret Mead, E.B. Reuter, dan R.G. Foster mengemukakan aspek-aspek yang
berbeda dari masalah ini. Menurut Reuter, keremajaan tidak harus di definisikan
dalam pengertian kematangan anak secara psikis. Jika kita menganalisanya
sebagai suatu pengalaman sosial, maka keremajaan bermula ketika masyarakat
tidak lagi memandang seseorang sebagai anak kecil tetapi menilainya telah
mengambil alih beberapa tanggung jawab orang dewasa. Sedangkan usia pengambil
alihan tanggung jawab itu terjadi, tergantung kepada faktor-faktor sosial,
bukan kepada faktor biologis. Kelompok keagamaan menyerahkan tanggung jawab
orang dewasa kepada anak-anak yang berusia antara 12-14 tahun. Dengan demikian,
kelompok keagamaan itu mengesahkan anak-anak dalam usia tersebut sebagai orang
dewasa. Di Inggris, usia dewasa dalam soal seksual adalah 16 tahun; usia untuk
diizinkan minum alkohol 18 tahun. Masyarakat modern cenderung menetapkan suatu
periode transisi yang panjang antara masa kanak-kanak dan masa dewasa,
sementara itu anak remaja biasanya menganggap dirinya sendiri sebagai orang
dewasa, dan mendesak dengan satu dan lain cara bahwa keluarga serta masyarakat
tidak perlu lagi memperlakukan mereka sebagai anak kecil.
Secara
biologis keremajaan adalah suatu tingkat perkembngan sosial dan suatu keadaan
mental atau keadaan berpikir tertentu. Keremajaan melambangkan suatu periode
lanjutan dari sikap yang tidak terpengaruh seorang pemuda dari pengendalian
keluarga. Ini adalah suatu tanda ketergantungan terhadap kelompok umurnya
sebelum ia mencapai kebebasan secara individual dalam membuat
keputusan-keputusan yang menandai status kedewasaan penuh. Banyak orang dewasa
secara psikologis, yang sebenarnya tak pernah melebihi sikap dan perasaan orang
yang kita sebut remaja.
Sebagian
besar tergantung kepada jenis pola perilaku dan sikap yang ditawarkan kepada
pemuda dalam fase kritis dari pertumbuhannya. Jika suatu masyarakat dapa
menentukan apa yang setepatnya dilakukan dalam merencanakan pengaruh yang
penting, dan dapat secara meyakinkan mempengaruhi kedua fase fundamental, dari
perkembangan manusia- yakni fase anak-anak dan fase pubertas- sekalipun
perbedaan secara individual masih akan timbul tetapi suatu bimbingan yang lebih
besar terhadap masyarakat akan dimungkinkan. Memang setelah fase pubertas
itupun kita tak henti-hentinya mengubah sikap kita. Namun dasar kebersamaannya
yang berasal dari lingkungan keluarga akaan lebih besar peranannya. Saya yakin
bahwa kita berada diambang pintu suatu situasi masyarakat dimana akan
memerlukan bimbingan yang lebih besar lagi.
Dalam
tingkat poerkembangan sosial yang lebih kemudian, transformasi terus-menerus
dan pemindahan libido diperlihatkan oleh kenyataan bahwa masyarakat yang
revolusioner ditandai oleh banyak kelonggaran dari libido yang sebelumnya telah
dikukuhkan. Ketegangan besar dalam masyarakat seperti itu lahir dari kenyataan
bahwa disana terfdapat sejumlah kekuatan libido yang muncul tanpa suatu
pengukuhan sedang mencari integrasi baru. Dalam masyarakaty tradisional yang
konservatif, kekuatan emosional dikukuhkan dan dipelihara berdasrkan ata
keluarga, pertemanan, keanggotaan kelompok tradisional darimana seseorang
dilahirkan, atas dasar cita-cita yang dihargai dalam kelompok tersebut, dan
dalam beberapa kasus tertentu mendorong individu untuk mencoba melahirkannya di
dalam skala sosial tertentu. Pada waktu bersamaan, nilai emosional dari ide-ide
keagamaan, adat-istiadat dan sopan santun tradisional masih sangat kuat.
Tetapi
sekali terjadi pergeseran umum dalam struktur masyarakat, maka banyak orang
yang melepaskan cita-cita sosial dan politik, cita-cita keagamaan, kebiasaan
rekreasi dan ambisi pribadi yang tertanam di dalam perasaan mereka
masing-masing. Sebagai akibatnya, terdapat sejumlah kekuatan psikis yang
terlantar yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan baru.
Penciptaan
agama baru yang hanya dimungkinkan dalam situasi dimana suatu generasi baru
telah melepaskan ikatan emosionalnya yang lama dan jika kelompok pemimpinnya menyadari
bahwa mereka harus menciptakan fiksasi perasaan bersama yang baru yang dapat
dipertalikan dengan loyalitas menuju tatanan sosial baru. Fiksasi libido dalam
periode revolusi atau dalam masa-masa reformasi sosial biasanya dihasilkan oleh
proses demikian itu.
Makna
sosiologis dari pemindahan libido ini harus diakui sangat penting karena sama
caranya dengan pemindahan motif-motif individual dari obyek keluarga kepada
obyek publik yang merupakan bentuk normal dari perkembangan individual. Dengan
demikian, perasaan-perasaan kebanggaan dari kesetiaan yang dirasakan sseseorang
anak terhadap orangtuanya kemudian dapat dialihkan kepada tokoh pemimpin rakyat
atau kepada tanah air. Sebaliknya rasa kebencian terhadap seorang atau terhadap
kedua orangtuanya sebelumnya, mungkin kemudian dapat dibelokkan kearah
penentangan terhadapa kekuasaan raja, kelas kapitalis, atau terhadap penguasa
lain. Seperti dikemukakan Lasswell, seorang dewasa yang merasa bahwa ia tidak
dapat lagi mencintai ‘umat manusia ‘ ini. Ia tak dapat mencintai Tuhan namun ia
dapat mencintai bangsanya. Atau ia mungkin merasa tak mampu mencintai tanah
airnya dan malahan menjadikan kelasnya atau partainya sebagai obyek kecintaan
dan pemujaan.
Persoalan
yang timbul disini ialah apakah dan seberapa jauh psikologi bermanfaat dalam
analisa politik. Menurut saya analisa politik tanpa bantuan psikologi sendiri
sebenarnya tidak mencukupi karena ia mengandung keterbatasan yang sangat
penting. Psikologi cenderung memotong faktor-faktor sosial seperti perkembangan
institusi dan mengabaikan pengaruh tekanan ekonomi dan kebutuhan-kebutuhan
serta pengaruh yang timbul dari strategi dan faktor-faktor militer yang
diperlihatkan dalam suatu masyarakat.
7. SOSIOLOGI TENTANG
TIPE PERILAKU
i. Sikap dan Keinginan.
Sedemikian
jauh telah dibicarakan tentang proses yang paling mendasar yang menyatukan,
melarutkan, menyatukan kembali, menetapkan, dan memindahkan kekuatan psikis
yang bersifat libido.
Perkembangan
ini termasuk ke dalam bahasan sosiologi umum (sistematika sosiologi) karena
setiap masyarakat baik yang paling primitif maupun yang paling maju atau yang
paling rumit susunannya didasarkan atas mekanisme ini. Sebaliknya
sosiologi historis mempelajari bentuk-bentuk yang lebih individual
dari penetapan dan pemindahan libido seperti: sifat dari perasaan kekeluargaan
dalam periode historis tertentu atau tentang perasaan konsep kasih-sayang dalam
periode kekesatriaan atau tentang perasaan nasionalisme diantara
kelompok-kelompok sosial yang terdapat didalam suatu negara seperti Jerman
misalnya atau tentang sejarah pemindahan libido di dalam kehidupan kelompok
yang berbeda.
Diantara
kedua tingkat sosiologi ini, yakni antara sistematika sosiologidan sosiologi
historis, terdapat suatu tingkat perantara. Dalam tingkat perantara ini kita
mempelajari tipe-tipe umum tertentu dengan cukup nyata menandai keseluruhan
tipe mental dan yang mungkin kita untuk menerapkan pernyataan umum di dalam
lingkungan historis yang lebih konkrit. Contoh analisa seperti itu,
disumbangkan oleh W.I. Thomas seorang sosiolog dan ahli psikologi sosial
Amerika yang menyusun tipe-tipe kelompok dan menyebutnya dengan’empat
keinginan’. Thomas mengakui bahwa jika kita mencoba menganalisa sekelompok
orang tertentu dan kita ingin menguraikan tidak hanya sekedar aktivitas mereka
dan penyesuaian tujuan bersama mereka, tetapi juga perubahan kehidupan batin,
(inner life) mereke, sikap, keinginan dan perasaan mereka, maka kita
membutuhkan suatu klasifikasi mana sebagian besar orang dapat disesuaikan. Ini
berarti bahwa klasifikasi itu dapat menampung secara utuh satu tipe – yang mana
ini jarang terjadi- atau klasifikasi itu menggambarkan suatu campuran dari dua
atau lebih tipe-tipe. Thomas mengakui bahwa keinginan-keinginan manusia
mempunyai perbedaan bentuk yang sangat besar tetapi menurutnya pula, keinginan
yang berbeda-beda itu dapat di klasifikasikan menjadi empat tipe dengan
beberapa keuntungan. Masing-masing tipe adalah sebagai berikut:
Ø Keinginan untuk memperoleh pengalaman baru
Ø Keinginan untuk memperoleh keamanan
Ø Keinginan untuk memperoleh tanggapan
Ø Keinginan untuk memperoleh penghargaan.
Thomas mengira dan saya
pun sependapat bahwa kompleks sikap berasal dari kecenderungan mendasar,
rangsangan atau apa yang disebut dengan naluriah. Thomas mencoba meredusir
keempat tipe keinginan tersebut menjadi pola sikap yang paling mendasar yang
telah dapat ditemukan pada kehidupan bayi dan pada tingkat primitif dari
evolusi sosial. Kiranya ada baiknya direkapitulasi di sini, baik uraiannya
tentang keinginan-keinginan fundamental maupun upayanya dalam meredusir
keinginan-keinginan manusia itu menjadi keinginan yang lebih sederhana.
Ø Keinginan Untuk Memperoleh Pengalaman Baru
Seluruh pengalaman yang
lazim dikejar seperti terbang, menangkap, meloloskan diri dari pengejaran atau
dari kematian adalah pengalaman yang menarik dan mengasyikkan. Thomas
membicarakan tentang pengalaman disini yang menandai kehidupan manusia yang
lebih kuno. Ada suatu informasi yamg lambat dari pola yang asli dan sederhana
ke pola yang disublimasikan secara lengkap dan ruwet. Sekarangpun kita masih
dapat mengenal sesuatu yang disebut: ‘pola pemburuan ‘kepentingan’. Petualangan
merupakan perubahan utama dari pola ini. Sensasi yang diberitaakan di dalam
koran merupakan jenis lain dari transformasi itu. Kegiatan individual seperti
yang diberitakan dikoran itu dan pengalaman seperti ketika bercumbu-cumbuan
juga merupakan suatu elemen yang dikejar. Dalaam setiap penemuan ilmiah yang
murni juga terdapat pola pemburuan terhadap pekerjaan dan praktek yang sama
juga terjadi dalam penyelesaian teka-teki atau suatu masalah.
Ø Keinginan Untuk Memperoleh Keamanan
Keinginan ini terutama
didasarkan atas rasa takut yang bergandengan dengan kemungkinan timbulnya
penderitaan pisik atau kematian, daan mengekspresikan dirinya sendiri dalam
perasaan takut dan melarikan diri. Individu yang mendominasi oleh keinginan
untuk memperoleh keamanan biasanya sangat berhati-hati dan konservatif,
cenderung kepada kebiasaan yaang teratur, bekerja secara sistematis dan suka
mengumpulkan kekayaan. Polaritas sosial antara pemberontakan dan orang yang
tradisional berkaitan erat dengan ke dua tipe pertama keinginan tersebut
diatas.
Ø Keingin Untuk Memperoleh Tanggapan
Keinginan ini di
kembangkan dari kecenderungan untuk mencintai, mencari dan memberi tanda-tanda
apresiasi. Kecenderungan ini terlihat dalam kesayangan seorang ibu terhadap
anaknya dan dalam tanggapan seorang anak terhadap kasih-sayang ibunya. Namun
keinginan ini juga bekerja pada derajat yang lain dalam keinginan untuk
mendapatkan tanggapan dari lawan jenis. Masa bercumbu-cumbuan yang penuh gairah
misalnya penuh dengan janji-janji muluk dan daya tarik demi untuk mendapatkan
tanggapan yang serupa itu pula kembali. Kecemburuan adalah suatu ekspresi dari
rasa takut, dalam hal mana tanggapan ditujukan kepada orang lain. Tetapi
sukse-sukses kemasyarakatan sering mengurangi keinginan untuk memenuhi
tanggapan secara personal.
Ø Keinginan Untuk Memperoleh Penghargaan
Keinginan ini
diekspresikan dalam perjuangan perseorangan untuk memperoleh posisi atau
pengaruh dan prestisedalam kelompok sosial mereka sendiri. Ini kita namakan
keinginan untuk memperoleh status sosial. Contoh nyatanya ditemuukan dalam
kasus politisi atau kapten industri yang berjuang untuk memperoleh sukses.
Seorang laki-laki atau wanita, mungkin memancing tanggapan dan memperoleh
perhatian atau penghargaan melalui tindakan berpura-pura sakit. Sedangkan orang
lainnya mungkin memperoleh penghargaan dengan menampilkan sikap dan tindakan
yang berpura-pura atau dengan kerendahan hati yang sungguh-sungguh, dengan
mengorbankan kepentingan dirinya sendiri, dengan kesholehan dan dengan mati
syahid. Tendensi serupa itu mungkin bermanfaat secara kemasyarakatan dalam satu
hal tertentu dan berbahaya dalam hal yang lain. Motif-motif yang berkaitan
dengan suatu daya tarik untuk memperoleh pengahargaan melalui sikap yang
mementingkan diri sendiri dan kesukaan memamerkan disebut: sombongsedangkan
aktivitas kreatif yang berkaitan dengan keinginan yang serupa disebut: ambisi.
Kita
boleh menggeser dari satu kategori ke kategori yang lain dan menemukan obyek
baru untuk kategori yang sama. Terakhir, keinginan-keinginan yang berbeda
mungkin dapat di gabungkan ke dalam kepribadian seorang individu.
Seorang
imigran ke Amerika misalnya mungkin sekali ingin melihat dunia baru, untuk
mencari keuntungan, untuk mencari taraf hidup yang tinggi atau untuk memenuhi
sejumlah keinginan yang lain yang tercakup dalam keempat tipe keinginan
tersebut diatas.
Wataak
dapat dipandang sebagai suatu ekspresi dari kesatuan keinginan-keinginan dasar
yang dihasilkan dari saling pengaruh-mempengaruhi antara temperamen dan
pengalaman. Keinginan adalah titik tolak dari aktivitas dan tekanan-tekanan
terhadapnya dpat mempengaruhi perilaku manusia.
ii. Kepentingan
Sedemikian
jauh kita telah menganggap penting unsur-unsur yang tidak disadari dan yang
irrasional dari kehidupan manusia. Meskipun kehidupan sosial tanpa terelakkan
dibimbing sedemikian luasnya oleh faktor-faktor ketidaaksadaran dan emosi,
namun adalah suatu kekeliruan besar bila diabaikan peranan yang dimainkan oleh
kepentingan rasional.
Kita
akan membedakan dua ide tentang ‘kepentingan’. Pertama, kepentingan dalam arti
luas. Contohnya seperti: yang berkepentingan atau berminat terhadap rakyat,
terhadap kesenian, atau terhadap filsafat. Kepentingan demikian ini adalah
murni dalam pengertian psikologi. Kedua, di sebut kepentingan rasional.
Kepentingan
dalam arti luas adalah pasangan dari sikap. Menurut MacIver, sikap adalah
keadaan berpikir secara subyektif, mencakup kecenderungan bertindak menurut
cara-cara yang khas, kapan saja suatu stimuli timbul. Sikap seperti itu
misalnya sikap cemburu, iri-hati, benci, jijik, pemujaan, keyakinan atau
ketidakyakinan. Seluruh sikap secara tak langsung menyatakan obyek tertentu, ke
arah mana sikap itu di tujukan, tetapi obyek ini menyatakan keadaan pikiran,
bukan obyek seperti yang ditunjukkan dengan istilah ‘sikap’/
Sebaliknya,
jika kita mengalihkan perhatian kita dari subyek kepada obyek, maka kita akan
berbicara tentang obyek dari kepentingan. Seorang politisi misalnya, adalah
obyek kepentingan dari banyak orang walaupun sikap orang itu terhadapnya
mungkin sangat berbeda-beda.
Kita
dapat memulai dengan mengingat suatu obyek kepentingan dari sudut pandangan
elemen subyektif. Sekali kepentingan saya dipusatkan kepada obyek itu maka
hubungan obyektif antara obyek itu dengan saya mejadi semakin penting. Dalam
arti luas ini kita dapat membicarakan tentang kepentingan terhadap obyek
kultural seperti terhadap filsafat. Dalam hal ini kepentingan berarti suatu
obyek yang mendapatkan perhatian kita.
Dari
kepentingan dalam arti ‘saya berminat terhadap sesuatu’, maka kita harus
membedakannya dari kepentingan yang mempunyai implikasi khusus terhadap
keuntungan personal yang kadang-kadang kita sebut ‘kepentingan sendiri’.
Sebagai contohnya, saya mungkin menginginkan untuk mencapai sejumlah terbesar
kemungkinan dalam bidang kekuasaan, prestise atau keuntungan ekonomi. Keinginan
utama untuk memperoleh keuntungan, mendorong saya untuk melakukan kegiatan. Ini
berarti bahwa kepentingan memaksa saya untuk mengorganisir tingakah laku saya
untuk mencapai tujuan tertentu dan dalam hal ini kita berbicara tentang makna
kedua dari kepentingan yang kita bicarakan, yakni kepentingan rasional.
Kepentingan rasional ini secara tak langsung enyatakan adanya perhitungan dan
perjuangan untuk mencapai tujuan tertentu itu, dan bentuk-bentuk yang kompleks
dari penyesuaian diri, karena perhitungan secara tak langsung berarti memilih
cara-cara yang paling efektif dan jalan yang paling singkat untuk mencapai
tujuan itu serta dengan upaya ekonomi yang paling besar. Ini secara tak
langsung menyatakan pula adanya suatu kontrol positif terhadap sumber daya dan
dana yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu; kontrol positif terhadap
pemilihan alat-alat dan cara-cara untuk memuaskan keinginan-keinginan dan melatih
kekuatan berpikir terutama inisiatif serta mencerminkan kebutuhan terhadap
kehati-hatian dan kebijaksanaan melihat jauh ke depan.
Sebagai
contoh, sementara kelompok berdasarkan atas hubungan darah (keluarga atau suku)
maka individu demikian kuatnya dibatasi oleh keluarganya atau oleh sukunya
sehingga individu itu tak mampu membebaskan diri dari peraturan bersama dan
tabu. Dalam kasus ini individu tak dapat mengarahkan aktivitasnya menurut
kepentingan dirinya sendiri, tetapi menurut interpretasi kelompok terhadap
situasi, kecuali jika individu itu mencapai kepentingan persoalannya didalam
kerangka kepentingan kelompoknya itu. Tradisi sangat menetukan dala situasi
seperti itu, sebagai mana ditunjukkan oleh Malinowski dalam penelitiannya terhadap
kehidupan ekonomi penduduk di Kepulauan Koral, dimana harga tidak mengikuti
hukum permintaan dan penawaran, melainkan menurut tradisi.
Jika
saya sedang berjuang untuk mencapai sesuatu yang baik, dimana orang lain juga
ingin mencapainya, masing-masing untuk dirinya sendiri, maka kita berbicara
tentang kepentingan yang sama (like interest). Jika dua orang
atau lebih mengejar suatu tujuan yang mana masing-masing orang tetap merupakan
unit-unit dari kesemuanya dan mereka menyadari sebagai suatu keseluruhan, maka
kita berbicara tentang kepentingan bersama (commo interest).
Kepentingan yang sama mendorong terjadinya kompetisi untuk mendapatkan barang
sesuatu yang sama, sedangkan kepentingan bersama mendorong terciptanya
kerjasama. Satu masalah terpenting dalam menciptakan keharmonisan masyarakat
ialah bagaimana mengubah kepentingan yang sama menjadi kepentingan bersama,
bagaimana mengubah kompetisi menjadi kooperasi atau kerjasama. Masalah ini
menyangkut bimbingan terhadap pemindahan libido.
Perbedaan
penting lainnya ialah antara kepentingan jangka panjang dan jangka pendek. Jika
seseorang mempunyai kebiasaan mengubah-ubah keinginan dan keppentingan maka ia
takkan mampu mengorganisir perilakunya sejalan dengan tujuan jangka panjang.
Contoh perilaku serupa itu ditunjukkan oleh kemanjaan seorang anak yang selalu
menuntut dan menerima pemenuhan keinginannya dalam waktu singkat atau seseorang
pengembara yang tidak mempunyai tujuan yang jelas dalam hidupnya. Satu syarat
terpenting untuk pertumbuhan aktivitas yang terorganisir dan syarat terpenting
untuk semua epentingan-kepentingan jangka panjang, dan kekayaan pribadi telah
menjadi kekuatan yang sangat berarti sepanjang sejarah dalam menciptakan
kepentingan jangka panjang bagi individu. Setiap sistem produksi yang kompleks
atau organisasi sosial yang kompleks, memerlukan aktivitas jangka panjang dan
bagi kelompok pemimpin aktivitas itu kebanyakan diciptakan melaui kekayaan
pribadi. Tetapi aktivitas jangka panjang itu juga dapat diciptakan dengan
mengorganisir kepentingan bersama yang didasarkan atas kesadaran terhadap
kekayaan bersama atau dengan mengutamakan hasil usaha bersama yang terbesar.
Contohnya dapat ditemukan dalam sikap kesetiaan terhadap hukum atau terhadap
cita-cita ideal di Inggris yang terlihat di kalangan tentara, olahragawan,
pegawai pemerintah, dan juga terlihat di Uni Soviet dalam kesuksesan apa yang
disebut ‘kompetisi sosialis’. Pemaksaan mendatangkan akibat-akibat buruk, dan
perbudakan adalah paling menyedihkan. Kekayaan pribadi dan usaha yang
didasarkan atas intensif berupa penghargaan atau keuntungan, memberikan hasil
yang jauh lebih baik.
Kekayaan
pribadi, menekankan kepada perhitungan jangka panjang dan pada
gilirannya mengorganisir perilku individu. Wujud yang tepat dari kepentingan
dan pengorganisasian perilaku, berbeda-beda menurut jenis kekayaan
yang dimiliki. Kepentingan terhadap tanah sebagai contoh, menciptakan fiksasi
libido yang jauh lebih besar terhadap obyek yang konkrit dibandingkan dengan
kepentingan terhadap uang yang menciptakan suatu tipe abstrak fiksasi libido.
Kepentingan terhadap tanah sebaliknya mendorong munculnya perasaan kemengangan
hidup dari kesuburan tanah melalui perjuangan pribadi dan melalui pemahaman
terhadap bumi dan penduduk yang mengolahnya.
Penciptaan
perilaku yang tidak disenangi dalam masyarakat adalah masalah yang amat penting
yang akan merepotkan kita terus-menerus. Ini dirangsang oleh kenyataan bahwa
terdapat suatu mata rantai yang panjang yang menghubungkan antara langkah
pertama dan yang terakhir dari aktivitas kita. Orang yang termasuk anggota
partai sosialis misalnya, mungkin tidak pernah mempunyai kesempaatan untuk
melihat atau memahami tujuan-tujuan dari gerakan yang mana ia
termasuk salah seoraang diantara yang ingin mencapainya selama hayatnya. Dengan
demikian bukan hanya kekayaan pribadi, tetapi setiap jenis kerjasama dan
pembagian kerja meningkatkan kesempatan bagi perilaku yang abstrak,
mengembangkan kapasitas untuk memperpanjang ketegaangan antara keinginan-keinginan
dan pemenuhannya.
Integrasi
sosial dari keinginan dan sikap sangat besar perbedaannya daripada
pengintegrasian kepentingan. Pengintegrasian kepentingan itu sebgaian besar
terbentuk melalui kompromi, yang berarti bahwa orang yang mempunyai kepentingan
yang serupa misalnya yang berkompetisi untuk mendapatkan suatu keuntungan,
melepaskan sebagian dari keuntungan mereka atas dasar persetujuan rasional.
Keseluruhan pertukaran secara barter dilakukan dalam suatu penolakan terhadap keuntungan
yang diharaapkan dalam setiap jenis perserikatan adalah merupakan hasil dari
pengintegrasian kepentingan.
Pengintegrasian
sikap sebaliknya terbentuk atas dasar identifikasi secara langsung. Ini berarti
bahwa kita mengidentifikasikan diri kita sendiri dengan anggota lainnya dari
komunitas dan juga antara komunitas yang satu dengan yang lain. Masyarakat
modern membentuk kepentingan jangka panjang, cenderung menekan elemen libido
dari bidang kegiatan publik dan dari pekerjaan, dan ini mungkin merupakan suatu
handikap yang serius dalam aktivitas sosial tertentu dan dalam situasi sosial
tertentu.
BAGIAN KEDUA
PROSES-PROSES SOSIAL YANG PALING MENDASAR
BAB III
KONTAK SOSIAL DAN JARAK SOSIAL
Kini
kita tidak lagi membicarakan perlengkapan psikologis dari kehidupan individual
tetapi memusatkan perhatian terhadap proses-proses sosial yang mendasar, yyang
serta merta mempegaruhi perkembangannya. Di sini hanya akan dibahas sedikit
saja dari proses sosial yang mendasar itu, namun demikian pentingnya sehingga
tak ada kehidupan individual dan kehidupan sosial yaang dapat dijelaskan dengan
sempurna tanpa pengetahuan yang mendasar itu. Proses yang dimaksud, sebagai
contohnya ialah kontak sosial, dan isolasi sosial.
Sosiolog
yang hanya lebih mengutamakan mempelajari fenomena yang disebut ‘masyarakat
luas’ (Great Society) seperti mobilitas sosial, stratifikasi sosial, dan
pranata sosial, tanpa mwnghubungkan studinya dengan penyelidikan yang cermat
terhadap proses sosial yang mendasar ini kemungkinan besar belum dapat
menampilkan suatu analisa setepatnya bagaimana mestinya.
1. KONTAK PRIMER DAAN KONTAK SEKUNDER
Kita
mesti membedakan dua jenis kontak sosial. Pertama, kontak primer, yakni kontak
yang dikembangkan secara intim dan mendalam berupa pergaulan tatap muka di mana
hubungan secara visual dan perasaan-perasaan yang berhubungan dengan
pendengaran senantiasa digunakan. Kedua, kontak sekunder, yakni kontak yang ditandai
oleh pengaruh keadaan luar dan jarak yang lebih besar. Orang yang secara mental
terbentuk oleh kontak primer, dan oleh ide-ide primer, mengembangkan ciri-ciri
yang berbeda daripada mereka yang di bentuk oleh kontak sekunder. Sekedar
contoh, dapat dibandingkan antara seorang wanita yang fungsi utamanya sebagai
nyonya rumah tangga dan sebagai seorang ibu dengan seorang manajer pabrik atau
dengan seorang politisi. Sudah tentu terdapat hubungan antara ciri-ciri
kepcribadian yang dikembangkan melaui kontak primer dan kontak sekunder.
Keinginan untuk menghargai publik selalu terjadi sebagai pemindahan faktor
psikologis, sekurang-kurangnya sebagian, sebagai pengganti keterbatasan
keintiman dari tanggapan yang dialami ditengah-tengah kehidupan keluarga.
Jelas
kiranya bahwa kawasan tempat berlangsungnya kontak sekunder yang sebenarnya
adalah dalam kehidupan kekotaan. Revolusi industri yang melahirkan kota-kota
dan yang memecah kehidupan sosial seperti kehidupan masyarakat desa menjadi
unit-unit kecil, merupakan faktor yang sangat penting dalam menciptakan
sebagian besar antar hubungan yang bersifat abstrak dan impersonal. Kontak
sekunder, dengan demikian mendorong terciptanya sikap-sikap yang abstrak.
Kontak sekunder ini juga memungkinkan kita untuk membandingkan kepentingan
jangka panjang dan yang penuh perhitungan, karena kecenderungan-kecenderungan
dapat diperkirakan dan disusun, demikian pula sistem kontrol yang baru terhadap
publik dapat diperbuat dan dipergunakan dengan menekankan kepada segi-segi
perbedaan peranan yang dimainkan mereka seperti membedakan mereka selaku
pembayaran pajak atau selaku buruh atau majikan. Situasi hubungan tatap muka,
yang menandai kontak primer, dewasa inipun telah mengalami perubahan.
2. KONTAK BERDASARKAN SIMPATI DAN BERDASARKAN
KATEGORIS
Klasifikasi
lain dari kontak sosial, dapat pula dibuat atas dasar sudut pandangan
psikologis dan sosiologis. Orang yang tidak termasuk ke dalam kelompok kita
sendiri, tidak termasuk ke dalam bidang kontak primer kita. Kita tidak
menganggap mereka sebagai anggota kelompok kita yang sesungguhnya tetapi kita
membuat penggolongan atau kategori terhadap mereka. Ini berarti bahwa kita
mengklasifikasikan mereka dalam pengertian perbedaan derajat simpati atau
antipati terhadap mereka. Di sini kita berhadapan dengan dasar atau asal mula
dari prasangka. Perasaan simpati berhubungan dengan perbedaan kategori dan
kelompok-kelompok menciptakan apa yang dapat kita klasifikasikan misalnya
sebagai: ‘orang negro’, ‘orang Jerma’, ‘orang Yahudi’, ‘orang asing’, ‘orang
luar’, ‘mereka’, dan sebagainya.
Fase
permulaan proses kategori ini terdapat pada jenis primitif dari penyesuaian
diri. Kita mulai dengan menunjukkan atau menentukan kelompok kita sendiri
dengan tanda-tanda yang baik, disebabkan karena kita tidak mampu menghadapi
setiap obyek yang kontak dengan kita, maka kita membedakan dan
memisah-misahkannya. Selanjutnya jika kita pertama kali bertemu dengan seorang
manusia yang belum kita kenal, biasanya kita merasakan suatu perasaan simpati
atau antipati secara tiba-tiba. Ini jelas adalah suatu interpretasi dari
sikap-demikian pula lazimnya dalam dunia binatang-dimana simpati dan antipati
adalah sejenis alat untuk menseleksi pengalaman-pengalaman yang tepat.
Pengertian kita, dalam sebagian besar kasus adalah ditentukan oleh gagasan dan
prasangka yang kita miliki. Dasar alamiah dari prasangka adalah suatu
kecenderungan untuk mencocokkan pengalaman-pengalaman baru ke dalam kategori
yang lama dengan mempergunakan generalisasi yang mula-mula untuk menanggulangi
pengalaman baru itu. Setiap pengalaman yang nyata, didasarkan atas kontak yang
dekat dan langsung atau primer. Pengertian atau pemahaman, adalah suatu
pertarungan antara penyesuaian diri segera terhadap versi baru dari pengalaman
dan kecenderungan terhadap prasangka. Orang yang selalu bergerak secara sosial
dan secara geografis ( mobilitas vertikal dan horizontal), lebih kritis dan
lebih tidak memihak dalam menilai orang lain, dan dengan demikian kurang
berprasangka karena pengalamannya itu di pergunakannya untuk berhubungan dengan
bermaca-macam orang lain. Seperti kita ketahui, orang yang berurat berakar di
satu tempat tertentu saja, lebih tinggi derajat prasangkanya dibandingkan
dengan orang yang banyak bergerak tersebut diatas. Orang yang banyak bergerak
(mobile) dapat lebih mudah beralih dari pengalaman-pengalaman kategori kepada
pengalaman-pengalaman spesifik. Kesan atau impresi penting pertama yang kita
peroleh dari kehidupan kota besar itu bereaksi terhadap kesadaran diri sendiri
dan terhadap penilaian diri sendiri. Kesadaran diri sendiri penduduk kota besar
tidak stabil dan tidak kaku. Sedangkan dalam kehidupan masyarakat desa,
prestise atau gengsi didasarkan atas siapa orang tua kita, dari keluarga mana
kita berasal, daan dimana posisi kita dalam komunitas desa itu. Dalam kehidupan
kota besar, prestise sebagian besar didasarkan atas hasil usaha (achievement)
personal. Sebagai akibatnya penduduk kota besar selalu lebih mengisolasi
dirinya dan penilaian terhadap dirinya sendiri di-internalisasikan.
Akibat
dari kenyataan serupa ialah fleksibelitas, tetapi juga ketidak-stabilan,
ketidak-sungguhan, dan skeptisme yang terdapat dalam watak penduduk kota besar.
Selanjutnya individu yang relatif anonim sifatnya dalam kehidupan kota besar,
memperluas lingkungan kehidupan sehingga memungkinka kita untuk memindahkan
sebagian tanggungjawab kita kepada orang lain atau kepada institusi lain.
Sebagai akibatnya, orang kian lama kian menjadi penonton saja terhadap situasi
yang ada.
Dalam
hubungan persahabatan sejati, unsur penggolong-golongan yang terdapat dalam
kontal personal, tidak muncul. Persahabatan sejati ini didasarkan atas hubungan
simpati yang berarti suatu keinginan untuk mengidentifikasikan kepentingan. Ungkapan
‘kita’ secara tak langsung menyatakan adanya saling mengidentifikasikan diri
masing-masing dan difusi kepribadian. Ungkapan ‘tetangga kita’ dalam pengertian
tertentu, pada dasarnya berarti kita sendiri. Semakin individualis seseorang,
semakin sukar baginya untuk berusaha mengidentifikasikan dirinya dengan orang
lain. Malahan, perasaan yang mendua atau bercabang biasanya muncul
ditengah-tengah pengidentifikasian diri, dan masing-masing cabang perasaan itu
besar perbedaannya. Persahabatan dan perkawinan, adalah dua jenis antara
hubungan yang sedikit banyak berhasil menyalurkan atau menyatukan perasaan yang
bercabang itu.
Tempat
pengalaman yang paling awal dari kesatuan sosial dan identifikasi, terdapat
pada kelompok primer atau kelompok tatap muka seperti keluarga, kelompok teman
sepermainan, hubungan tetangga, klub, masyarakat faternal atau sekolah.
Perasaan cinta, kepahlawanan dan keberanian, begitu juga mabisi, kesombongan
dan dendam kesumat, kesemuanya dibentuk di dalam kelompok primer. Menurut C.H.
Cooley, perasaan cinta kemerdekaan dan keadilan yang merupakan cita-cita
primer yang mendasari ajaran kristen demokrasi dan sosialisme, ketiganya
didasarkan atas ide-ide dari kelompok primer.
Kontak
di dalam dan di luar kehidupan kelompok, telah dianalisa oleh sosiolog seperti
Sumner, Cooley, dan Burgess. Menurut mereka, hubungan simpati internal yang
egotisme kelompok menghasilkan dua standar perasaan yang berbeda. Di satu
pihak, kemauan baik, kerjasama, dan saling percaya di antara sesama anggota
kelompok sendiri. Di lain pihak, perasaan bermusuhan dan kecurigaan
terhadapanggota kelompok lain. Hubungan persaudaraan di kalangan anggota
kelompok sendiri dan perasaan bermusuhan terhadap anggota kelompok lain atau
terhadap ‘out-group’ adalah dua hal yang saling berhubungan. Perlawanan dan
permusuhan yang gawat terhadap orang asing atau terhadap kelompok lain,
memperkuat solidaritas di kalangan sesama anggota kelompok sendiri sehingga
perselisihan yang terjadi di kalangan internal kelompok sendiri, tidak dapat
melemahkan permusuhan itu.
Etnosentrisme
adalah istilah teknis yang dipakai untuk mengungkap sikap serupa itu. Bagi
anggotanya, kelompok sendiri adalah segala-galanya. Setiap kelompok
etnosentrisme memelihara dan mempertahankan rasa harga diri, kesetiaan,
kesombongan, dan perasaan superioritas yang dimilikinya sendiri,
mengagung-agungkan Tuhan-nya sendiri serta memandang dengan perasaan jijikdan
mencela terhadap segala sesuatu yang dimiliki kelompok lain. Kejijikan itu diekspresikan
dengan memakai kata-kata yang menghina, dengan menyebut dan menandai kelompok
lain itu sebagai ‘pemakan babi’, ‘tak bersunat’, pemakan lembu’, daan
sebagainya. Apa yang mendasari penilaian demikian itu, mungkin dapat kita sebut
dengan istilah ‘moralitas kafir’. Atas dasar mengkafirkan kelompok lain
nasionalisme, juga didasarkan atas sikap prasangka dan moralitas kafir demikian
itu.
3. JARAK SOSIAL
Dalam
setiap kontak sosial, secara tak langsung menyatakan suatu jarak sosial. Jarak
sosial itu mungkin berati jarak eksternal atau jarak internal atau jarak
mental. Seluruh jenis dan aneka ragam kehidupan sosial dan kultural tak kan
dapat dijelaskan dengan memadai tanpa mengkategorikan jarak sosial. Tanpa jarak
sosial, takkan ada obyek dan takkan ada kehidupan sosial itu sendiri.
Pengambilan jarak, pada waktu bersamaan adalah salah satu dari pada perilaku
yang penting untuk mempertahankan dan untuk melanjutkan otoritas peradaban
manusia. Demokrasi mengurangi jarak sosial. Prestise-prestise komandan
ketentaraan misalnya sebagian besar adalah persoalan jarak sosial. Secara
harfiah jarak sosial berarti mengubah barang sesuatu menjadi terpencil,
memindahkan suatu obyek yang dekat kepada suatu posisi yang jauh dari titik
semula. Perkataan ‘jarak’ berasal dari pengalaman langsung kita terhadap ruang.
Anehnya ialah bahwa pengalaman mngenai ruang juga menyediakan pola bagi
pengalaman mental. Behawa seseorang berada pada jarak 5 meter dari saya
misalnya, adalah suatu pengalaman tentang ruang; tetapi jika saya mengatakan
bahwa seseorang mempunyai jarak sosial dari saya, maka ini berarti bahwa saya
mempunyai status sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah dari
orang yang bersangkutan. Ada persamaan tertentu antara kedua jenis jarak ini
meskipun keduanya tidaklah identik. Ahli sosiologi berbicara tentang penciptaan
jarak buatan. Lalu apa gerangan yang dimaksudkannya? Jarak mengenai ruang, yang
dapat diukur dengan mudah dalam arti pisik adalah dapat diubah melalui suatu
tindakan dengan sengaja oleh manusia, menjadi barang sesuatu yang dapat disebut
jarak mental. Pengurangan identifikasi termasuk ke dalam penciptaan jarak
mental ini. Bergerak dari tindakan-tindakan yang intim dan simpatik menuju
pengasingan diri tanpa perlu menerapkan tingkah laku yang menggolong-golongkan
atau yang bersifat menyerang.
Baiklah
saya berikan contoh di sini di lapangan yang murni pengalaman yang berhubungan
dengan panca-indera tentang bagaimana proses yang fundamental dari pengambilan
jarak itu dapat di selidiki. Seorang pelaut dalam pelayarannya menuju
pelabuhan, mungkin pertama kali menyenagi pemandangan yang jelas terhadap kota
pelabuhan yang terletak di depannya di kejauhan. Tiba-tiba keseluruhan
penglihatannya berubah menjadi jauh disebabkan karena adanya kabut. Sebenarnya
kota pelabuhan itu tidaak lebih jauh dari pada jarak sebelumnya tetapi kabut
telah menciptakan suatu kepalsuan ilusi, seakan-akan kota pelabuhan itu
sedemikian jauhnya dalam penglihatan pelaut itu. Dalam contoh ini, jarak
bukanlah di ciptakan oleh subyek, melainkan oleh halimum atau kabut.
Keseluruhan jarak mentaal yang akan kita bicarakan berikut ini berasal dari
spontanitas subyek; yang dalam kenyataannya kesemuanya diciptakan oleh subyek.
Evolusi
jarak mental dari jarak ruang dapat ditunjukkan dengan jelas dalam kasus
ketakutan. Kenyataan, jarak yang disebabkan karena rasa takut adalah jarak yang
paling sederhana. Jika saya tetap mempertahankan jarak ruang antara saya dengan
orang lain yang lebih kuat dari saya, maka dalam jarak ruang antara kami ini,
berisi jarak mental dari rasa takut itu. Binatang yang dikurung, dalam situasi
tertentu masing-masing memelihara jarak ruang terhadap yang relatif lebig kuat
secara proporsional. Makin pengecut binatang itu, makin jauh jarak ruang yang
diambilnya terhadap binatang yang ditakutinya.
Schjelderup
Ebbe yang melakukan penyelidikan yang cermat, menyatakan adanya suatu hierarki
yang teratur di kalangan kehidupan sosial binatang seperti di kalangan ayang
betina, ayam jantan, dan anak ayam. Ebbe meneliti kehidupan ayam itu dalam
kelompok yang terdiri atas 2-25 ekor dan kemudian terhadap kelompok yang
terdiri atas 25-100 ekor. Menurutnya hal pertama yang dikemukakannya ialah
bahwa selama mencari makan, selama memakan/makanan di pot makanan atau pergi
bertengger untuk beristirahat atau pergi kesarang , ayam jantan melihatkan
untuk bertelur, ayam jantan memperlihatkan suatu keteraturan yang pasti. Ayam
yang terkuat atau paling jagoan, selalu yang mula-mula sekali datang ke
tempat-tempat tersebut baru kemudian disusul oleh ayam yang lain menurut urutan
tingkat keberaniannya terhaadap sesamanya. Seluruh tempat tersebut selalu
diambil oleh ayam yang terkuat itu lebih dulu. Persoalan yang timbul ialah:
bagaimana aturan itu dibentuk.? Penelitian menunjukkan bahwa aturan itu
dibentuk melaui pertarungan antara sesamanya. Jika dua anak ayam bertemu maka
pertama kali yang dilakukannya adalah membuat tingkatan sosial diantara mereka
melalui pertarungan. Anak ayam yang lari pertama kali, akan menjadi taklukan
untuk selama-lamanya. Dengan demikian, suatu urutan lengkap dapat disusun
menurut hasil pertarungan itu dan terlihat pula bahwa hierarki ini
dipertahankan dengan keras oleh ayam itu. Penelitian ini juga menemukan bahwa
tingkatan yang teratur ini tidak mengikuti dengan keras perbedaan dalam segi
kekuatan fisik tetapi mengikuti apa yang disebut superioritas psikolgi, di mana
aspek keberanian sangat besar peranannya. Tetapi adalah suatu kenyataan pula
bahwa ketakutan selalu memainkan peranan pula.
Penyelidikan
berikutnya mempelajari tingkahlaku khas dari ayam-ayam yang paling jagoan dan
ayam yang ditaklukkannya. Terlihat adanya aturan umum bahwa ayam yang berada di
puncak hierarki, dalam arti yang terkuat, lebih penuh dengan kebajikan debandingkan
dengan ayam yang yang berada di tingkat menengah. Terlihat bahwa sekali jagoan
itu mencapai tingkat jagoan dalam arti mengalahkan semua ayam lainnya, maka ia
tak perlu lagi berkelahi untuk mempertahankan posisi jagoan itu. Dia menjadi
jagoan untuk selamanya. Jarak psikologis telah terbentuk dan berlangsung secara
stabil. Tetapi ayam berada di tingkat menengah hierarki, sangat agresif karena
mereka khawatir dalam mepertahankan posisinya yang secara permanen terancam
dari dua fron. Percobaan selanjutnya ialah untuk mengetahui bagaimana cara ayam
tersebut bertingkah laku dalam mengubah kondisi. Jika kita mengambil seekor
ayam jantan yang menjadi pemimpin dari satu kelompok lain dimana ia menjadi
salah seekor yang berkedudukan sebagai anggota kelas mengengah, maka ternyata
ia mengubah pola tingkahlakunya. Dari semula penuh kebajikan, kemudian berubah
menjadi lebih agresif. Jelas ini disebabkan karena kekhawatiran dalam
mempertahankan posisinya. Sebaliknya jika ayam yang paling jagoan dari satu
kelompok besar kemudian digabungkan kedalam dan menjadi jagoan kelompok kecil,
maka tingkahlakunya lebih penuh kebajikan dibandingkan dengan tingkahlakunya
ketika berada pada posisi sebagai jagoan kelompok besar. Ujung dari penelitian
ini melihat kemungkinan besar bahwa tingkahlaku ayam itu lebih banyak tergabung
kepada posisi sosialnya dibandingkan dengan karakter bawaannya.
Ebbe
kemudian mencoba pula meneliti keteraturan jarak sosial dan tingkahlaku sosial
di kalangan anak sekolah. Peneliti menemukan bahwa dalam suatu hierarki
tertentu yang kesemuanya tak serupa dengan penilaian gurunya tetapi merupakan
hasil ciptaan kehidupan kelompo anak sekolah itu.
Jika
pimpinan dari satu kelompok dimasukkan ke dalam kelompok lain dimana ia menjadi
anggota kelas menengah disana, maka tingkahlakunya berubah. Dengan demikian di
antara anak sekolah itu juga supaya tingkah lakunya tergantung kepada sosialnya
secara individual dan juga kepada apa yang disebut: karakter, yang untuk
sebagian besar merupakan hasil dari berbagai situasi sosial.
Adalah
jelas sekali trdapat tendensi umum tertentu yang melekat dalam kehidupan
kelompok anak sekolah seperti itu yang berperan menurut aturan yang sama,
wlaupun mereka di ubah oleh perlengkapan mental dari komposisi kehidupan
kelompok. Salah satu perbedaan utama antara tingkah laku binatang dan tingkah
laku manusia dalam kehidupan kelompok, terlihat dari kenyataan bahwa binatang
tidak mampu mengatur tindakan yang menjurus ke arah perubahan secara
revolusioner. Hanya ada pemberontakan secara individual yang ada dalam
kehidupan kelompok binatang. Ayam yang ditaklukkan selalu berusaha meningkatkan
posisinya melalui pertarungan baru terutama dalam kasus di mana ayam yang
ditaklukkan itu tak harus inferior secara badaniah tetapi disebabkan karena
ketakutan psikologis yang timbul. Dengan mengamati pertarungannya orang dapat
melihat bahwa binatang yang ditaklukkan itu adalah sangat gelisah, ia berupaya
untuk menciptakan kebiasaan dan membangun sikap takluk, menciptakan jarak
ketakutan. Revesz, seorang peneliti di bidang sosiologi binatanng lainnya
meneliti tingkah laku kera yang dikandangkan. Dikandang yang diamatinya itu
terdapat seekor kera yang unggul, empat ekor yang lemah, dan seekor anak kera.
Ketika makanan yang dibawa ke kandangnya, yang terjadi mula-mula ialah
perebutan makanan menurut dorongan hati (impulse) masing-masing kera itu.
Tetapi tingkah laku demikian segera membuka jalan bagi situasi di mana kera
yang terkuat mampu memuaskan dirinya sendiri tanpa rintangan, sebagai kera
utama. Kera lain yang rebut makanan yang ada ditepi tiba-tiba rupanya menyadari
dan mengingat hasil pertarungan dan gigitan kera yang terkuat yang terjadi
sebelumnya, sehingga kemudian mereka menghindar ke arah yang berlawanan dan mengakhiri
perebutan makanan itu. Segera setelah hal ini terjadi, anak kera maju ke depan
dan menempatkan dirinya berdekatan dengan kera yang terkuat, mulai memakan
pisang yang tersedia dengan tenang tanpa digigit oleh sang jagoan. Sepanjang
anak kera ini tidak mencampuri persaingan kera yang lain itu, maka ia menjadi
seekor kera yang mendapat bagian dalam kompetisi, maka ia segera ditaklukkan
dan akan sama nasibnya dengan kera lain yang berkompetisi. Jelas kiranya bahwa
dalam setiap situasi yang khas, suatu jarak tertentu terus-menerus tercipta
dengan sendirinya di kalangan kehidupan binatang itu. Di sini jarak
ruang pada waktu bersamaan mengandung jarak ketakutan dan rasa hormat. Jarak
obyektif cenderung dihubungkan dengan kualitas jarak mental.
Ungkapan
bahasa Jerman ‘drei Schritt von Leib’ (tiga langkah dari manusia) digunakan
untuk menandai sikap pemeliharaan jarak dari seseorang menggambarkan dengan
sempurna keadaan masyarakat dimana jarak ruang pada waktu bersamaan
mengungkapkan ketakutan dan rasa hormat.langkah pertama ialah jarak normal
antara anggota dari suatu masyarakat. Jarak dari tiga langkah selanjutnya,
merupakan pemaksaan terhadap orang yang berada di luar kelompok dominan sebagai
tanda dari status yang disubordinasikan di dalam hirarki masyarakat yang ketat.
Jarak yang berlebih ini, yang dapat dipertentangkan dengan keadaan berkurangnya
jarak menggambarkan keintiman. Keintiman yang berhubungan erta dengan keakraban
dan kontak pisik yang terjadi antara individu dalam kelompok, sekali lagi
menunjukkan kenyataan bahwa jarak obyektif cenderung berhubungan erat dengan
kualitas jarak mental.
Selama
berlangsungnya proses diferensiasi, tipe-tipe jarak yang lebih kompleks muncul
dari jarak ketakutan; sebagai contohnya adalah jarak kekuasaan. Jarak
konvensional yang telah berkembang dengan cepat dalam suatu masyarakat sebagai
tanggapan terhadap keperluan akan keamanan pribadi telah berkembang dengan
cepat dalam suatu masyarakat senagai tanggapan terhadap keperluan akan keamanan
pribadi telah berkembng dalam berbagai masyarakat menjadi suatu simbol antar
hungan kekuasaan dan berpengaruh nyata terhadaap hiraarki sosial.
Kita
dapat membedakan tiga jenis jarak. Pertama, jarak yang menjamin terpeliharanya
tata sosial dan hirarki sosial tertentu. Kedua, jarak eksistensial. Ketiga,
jarak diri sendiri, yakni jarak yang diciptakan di dalam diri seseorang
individu tertentu.
4. PEMELIHARAAN HIRARKI SOSIAL
Struktur
hirarkis tata sosial, adanya kelas-kelas dantingkatan dalam kehidupan, dalam
sebagian besar kasus ditunjang oleh sejenis jarak tertentu. Jarak yang jelas
kelihatan di dalam pergaulan sosial dan di dalam penyelesaian obyek kultural
yang dimiliki masyarakat, memelihara suatu stratifikasi sosial melalui peralatan
mental yang cenderung menggantikan kedudukan kekuasaan. Sistem berpakaian yang
sangat canggih dan tatakrama, gaya berbicara, sikap dan adat kebiasaan, dapat
dipergunakan untuk memelihara jarak antara kelompok penguasa dan oraang yang
dikuasainya. Tugas tersembunyi sistem tersebut ialah untuk menciptakan jarak
dan dengan demikian untuk mengawetkan kekuasaan minoritas penguasa.
Jarak
digambarkan dengan sendirinya oleh bentuk pergaulan sosial dan oleh jarak obyek
tertentu dalam lingkungan kebudayaan masyarakat tertentu. Pergaulan sosial,
dapat terbentuk dalam dua cara. Pertam, dengan membatasi atau meniadakan
kerjasama antara dua kelompok penguasa dan yang dikuasai. Misalnya dengan
melarang perkawinan campuran antara aanggota kedua kelompok atau dengan
memantangkan makan bersama pada satu meja atau dengan memantangkan makan suatu
sistem kebiasaan yang canggih, yang menonjolkan jarak antara strata masyarakat
yang berbeda.
Melalui
penyatuan mayoritas orang yang tertindas secara mendadak, maka setiap kelompok
penguasa dapat digulingkan. Karena itu prinsip memecah-belah dan kemudian
menguasai-devide and rule-selalu diikuti oleh kelompok penguasa dan bila
pelaksanaan prinsip ini berhasil baik maka stabilitas sistem sosial yang ada
akan terjamin. Namun demikian bukan hanya pergaulan sosial dimana masing-masing
strata sosial dan antara strata sosial yang berbeda saja yang dikendalikan oleh
jarak sosial itu. Obyek-obyek sosial dan lingkungan kultural pun dijaga
jaraknya dengan cara yang sama. Jika kita mengamati masyarakat yang berbeda dan
bertanya kepada diri sendiri: apakah yang dapat membuatnya mempunyai jarak,
maka kita akan menemukan bahwa di keduanya terdapat baik manusianya seperti
pemimpin dan raja maupun obyek-obyeknya seperti barang peninggalannya. Dalam
masyarakat primitif mislanya, sifat ke-Tuhanan dari para pemimpinnya atau
rajanya sebagian besar dipelihara melalui upacara seremonial yang rumit yang
dapat melindungi pemimpin atau raja itu dan memisahkan mereka dari rakyat yang
diperintahnya. Tokoh ‘orang suci’ sebaliknya menjadi orang yang dikeramatkan
terutama karena ia meningkatkan jarak dan dengan demikian mengisolasikan
dirinya dari pengikutnya. Selanjutnya pepatah-petitih dan peribahasa dapat
sipisahkan dari pemakaian sehari-hari menjadi mantera-mantera, seperti kalimat
yang dipetik dari kitab suci oleh seorang pendeta. Orang juga dapat memisahkan
institusi dan organisasi atau bidang kehidupan dan aktifitas seperti kesenian
atau hari libur.
Ada
kesamaan antara jarak sosial dan jarak obyek dari lingkungan kultural.
Peningkatan nilai tertentu secara palsu dan menjaga jarak dalam kebiasaan
sehari-hari ditopang oleh sistem yang sama. Ide kekesatriaan seperti
kepahlawanan dan sopan santun, meningkatkan dan memisahkan pola perilaku
tertentu dan meningkatkan kebutuhan yang tak dapat dipenuhi oleh orang
kebanyakan. Jadi ide tersebut mempunyai fungsi sosial yang sama dengan jarak
yang berperan dalam pergaulan sosial.
Evolusi
demokrasi ditandai oleh kecenderungan baik dengan mengurangi jarak atau dengan
mengubah metode pengambilan jarak. Sementara dalam masyarakat pra-demokrasi
peraturan-peraturan keras menentukan cara-cara berpakaian yang boleh dikenakan
oleh tingkat sosial yang berbeda, maka masyarakat demokrasi mengganti sistem
yang usang itu dengan ‘mode’. Bertingkahlaku dan bergaul menjadi lebih bebas.
Suatu proses penyamarataan ke atas dan ke bawah dikembangkan dan kebebasan
menonjolkan diri untuk sebagian besar menggantikan peraturan seremonial
tradisional. Hambatan terhadap kebebasan menonjolkan diri, juga dapat
dipergunakan sebagai alat untuk mempertahankan jarak sosial. Dengan demikian,
orang yang berada pada kedudukan yang lebih tinggi dapat membatasi diri mereka
sendiri untuk mengawetkan jenis tingkah laku martabat tertentu.
5. JARAK EKSISTENSIAL
Jarak
sosial jenis ini dapat diamati jika kita mengenyampingkan seluruh tindakan
pengambilan jarak yang berasal dari pergaulan sosial. Dengan demikian akan
terdapat suatu bentuk jarak tertentu yang lain dari jenis jarak sosial yang
dapat ditunjukkan melalui contoh berikut. Jika seorang wanita dari kalangan
yang sederhana mengunjungi seorang pendeta demi untuk maksud pengakuan dosa,
maka baginya pendeta itu bukanlah sebagai seorang yang khas tetapi merupakan
suatu kepribadian yang mencerminkan kemampuan untuk meningkatkan status sosial.
Namun pada waktu bersamaan, wanita itu mungkin pula dipengaruhi oleh rasa
keakrabannya terhadap si pendeta atau oleh perasaannya sendiri yang merasa
sedemikian renggangnya dengan pendeta itu. Perasaan terakhir inilah yang kita
sebut sebagai jarak eksistensial itu. Tetapi kedua topeng individual biasanyaa
berpengaruh secara serentak. Proses demokratisasi lazimnya cenderung mengurangi
jarak sosial dan membuka hubungan eksistensial yaang murni antara manusia.
Perbedaan-perbedaan
eksistensial merupakan suatu antara hubungan antara individual yang lahir
secara eksklusif dari kualitas kejiwaan manusia. Perbedaan eksistensial ini
terlihat ketika seseorang sekonyong-konyong menyadari keintiman dirinya dengan
orang lain, dan ia mengadakan kontak yang erat dengan batinnya yang paling
dalam. Jarak eksistensial ini dalam sebagian besar masyarakat sejak lama dikacaukan
dengan jarak sosial, mislanya dalam masyarakat berkasta. Kelahiran
individualisme akhirnya merobek topeng sosial dari manusia.
6. PENCIPTAAN JARAK DALAM KEPRIBADIAN TUNGGAL
Seorang
individu dapat berada sedemikian dekatnya atau jauh dari kepribadian sebenarnya
yang dimilikinya, sama seperti ia juga dapat merasa dekat atau jauh dari
kepribadian orang lain. Kita dapat mengamati dari dalam diri seseorang individu
fenomena yang menunjukkan jauh-dekatnya seseorang dari kepribadiannya sendiri,
yang dengan tiba-tiba kepribadiannya itu menjadi asing bagi dirinya sendiri.
Abad demokrasi telah merusak jarak sosial, namun dengan demikian penonjolan
jarak eksistensial menjadi lebih besar. Pengasingan diri sendiri yang terdapat
dalam situasi kultural tertentu merintangi penonjolan diri sendiri secara
individual.
Pengambilan
jarak adalah suatu faktor yang amat penting dalam mengubah struktur kekuasaan
menjadi pola mental dan kultural. Sejaraah telah menunjukkan bahwa perubahan
dalam gaya kultural berhubungan erat dengan perubahan dalaam struktur
kekuasaan. Sosiologi kultural membahas masalah ini secara terperinci dan telah
menemukan bagaimana organisasi kekuasaan dalam berbagai jenis perkembangan
sejarah berpengaruh terhadap berbagai bentuk jarak mental.
BAB 1V
ISOLASI
1. FUNGSI SOSIAL DARI ISOLASI
Isolasi adalah situasi marjinak kehidupan sosial. Situasi ini
meniadakan kontak sosial. Bentuk isolasi yang paling sederhana diciptakan oleh
rintangan alam seperti pegunungan,sungai,lautan,hutan,atau padang pasir.
Rintangan alam sering mempertahankan isolasi. Baik individu maupun kelompok
dapat terisolasi, dan akibat terpentingnya ialah timbulnya individualisasi dan
perlambatan perkembangan.
Setiap individu atau kelompok yang terkecil dari hubungannya
dengan individu atau dengan kelompok lain cenderung berkembang menjadi individu
atau sebuah komunitas yang menyimpang atau berbeda dengan yang lain.
Dikatakan demikian karena individu atau kelompok itu hanya akan
menyesuaikan diri mereka sendiri dengan kondisi mereka yang khas itu saja tanpa
saling mempengaruhi dan saling memberi kesan kapada individu atau kelompok
lain. Akibat dari ketiadaan kontak dengan pihak lain itu maka individu atau
kelompok yang bersangkutan tidak mengetahui perubahan dan perkembangan yang
terjadi pada individu atau pada unit sosial yang lain. Suatu fenimena yang kita
sebut `perubahan yang tidak proporsional` muncul karena tak adanya kontak
dengan pihak lain itu. Kontak sosial berperan kurang lebih sama seperti kontak
antara benda-benda fisik dengan tingkat panas yang berbeda. Setiap benda
sejenis yang kontak dengan derajat panas tertentu yang sama, akan mendapat
derajat panas yang sama pula. Hal serupa dapat pula terjadi pada kelas-kelas
sosial. Kontak yang sering terjadi antara kelas bangsawan dengan kelas menengah
cenderung menyebabkan mereka dalam berbagai hal menjadi serupa atau paling
sedikit mengurangi ketidaksamaan yang ada diantara mereka. Sebaliknya isolasi
dan pengambilan jarak,meningkatkan perbedaan-perbedaan orisinil di antara
mereka dan mengindividualisasikan mereka. Kejadian seperti ini jelas terlihat
dalam komunitas desa yang diisolasikan oleh pegunungan atau oleh rawa yang
luas. ini juga terjadi terhadap individu yang mengasingkan diri dari pergaulan
dengan orang lain dan yang dikucilkan oleh orang lain. Individu atau kelompok
yang mengalami hal demikian akan menjadi individu atau kelompok yang “ asing”
atau “aneh”.
Isolasi telah terjadi dalam proses evolusi dunia binatang, dan memberikan
sumbangan berharga terhadap terciptanya berbagai spesis binatang. Adaptasi
spesis-spesis seperti itu berhubungan erat dengan adaptasi organisme tertentu
terhadap berbagai kondisi geografis. Hal serupa juga terlihat didalam kehidupan
kelompok dan evolusi dan sosial. Sebagai contoh, jika kelompok penggembara atau
domaden dikumpulkan dan dimukimkan pada suatu tempat tertentu. (sehingga
sepintas lalu dapat dikatakan sebagai suatu kesatuan kelompok) maka hasil yang
terlihat dari hasil pemukiman itu adalah bahwa masing-masing sub-kelompok
memisahkan diri satu sama lain dan tanpa mengadakan kontak untuk jangka waktu
relatif lama, dan baik kebiasaan mereka maupun logat bicara mereka tetap
berbeda. Demikian itulah, dialek muncul, sangat mirip dengan kemunculan-kemunculan
spesis-spesis dan jenis-jenis dalam kehidupan binatang. Jadi individualisasi
dan spesialisasi merupakan salah satu kemungkinan yang diakibatkan oleh
isolasi.
Kemungkinan akibat isolasi yang lain adalah perlambatan. Jelas
sekali bahwa sejumlah pengisolasian tertentu diperlukan untuk setiap jenis
indidualisasi. Individu adakalanya mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat,
mengundurkan diri kedalam dirinya sendiri, jika keperibadiannya akan
dipertahankan dari keretakan dan keterputusan dan hendak dipelihara
keutuhannya. Tetapi jika individu secara sempurna memisahkan diri dari
pergaulan masyarakat, maka perlambatan perubahan evolusinya dapat diperkirakan
akan terjadi.
Demikian pula pembentukan ras yang berhasil atau mempertahankan
jenis keturunan binatang tertentu memerlukan suatu perselangselingan antara
periode endogami, dalam periode dmana karakter dibentuk, dan periode eksogami
dalam dalam mana tenaga baru diturunkan.
Sekte-sekte yang bertahan hidup ratusan tahun karena
mengisolasikan diri dari orang dan kultur lain, adalah suatu contoh dari kaidah
bahwa isolasi mengembangkan kestabilan jenis. Sebaliknya, percampur-adukan
keturunan seperti yang terjadi di Amerika Utara, memperlihatkan bahwa
berkurangnya isolasi tertentu, menciptakan suatu keanekaragaman yang besar dan
ketidakstabilan jenis. Seperti di atas, inti isolasi ialah pengurangan kontak.
Dalam seksi 1 ini kita menyederhanakan pembahasan terhadap bentuk-bentuk
isolasi yang rumit itu pada batas proses-prosesnya yang mendasar saja. Dalam
analisa berikut ini akan dicoba menemukan apa yang berbagai penyebab yang
menciptakan isolasi dan menditeksi apa akibat-akibat yang dapat ditimbulkan
dari berbagai bentuk isolasi
itu.
2. BERBAGAI JENIS ISOLASI SOSIAL
Ada dua jenis utama isolasi sosial: isolasi ruang dan isolasi
organik. Isolasi ruang, dapat dipaksakan dari luar dengan meniadakan kontak
seperti yang terjadi ketika seseorang dikucilkan dari pergaulan komunitasnya
atau dipenjarakan. Akibatnya,individu akan tercabut dari perlindungan
kelompoknya atau dalam kasus seekor binatang,akan terlepas dari gerombolannya.
Sangat menarik bahwa seekor binatang jantan pemimpin gerombolannya jika
terpisah dari sgerombolannya terkenal dikalangan pemburu sebagai binatang
buruan yang sangat ganas dan berbahaya. Ia menjadi lebih agresif dan lebih
ganas dari pada binatang yang tetap kontak dengan gerombolannya. Hal yang agak
mirip terjadi pada diri orang yang dikucilkan atau dipenjarakan,dan hingga
derajat tertentu juga terjadi pada orang asing yang berada dalam suatu
masyarakat yang bukan lingkingannya sendiri,memperlihatkan kecenderungan lebih
besar untuk bertingkahlaku anti sosial. Menarik pula,dijerman istilah untuk
menyatakan perasaan `tidak senang` atau `menyedihkan`dan istilah untuk menyatakan
`hidup diluar negeri` mempunyai akar kata yang sama. Tingkahlaku anti sosial
dan kadang-kadang juga kehausan untuk membalas dendam adalah khas merupakan
akibat mental dari hukuman penjara dalam kurungan, yang merupakan bentuk
ekstrim dari pengucilan yang dipaksakan. Banyak orang yang berkemauan baik,yang
dipengaruhi oleh tradisi,agama dan pandangan moral di awal abad ke 19 mengira
bahwa pemenjaraan dalam kurungan dan kesepian yang ditimbulkannya, dapat
memperbaiki karakter narapidana,dan akan memudahkan upaya mengubah mereka
menjadi orang-orang baik kembali. Padahal akibat pemenjaraan itu jelas terlihat
dalam sebagian besar kasus keadaan mental yang murung,homosek,kadang-kadang
juga halusinasi dan kebiasaan tingkahlaku anti sosial.
Yang dimaksud dengan isolasi organik ialah gejala keterasingan
yang disebabkan bukan karena ketiadaan kontak yang dipaksakan dari
luar,melainkan karena ketiadaan kontak yang disebabkan karena kecatatan
individu seperti kebutaan dan ketulisan. Akibat penting kecatatan seperti itu
ialah kurangnya pengalaman bersama tertentu dengan semua orang normal. Beet
hoven mengatakan: `kecatatan saya memaksa saya hidup dalam pengasingan`. Akibat
kecatatan organik sangat mirip dengan kecatatan sosial seperti perasaan malu
yang berlebih-lebihan curiga,inferior atau superior dan kesukaan menonjolkan
kepintaran diri sendiri (kecatatan terakhir ini selanjutnya disebut :keminter
). Penyimpangan sosial tersebut diatas baik merupakan akibat maupun merupakan
gejala dari isolasi sebelumnya dan ia menciptakan isolasi sebagian. Akibat
keterbatasan pengalaman serupa itu adalah bahwa orang yang tuli,buta dan
pemalu,jarang mendapatkan jawaban yang sempurna dari orang yang normal. Mereka
terhalang dalam setiap komunikasi umum. Mereka dicurigai atau mencurigai,lekas
marah dan dengan demikian mereka juga kurang mempunyai kesempatan untuk
mendapatkan teman dan sahabat yang sesuai dengan mereka. Akibat selanjutnya
dari keterbatasan pengalaman ini ialah sempitnya pergaulan orang cacat
itu,hanya sampai pada batas lingkungan orang tertentu saja. Kesemuanya ini
dapat mendorong orang kepada sikap pasrah: individu itu mungkin menyerah saja
kepada nasib untuk mendapatkan posisi yang normal atau mungkin juga menjadi
seorang yang patah hati dan patah semangat, yang menerima peranannya dari
bayangan perasaan inferior. Hasil lainnya yang sering terjadi dari situasi
demikian ialah `kompensasi` dan mungkin pula mengenbangkan perasaan
superrior-kompleks. Orang seperti itu mungkin merasakan bahwa `tak seorangpun
yang cukup baik terhadap saya`.
Kompleks-kompleks demikian berhubungan erat dengan sifat suka
menonjolkan ilmun atau kepintaran diri sendiri. Orang keminter seperti itu
adalah orang yang hanya merasa dirinya sendiri sajalah yang aman karena ia
berada dibawah perlindungan dan bimbingan yang terandal. Keteraturan dan
kebersihan bagi orang seperti itu dapat berarti sebagai suatu proteksi terhadap
perselisihan yang tak terduga,bentrokan dan kritik. Keminter kebanyakan
merupakan gejala yang menandakan rasa takut terjerumus ke dalam situasi yang
tidk diinginkan. Dengan demikian sang keminter ini mencoba merumuskan setiap
situasi menurut caranya sendiri. Ketelitiannya sering dianggap sebagai suatu
bentuk penyimpangan dari nilai kerjasama. Apa yang menjadi keistimewaan si
keminter ini ialah tekanan psikologis,kekacauan berpikir dan kesenangan
terhadap ketelitian.
Perasaan malu menurut pengertian sosiologi adalah sejenis isolasi
sebagian yang timbul dari ketidak-mampuan menciptakan tanggapan yang memadai
dalam bidang kehidupan tertentu. Perasaan ini kebanyakan adalah akibat dari
goncangan jiwa ini sering terjadi kanak-kanak. Goncangan jiwa ini sering
terjadi anak-anak mulai meninggalkan pergaulan dengan lingkungan keluarga dan
tetangganya dan memasuki dunia antar hubungan sekunder. Sejenis kegoncangan
jiwa (trauma) sebagai akibat dari perubahan lingkungan pergaulan dari kelompok
primer ke kelompok sekunder demikian itu,dan gangguan kepribadian kronis
sebenarnya dapat diteliti. Bibit perasaan malu yang berkelebihan itu dapat
dilihat melalui antara hubungan yang akrab dengan anak-anak berusia sekitar 5
tahun.
Perasaan malu yang berlebih-lebihan yang mula-mula hanya muncul
kadang-kadang saja cenderung kemudian dibiasakan dan dapat menciptakan seluruh
gejala isolasi sebagian. Tahap awal gangguan terhadap kemampuan sosial demikian
dapat ditemukan pada anak-anak kecil dan kemudian dapat muncul sebagai suatu
kegelisahan yang lazim dalam menghadapi setiap situasi baru. Perasaan demikian
timbul,misalnya disaat akan menghadapi ujian atau di dalam kelas ketika anak
takut takkan dapat menjawab pertanyaan yang tak terduga dari gurunya. Jika
sikap ini di alihkan kepada tingkat perkembangan anak selanjutnya,maka sikap
ini dapat menyembunyikan bahkan menghilangkan kepercayaan terhadap diri sendiri
dan ketegasan yang wajar dari individu. Seseorang yang mempunyai kepribadian
tak seimbang, sering mencoba mengkompensasikan dirinya dengan berbagai cara.
Atau jika keluarganya menyokong ketidak-munculannya,maka biasanya kompensasi
itu muncul melalui peledakan perasaan,kadang-kadang dengan mencari kelembutan,
kasih sayang yang berlebihan terhadap orang lain dan dengan pengungkapan emosi
yang hebat lainnya yang serupa.
Jenis lain isolasi sebagian itu timbul ketika suatu kemampuan
normal untuk mengadakn kontak sosial tak dapat menemukan lingkungan sekitarnya
yang cocok yang diperlukan untuk situasi seseorang gadis tua atau perjaka tua
yang kadang-kadang membujang sebagai akibat sikap pemalunya yang
berlebih-lebihan. Orang yang dalam situasi demikian akan mencari suatu pemuasan
bagi kerugian yang mungkin dialaminya dalam kehidupan pribadiannya dan dalam
kehidupan sosialnya dengan mencari suatu kegiatan sosial yang
bermanfaat,melalui persahabatan,latihan sepiritual bagi yang mampu
melaksanakannya atau mungkin melalui pemeliharan binatang dan mempertahankan
sentimental.
3. BENTUK-BENTUK KERAHASIAAN PRIBADI
Kerahasiaan pribadi (privacy) juga mencerminkan tipe isolasi
sebagian tertentu. Kerahasiaan pribadi secara tak langsung menyatakan bahwa
ruang lingkup inti pengalaman pribadi kita dilindungi dari pengaruh kontak
sosial. Orang moderen sering mencoba untuk menyembunyikan sebagian dari
kepribadiannya terhadap kontrol publik. Disini kita berbucara tentang
kerahasiaan pribadi kita sendiri.
Kita dapat melihat suatu perkembangan yang serupa pada latar
belakang sosial dan politki ketika kita mengamati bagaimana negara liberal
moderen menahan diri untuk tidak mencampuri dan mengganggu urusan pribadi
individu warganya,sejauh mungkin di pantangkan mengatur dan mengendalikan keyakinan
pribadi, kesadaran pribadi dan perasaan-perasaan yang bersifat pribadi. Atau
dalam kehidupan kota moderen kita melihat perlindungan kehidupan pribadi warga
kota dari penilaian publik. Kehidupan masyarakat desa tak mengenal adanya baik
privasi internal maupun privasi eksternal demikian. Kehidupan masyarakat desa
sebagai keseluruhan biasanya menyangkut pula kehidupan rumah-tangga dan
kehidupan perseorangan petani. Kontrol publik menyelusup sampai jauh ke dalam
setiap sudut yang tersembunyi sekalipun dari kehidupan kekeluargaan individu.
Kenapa demikian? Yang jelas karena dalam komunitas primitif,jarak antara
kegiatan seorang individu berhubungan erat dengan bidang kegiatan keseluruhan
komunitas. Pemisahan sosial,penyembunyian kepribadian seorang dalam kehidupan
kelompok demikian itu teramat sulit. Gilda di kota-kota abad pertengahan
sama-sama dapat mengontrol sebagian besar aktivitas eksternal dari setiap
individu yang menjadi anggotanya,seperti pengungkapan kepercayaan
agama,aktivitas profesional,bentu-bentuk pergaulan,aktivitas artistik,upacara
penguburan dan sebagainya organisasi moderen seperti perserikatan profesionel
(misalnya:korpri,IDI atau perusahaan,hanya menyentuh sebagian bidang tertentu
saja dari kehidupan individu. Kemungkinan untuk menyembunyikan kerahasiaan
pribadi dalam kehidupan organisasi moderen ini jauh lebih besar dan dengan
menyenbunyikan kan maka manusia moderen berhasil mengisolir sebagian dari
kepribadiannya. Isolasi ini berarti memperkuat individualisasi.
Gerakan keagamaan seperti protestantisme dan
puritanisme,menampilkan suatu kecenderungan untuk mengubah agama publik menjadi
agama pribadi dan menjaga agar supaya bagian-bagian tertentu dari kepribadian
orang, aman dari campur tangan dari luar. Puritanisme juga mencerminkan tendesi
yang mengutuk pemberitaan dan meningkatkan penilaian terhadap urusan pribadi
dan pengalaman pribadi individu. Proses penciptaan kerahasiaan pribadi ini
bermula melalui perubahan-perubahan eksternal seperti pemisahan urusan
rumahtangga dari urusan dinas atau urusan kantor. Warga kota di penghujung abad
pertengahan atau di zaman Renaisan,karena makin kaya,mampu menyediakan satu
kamar untuk masing-masing anggota keluarganya dalam satu rumah yang
dipergunakan oleh masing-masing anggota keluarga itu untuk keperluannya
sendiri. Ruangan pribadi ini menjadi lingkungan eksternal pertama yang
menciptakan seperangkat sikap dan paresaan yang kini kita sebut privat itu dan
ini adalah satu bentuk individualisasi.
Di sini kita harus membedakan dengan tegas antara sikap yang
berhubungan erat dengan kontak primer, kontak-kontak yang intim, dan sikap yang
berhubungan erat dengan kerahasiaan pribadi. Kerahasiaan pribadi adalah sejenis
pengisolasian dalam dunua ke hidupan keluarga atau di dalam kelompok primer
yang lain. Ini merupakan suatu cara melepaskan diri dari kelompok sosial di
mana pengendalian kelompok sangat dekat terhadap individu. Kerahasiaan pribadi
sangat membantu dalam menciptakan individualisasi. Kerahasiaan pribadi ini
memelihara kecenderungan ke arah individualisasi enternal. Salah satu akibat
utama kerahasiaan pribadi ini ialah terciptanya standar norma ganda dari
kesadaran orang, baik norma hukum maupun norma moral. Akibat lainnya ialah
munculnya standar ganda dalam pengalaman terhadap waktu. Pengertian waktu yang
dimaksud di sini bukanlah perjalana waktu secara kronologis yang dapat diukur
dengan bantuan suatu skala obyektif, tetapi ialah cara yang menyadarkan kita
terhadap waktu di dalam inti pengalaman kita.
Inti pengalaman kita terhadap waktu, sebagian besar diarahkan
kepada pengalaman kolektif. Sejauh kita akrab dan berhubungan erat dengan
sesama manusia melalui tujuan-tujuan bersama,maka ketegangan yang tertanam
dalam perjuangan bersama itu membedakan waktu dalam suatu cara kolektif bagi
setiap peserta perjuangan bersama itu. Orang yang bekerja bersama-sama untuk
mencapai hasil bersama, mengukur waktu menurut aktivitas bersama mereka.
Artulasi dari peristiwa seperti juga waktu, mula-mula diarahkan kepada tujuan
bersama itu. Tetapi kerahasiaan pribadi memisahkan pengalaman individu tertentu
dari komunitas,dan inti pengalaman individu menjadi terpisah dari dunia luar.
Sebagai akibatnya, inti waktunya terpisah dari waktu komunitas. Perlu di ingat
bahwa evolusi yang tidak proporsional menciptakan individualisasi dan
pengalaman ditunjukkan ke dalm diri sendiri. Oleh karena adanya kerahasiaan
yang bersifat pribadi dan personal,maka keduanya tidak sama dan sederajat.
Diskriminasi yang teliti dari pengalaman yang berhubungan erat dengan pemusatan
perhatian dan pemikiran terhadap diri sendiri menjadi sumbr dari puisi-puisi
yang bersifat subyektif dan menjdi sumber sunyektivisme pada umumnya.
Bahaya privasi yang berlebih-lebihan ialah bahwa dalam keadaan
demikian dapat mendorong kearah terbelahnya kepribadian. Dunua kesadaran
terdalam dari privasi dan dunia aktifitas bersama, kehilangan hubungannya dan
karena itu orang lalu hidup dalam dua dunia yang saling terpisah. Kretschmer
dan shelddon menyatakan bahwa gejala penyakit jiwa dalm bentuk kesukaan
mengasingkan diri (schizofrenia) ini sebagai salah satu ciri dari aliran
psikoanalisa mereka.
Privasi tentu saja juga mempunyai makna produktif bagi kultur,
jika ia tidak menampilkan isolasi absolut tetapi hanya suatu isolasi sebagian.
Aspek privasi yang bermanfaat ini telah di selidiki oleh pemimpin suatu gerakan
keagamaan. Hasilnya ternyata bahwa biara bagi rahip-rahip merupakan suatu alat
untuk menciptakan kondisi eksternal tiruan yang dapat memelihara difasi mereka.
Mereka yang hidup dalam biara demikian biasanya adalah orang yang suka
`menyendiri`. Peraturan dikalangan biara ini mengandung anjuran untuk
menghindarkan setiap kontak eksternal. Biara dan peraturannya itu membantu
menciptakan kesamaan bidang pengalaman bersama yang bersifat tiruan. Tujuan
yang sama dilanjutkan oleh peraturan biara yang berhubungan dengan pekerjaan
pada waktu senggang. Didalam biaralah kita dapat menemukan suatu perasaan
keagamaan subyektif yang murni. Perasaan seperti itu merupakan salah satu
bentuk awal dari individualisasi yang dibantu perkembangannya oleh privasi.
BAB V
INDIVIDUALISASI
Kerahasiaan pribadi (privasi) hanyalah satu bentuk
individualisasi. Banyak jenis kekuatan sosial yang membantu perkembangan
individualisasi, yang dimaksud individualisasi ialah proses sosial yang
cenderung menyebabkan individu kurang lebih terlepas dari kelompoknya dan yang
menciptakan di dalam dirinya suatu kesadaran diri sendiri mengenai miliknya
diri sendiri.
Dalam menganalisa bagaimana proses individualisasi berlangsung,
maka dua kesalahan konsepsi perlu dikoreksi terlebih dahulu. Pertama, bahwa
individualisasi ialah proses yang semata-mata dibantu oleh individu itu
sendiri. Ini didasarkan atas asumsi bahwa seseorang membebaskan atau kurang
bebas sama sekali dari pengaruh kelompoknya, hanya dengan menggunakan kualitas
mental. Kekeliuruan konsepsi kedua didasarkan atas asumsi bahwa individualisasi
terutama adalah proses mental atau spiritual yang tersebar melalui ide-ide umum
dari satu periode waktu atau tempat tertentu. Jika ahli sejarah misalnya berbicara
mengenai Renaisan maka mereka mengumpulkan kalimat-kalimat yang membuktikan
bahwa suatu penilaian baru terhadap individualitas telah muncul pada waktu
tertentu dan kemudian menunjukkan bahwa ide itu swcara berturut-turut diterima
oleh kelompok lain dan oleh individu lain. Upaya sosiolog tidak hanya sekedar
mempelajari bahwa ide demikian itu ada pada waktu tertentu tetapi berupaya pula
menemukan bagaimana ide itu timbul. Kita dapat bertanya kepada diri kita
sendiri,kekuatan-kekuatan sosial apa saja yang menimbulkannya di dalam
lingkungan yang lebih sempit dan perangkat pengaruh sosial yang bagaimana yang
mempersiapkan kelompok manusia yang lebih besar menerina ide-ide itu. Ide itu
biasanya hanyalah merupakan ekspresi mental belaka dari proses individualisasi,yang
dasar-dasarnya telah dipersiapkan oleh perubahan sosial yang cenderung
mengarahkannya. Di tengah-tengah jaringan sosial baru yang demikian itu
diungkapkan ide-ide yang memperkuat dan yang secara meyakinkan membentuk
situasi baru tetapi ide-ide itu sendiri tidak menciptakannya ketika saya
mengatakan bahwa di setiap situasi sosial terdapat seperangkat kekuatan sosial,
di dalam situasi mana individualisasi cenderung bekerja,saya menyadari bahwa
periode waktu tertentu seperti Renaisan atau periode Rasionalisme abad ke 18
dan liberalisme abak ke 19 membantu kelangsungan proses individualisasi
sedemikian besarnya dibandingkan dengan periode sejarah lainnya.
Untuk menghindarkan kebingungan terhadap berbagai jenis
individualisasi,maka saya akan memulai dengan menjelaskan perbedaan bentuknya
dan mencoba menemukan kekuatan sosial yang spesifik yang menunjang
masing-masing bentuk tersebut.
Saya membedakan empat aspek utama individualisasi,masing-masing
sebenarnya masih dapat dipecah lagi menjadi beberapa sub-aspek.
1. Individualisasi sebagai proses menjadi berbeda
dari orang lain.
2. Individualisasi pada tingkat bentuk baru dari
penghormatan terhadap sikap sendiri: baik melalui kesadaran terhadap ke unukan
dan kekhasan kepribadian orang lain maupun melalui jenis penilaian baru
terhadap diri sendiri atau pengaturan diri sendiri.
3. Individualisasi dari keinginan-keinginan,yakni
mengindividualisasikan hubungan dengan obyek.,
4. Individualisasi sebagai sejenis perenungan ke
dalam diri kita sendiri, yakni sejenis pemusatan perhatian dan pemikiran
terhadap diri sendiri (intriversi) yang secara tak langsung menyatakan
penerimaan pengalaman yang kita miliki sendiri dan meningkatkan kekuatan
individualisasi di sekitar dan di dalam diri kita sendiri. Ini juga dapat
dijelaskan sebagai tindakan tidak menyingkapkan dimensi yang terdalam dari
kehidupan seseorang.
Dengan demikian,keempat aspek utama individualisasi itu adalah :
menjadi berbeda ; munculnya jenis penilaian baru terhadap kekhasan kepribadian
diri sendiri ; individualisasi melalui obyek; dan pemasukan kekuatan
individualisasi. Keempatnya merupakan fenomena yang berbeda.
1. PROSES MENJADI BERBEDA.
Perbedaan eksternal dari tipe dan individual menyebabkan
terbentunya kelompok baru dimana ciri-ciri baru ini biasanya di ungkapkan.
Munculnya kelompok baru ini dipercepat oleh adanya pembagian kerja dan dan
pembagian fungsi. Pembagian fungsi ini menyebabkan perkembangnya ciri-ciri
profesional. Kelompok baru serupa itu sedikit banyak memungkinkan
individualitas dalam keanggotaannya menurut intensitas dan volume organisasi
dan peraturan internal. Bahkan misalnya perbedaan antara tenaga kerja ahli dan
tenaga kerja pelaksna dalam suatu pabrik. Tenaga kerja ahli bekerja dengan
ketrampilan teknik dan dengan peralatan tersendiri sehingga dengan demikian
menjadi lebij individualis. Dalam pabrik ada kecenderungan pengaturan kerja
secara impersonal. Faktor sosial berikutnya yang menimbulkan tipe diferensiasi
eksternal dan tipe individual adalah akibat dari keterbatasan kontak,karena
orang yang dalam keadaan demikian itu akhirnya terhalang untuk menyesuaikan
diri terhadap kondisi yang berubah.
Dalam masyarakat cina kuno, tindakan orang dalam keseluruhan
hubungannya telah ditetapkan secara pasti oleh ajaran konghucu. Dalam kehidupan
rumah tangga misalnya, peraturan tingkah laku seorang anak terhadap
bapaknya atau si isteri terhadap suaminya, atau seorang adik terhadap kakak
laki-lakinya, telah ditetapkan dengan pasti. Aturan tingkah laku ini terang
mempengaruhi kesempatan-kesempatan yang terbuka bagi anggota kelompok, dan
dalam kenyataan kehidupan yang sesungguhnya dari anggota kelompok. Sebaliknya,
demokratisasi dalam pengertian yang seluas-luasnya di bidang politik, ekonomi
dan pedagogik berperan sangat kuat dalam mengarahkan terciptanya tindakan yang
spontan dan tindakan yang tidak tradisional. Kompetisi secara bebas juga
mendorong individu menyesuaikan dirinya sendiri terhadap situasi khususnya
sendiri, untuk mengambil inisiatif dan tidak menunggu perintah atau tidak lebih
senang diperintah. Khususnya unit sosial yang kecil, jika diorganisir menurut
cara-cara demokratis dapat mendorong pertumbuhan kepribadian. Unit sosial yang
kecil seperti itu terdapat di wilayah Swiserlan bagian tengah, dalam komune merdeka
abad pertengahan dan dalam sekte-sekte keagamaan. Hal yang serupa juga terdapat
pada kelompok-kelompok pendidikan yang terorganisir secara demokratis seperti
universitas di abad pertengahan memudahkan upaya secara individual dan upaya
pengambilan keputusan.
Satu contoh yang nyata dari kulit luar suatu situasi yang tidak
berpola terlihat dalam kasus pionir atau pedagang yang bertualang meninggalkan
kampung halaman mereka dengan tujuan menaklukan daerah baru, atau untuk
menciptakan pasar baru, atau sama seperti pemuda atau pemudi yang melepaskan
diri mereka dari perlindungan keluarga mereka untuk mencari sumber penghidupan
di tempat baru. Tetapi kompetisi di dalam kehidupan kelompok mendorong setiap
orang untuk bertindak menurut kepentingan individualnya dan untuk
mengintegrasikan kembali situasi dirinya sendiri.
Perkembangan prises individualisasi selanjutnya dibantu oleh
peningkatan mobilitas sosial,terutama oleh mobilitas sosial vertikal yang
memungkinkan seseorang tampil pada skala sosial sebagai individu,dan tidak
hanya sebagai seorang anggota belaka dari kelompoknya. Di dalam situasi
demikian itu adalah perlu bagi keberhasilannya untuk membebaskan dirinya
sendiri dari prasangka kelompoknya,meskipun mungkin kemudian ia menyesuaikan
diri juga dengan prasangka kelompok lain. Mobilitas horizontal terlihat
misalnya dalam pengembaran individu, yang secara tak langsung menyatakan
keperluannya untuk membuang sudut pandangan kelompok kecilnya yang sudah usang.
Bagaimana, dalam kasus ini terdapat kemungkinan baginya untuk mengenali sama
sekali dirinya sendiri melalui kelompok baru dan melalui cara ini ia di paksa
untuk menemukan pandangannya sendiri secara bebas. Jika seseorang menggabungkan
diri dengan kelompok oposisi, maka orang itu akan kehilangan pandangannya yang
asli dan mencoba mempelajari dan menerima pandangan orang lain.
Situasi seseorang sebagai `orang asing`, apakah secara relatif
atau secara mutlak mempunyai pengaruh individualisasi yang serupa. Contoh
keterasingan secara relatif demikian adalah anak kecil yang diterlantarkan
keluarganya atau pemimpin golongan minoritas di dalam suatu kehidupan
kelompok,sedangkan contoh ketersaingan secara absolut adalah orang yang diusir
atau dibuang dari lingkungan kelompoknya dan orang asing yang tidak
berasimilasi. Awal dari kehidupan Hitler, lenin, dan T rotsky atau stalin
memperlihatkan sejumlah situasi outsider demikian itu.
Situasi sosial terakhir yang diperlihatkan dalam kaitannya dengan
individualisasi sebagai suatu`proses menjadi berbeda` adalah melarikan diri
dari kontrol sosial satu kelompok kepada kontrol sosial kelompok yang lain.
Dalam setiap kelompok terdapat perbedaan sesuatu yang disumbangkan yang
dipelajari oleh orang yang sama,seperti halnya orang yang berbeda membentuk
jenis kelompok yang berbeda,keluarga,teman sepermainan,klub,universitas,dan
sebagainya. Dengan demikian lingkungan kontak yang diperluas itu dapat
memberikan anekaragam pengalaman yang makin luas pula sehingga individualisasi
dapat berkembang dengan fleksibelitas yang lebih besar.
2. INDIVIDUALISASI (PENGHORMATAN TERHADAP SIKAP
SENDIRI)
Dilihat dari satu segi,kepribadian individualistis terdiri dari
semakin sadar terdapat kekhasan karakter kita sendiri dan munculnya jenis
penilaian baru terhadap diri sendiri. Dengan demikian, pengorganisasian
terhadap diri sendiri berlangsung sebagai bentuk kemunculan penilaian terhadap
diri sendiri. Contoh proses ini dapat ditemukan dalam sejarah di mana pemujaan
terhadap kepribadian yang kuat menciptakan suatu tipe individualisasi tertentu.
Prakondisi proses ini adalah suatu diferensiasi yang ketat dan pengambilan
jarak oleh elite pemimpin, pengorganisasian kelompok sedemikian rupa sehingga
menyediakan kesempatan bagi sekumpulan orang tertentu untuk menjadi lalim
(despotic);adanya lingkungan pergaulan istana yang tak terjangkau oleh
penilaian publik di mana sang penguasa lalim itu dapat berilusi
sebagai seorang yang `maha kuasa`. Ini adalah prakondisi untuk terciptanya
seorang penguasa yang kejam dan lalim yang biasa disebut dengan satu kata
`tirani` yang bersandar kepada kekuatan pisik dan paksaan spiritual (biasanya
berdasarkan sikap yang mengira ia memiliki sejenis kekuatan gaib) bersama
dengan kekuatan yang berasal dari pemilikan tanah, uang dan harta kekayaan
lainnya serta prestise dan kemegahan.
Proses serupa terlihat dalam bentuk yang lebih moderat dan dalam
lingkungan pergaulan yang lebih sempit,jika seorang anak menjadi tirani dari
suatu keluarga. Dalam kasus di atas terlihat adanya impuls kecintaan terhadap
diri sendiri pada si tiran atau pada si despot itu, dan ini terima oleh
kelompoknya.
Perasaan mengenai keunikan kehidupan seseorang dan karakter yang
dimilikinya, dapat ditemukan pada asal mula pemujaan terhadap otobiografi:
pemujaan ini berkembang di penghujung periode kekaisaran Romawi yang
berhubungan erat dengan timbulnya suatu perasaan bahwa kehidupan dan karakter
seseorang adalah unik. Namun asal mula perasaan demikian ditemukan juga di
permulaan kehancuran despotisme di dunia Timur. Di permulaan tingkat
perkembangan individualisasi ini, penilaian terhadap diri sendiri dibangun
dengan membiarkan orang lain menjadi mangsa ketakutan dan hormat kepada kita
sendiri. Contoh kemegahan diri sendiri serupa itu dapat ditemukan dalam riwayat
Assurbanipal (885-860 SM) yang menyatakan ; `Aku adalah raja`.`Aku adalah
Tuhan`.`Aku adalah yang maha agung`.`Aku adalah yang terbesar ,yang terkuat`.
`Aku adalah yang termasyhur`. `Aku adalah pangeran,bangsawan,panglima perang`.
`Aku adalah seekor singa.......`Aku adalah wakil Tuhan`. `Aku adalah senjata
yang tak terkalahkan,yang membuat bumi musuh menjadi puing`. `Aku menangkap
mereka hidup-hidup, dan menenggelamkan mereka`. `Aku mencat gunung dengan darah
mereka`. `Aku menguliti mereka dan menutupi dinding istanaku dengan kulit
mereka`. `Aku mendirikan pilar istanaku dengan batok kepala mereka. Dan
diantara pilar-pilar itu aku menggantungi kepala mereka dengan tanaman
anggur.....`Aku menyiapkan gambar klosal tokoh-tokoh keluarga kerajaanku dan
menggoreskan kemauanku dan keagunganku padanya...sinar wajahku terpancar pada
puing-puing. Dalam melayani kemarahanku,aku menemukan kepuasanku`.
Melalui periode terakhir kekaisaran Romawi dan melalui otobiografi
filosof Stoa serta melalui pernyataan lainnya,kita dapat menunjukkan situasi
sosial yang menyokong bertambah kuatnya perasaan keunikan diri sendiri itu.
Kita dapat menunjukkan kelemahan organisasi masyarakat yang besar dan keadaan
yang kacau dari kekaisaran,dan sehubungan dengan itu kita dapat pula
menunjukkan kemungkinan bagi individu untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi
dalam skala sosial. Kelemahan organisasi yang besar ialah bahwa kekuatan
mengikat normanya hampir hilang sama sekali. Kita melihat di sini pembubaran
cita-cita yang terkandung di dalam negara-negara kota Yunani (prolis) yang
kecil-kecil itu.
3. INDIVIDUALISASI KEINGINAN MELALUI OBYEK
Dalam membangun petunjuk arah dan keteguhan perasaan terhadap
obyek dan terhadap orang lain (apa yang oleh ahli psikoanalisasi disebut
penetapan libido atau kathexes) sikap tradisional dan daya tahan kelompok
primer adalah menentukan. Petani dan kaum ningrat yang menguasai tanah
pertanian,lebih terarah dan lebih teguh keimanannya dari pada tipe orang kaya
kota yang mudah bergerak (mobile). Kalangan petani dan ningrat pemilik tanah,
mencoba menetapkan jenis keinginan yang akan dipenuhinya sejauh ia ingin
membeli suatu barang tertentu tetapi ingin menyelang-nyelingi ke mungkinan
dalam keterbatasan kemampuan yang ada padanya. Jarak pilihannya mungkin lebih
luas dan pilihannya yang sebenarnya beraneka ragam. Berbagai faktor
meningkatkan keinginannya secara individual dan yang mendadak seperti faktor
kekayaan,yang menciptakan kemungkinan yang bervariasi atau yang menciptakan
proses produksi dan distribusi moderen yang mendorong kompetisi individual dan
orang yang pertama tampil membawa ide-ide baru. Bagaimanapun juga, industri
raksasa yang merangsang para pembeli melalui iklan misalnya juga berusaha untuk
menyeragamkan pilihan konsumen. Di samping itu terdapat mobilitas sosial baik
horizontal seperti migrasi maupun secara vertikal seperti bergerak ke bawah dan
ke atas skala sosial, yang cenderung mengikat individu kepada
keinginan-keinginan khusus .
Ada beberapa keinginan yang dimiliki orang. Kita dapat
menyederhanakannya menjadi dua macam. Pertama sikap untuk memilih obyek tunggal
dengan penetapan libido yang pasti. Kedua, penetapan libido terhadap obyek yang
abstrak, seperti uang dan persamaan derajat. Selanjutnya terdapat dua jenis
sikap yang menginginkan untuk menyeimbangkan dalam hubungannya dengan
pemilikan; pertama berusaha sekuat tenaga untuk memiliki suatu obyek tertentu
yang pasti, dan kedua berusaha keras untukn keras untuk memiliki berbagai macam
obyek. Dalam kasus terakhir ini libido yang dipastikan terhadap sesuatu
obyek,dalam ukuran tertentu adalah dialihkan dari obyek itu kepada pilihan itu
sendiri. Contoh libido yang dipastikan terhadap obyek tertentu ialah berupa
kesukaan seseorang petani terhadap pipa rokok kesayangannya atau terhadap
piring kesayangannya pada waktu makan atau terhadap pemandangan alam di sekitar
tempat ia mondar-mandir dan bermukim. Dalam keseluruhan kasus di atas petani
secara pribadi berhubungan erat dengan barang-barang yang dimilikinya itu atau
dengan situasi personalnya. Dalam kasus yang kedua,dimana libido ditetapkan
tidak begitu banyak terhadap obyek tetapi lebih banyak terhadap pilihan itu
sendiri, contohnya dapat diketengahkan tentang sikap orang yang selalu
mengikuti mode, sikap orang liberal atau sikap orang yang individualis dalam
masyarakat yang bercorak kompetitif. Tetapi orang yang bersikap liberal dan
anarkis juga dapat memiliki keinginan-keinginan yang terikat kepada obyek
khusus atau kepada orang tertentu.
Penetapan libido individu yang keras terbentuk oleh keluarga
kecil. Contohnya libido terhadap tokoh ibu atau tokoh ayah adalah lebih besar
dalam tipe keluarga tertentu daripada dalam tipe keluarga yang lain. Dalam
kelompok keluarga primitif, setiap anak mempunyai beberapa orang ibu sekaligus
karena dalam kelompok keluarga demikian seluruh ibu-ibu yang setingkat usianya
dipanggil ibu oleh semua anak-anak mereka. Dalam keluarga kecil monogami,
kepastiannya lebih besar dan disitu terlihat kasih sayang yang sedemikian
mendalam dari seorang ibu, dan dalam keluarga yang beranak tunggal lebih
mencolok lagi dibandingkan dengan keluarga yang beranak,katakan lah sepuluh
orang misalnya.
Salah satu sumber utama libido individual yang mempengaruhi ide
tentang keunikan perseorangan dan cinta yang lebih ideal dapat ditemukan di
sini. Cinta yang romantis hanya dapat di terangkan dalam kaitannya dengan
kesukaan memusatkan perhatian kepada diri sendiri yang dikenal sebagai
`introversi`.
4. INDIVIDUALISASI SEBAGAI INTROVERSAL
Melalui pengetahuan tentang individualisasi,dapat diketahui
kepribadian yang mendalam,yang disebut; introyeksi. Tingkatnya dapat
ditelusuri. Tingkat merenggang, menjadi terpencil yang ditandai oleh kenyataan
bahwa individu mengundurkan kekuatan libidonya ke dalam dirinya sendiri. Gejala
seperti ini sering ditemukan dalam kehidupan kota besar di mana dirasakan
kurangnya keeratan hubungan persahabatan dan keramahtamahan dan kebingungan
yang disebabkan karena pada umumnya komunitas kehilangan kekuatan ekspresifnya,
karena misalnya bentuk-bentuk pemujaan dan upacara kehilangan makna
kebersamaannya dan makna perseorangannya. Hilangnya jarak aktivitas karena
demikian sibuknya,keterbatasan kemungkinan untuk membagi ekspresi emosional,
kesemuanya itu memberikan andil terhadap merenggangnya hubungan, introspeksi
dan pengarahan perhatian ke dalam diri sendiri (indwardness) dan memberikan
andil terhadap sublimasi energi menuju kepada suatu kesukaan memikirkan diri
sendiri daripada memikirkan orang lain (introversion). Proses ini, yang
berkombinasi dengan munculnya kecintaan terhadap diri sendiri,memungkinkan
terbentuknya cinta romantis.
Kemudian berkembanglah suatu penerimaan terhadap privasi dan
isolasi sebagian sebagai suatu cara untuk melarikan dari kontrol eksternal,sama
halnya dengan bentuk lain dari individualisasi berhubungan erat dengan
introversi. Pengutamaan introversi adalah salah satu bentuk individualisasi
sejenis introversi ini. Selain dari itu, dalam keadaan terjadinya mobilitas
sosial dan kultural, ketika dengan tiba-tiba diperlukan penilaian kembali yang
lebih dalam,maka suasana batin yang introspektif demikian itu biasanya muncuk
terutama di kalangan orang yang banyak mempunyai waktu terluang
untuk bersenang-senang yang dikombinasikan dengan privasi. Perkembangan
harmonis keseluruhan kepribadian adalah bentuk individualisasi yang di senangi
orang demikian itu, yang memandang barang sesuatu tidak secara spesifik tetapi
sebagai yang memperlihatkan keseragaman dan kesatuan pengalaman sekaligus. Bagi
orang demikian itu, jarak sosial dari bidang pekerjaan dan perjuangan sosial
mengakibatkan berkurangnya ketundukan terhadap kekuasaan atau menyelesaikan
fakta-fakta eksternal. Seniman-seniman besar zaman Renaisan,sastrawan dan
ilmuwan abad ke 17 dan ke 18 dan beberapa orang ahli pikir inggris abad ke 20
memperlihatkan sikap serupa itu.
D. INDIVIDUALISASI DAN SOSIALISASI
Di mana kesadaran terhadap
diri sendiri adalah dominan maka di situ selalu terdapat pengutamaan baik
terhadap diri sendiri maupun pengutamaan diri kita sendiri terhadap diri orang
lain. Jika kita berbicara tentang seseorang yang suka mementingkan diri sendiri
atau yang memusatkan perhatian kepada dirinya sendiri, maka kita berfikir
mengenai dia sebagai orang yang kurang mampu melihat barang sesuatu dalam
hubungannya dengan sudut pandang orang lain. Orang serupa itu belum secara
keseluruhannya melewati fase awal dari kesadaran sosial di dalam mana kita melihat
barang sesuatu hanya dalam hubungannya dengan kita. Sebagai contoh,anak yang
tak mempunyai saudara kandung laki-laki atau perempuan, sering sekali menjadi
orang yang suka memusatkan perhatian kepada diri sendiri (self centred). Orang
yang demikian itu belum cukup di sosialisasikan. Dengan sosialisasi kita
maksudkan sebagai proses yang berlawanan dengan individualisasi. Sosialisasi
ialah proses pengembangan diri sendiri. Pengembangan diri sendiri ini mengikuti
garis tertentu yang dapat disebut sebagai jalan sosial menuju pengembangan diri
sendiri.
Para sosiolig telah menunjukkan tentang adanya berbagai bentuk
pengembangan diri dengan istilah simbolis seperti berikut:
1. Spheric-self. Yakni orang yang tak mau
bekerjasama, terutama tak mau cocok dengan orang yang dekat hubungannya
dengannya.orang yang dijauhi oleh orang yang memiliki aspek kepribadian seperti
itu justru adalah orang yang sering memperhatikannya karena mereka sering
melihatnya,sebagai contoh,tetangganya dan pengasuhnya semasa kecil. Tetapi
buku-buku bacaan,perjalananya,kehidupan orang besar,dan stratifikasi sosial
dapat merentangkan radius aktivitas perseorangan dan dengan demikian tak
menguntungkan bagi pengembangan kepribadian yang tak mau bekerjasama ini.
2. Linier-self. Yakni kepribadiaan yang tetap
sejalan dengan garis keluarga. Kepribadian ini mendorong seseorang untuk banyak
berkorban agar tidak mencemarkan nama baik nenek monyangnya atau untuk tidak
menjadi halang-perintang bagi anak cucunya. Di sini perasaan kekeluargaan menjadi
saingan bagi perasaan sosial yang lebih luas.
3. Flat-self. Muncul jika perasaan sosial hanya
terbatas pada orang yang berasal dari setrata sosial tertentu di mana ia
menjadi salah seorang yang termasuk kedalamnya. Sosialisasi horisontal demikian
ini melemahkan rintangan perasaan iri yang muncul di kalangan kehidupan
bertentangan,jemaah dan di bidang wewenang, tetapi sebaliknya menciptakan
perasaan iri yang baru lainnya. Sementara permusuhan dalam komunitas dapat
menghindarkan kerusuhan dengan jalan saling menghilangkannya satu sama lain,
maka pemusuhan antara kelas sosial tak dapat menghindarkan kontak-kontak sosial
dan dengan demikian tak dapat melenyapkan pergeseran-pergeseran atau
friksi antara kelas sosial itu.
4. Vein-self. Dalam kota-kota besar demokratis,
persaudaraan dan persahabatan cenderung mengikuti garis pekerjaan.
Contohnya,wartawan surat kabar saling mengenal satu sama lain dan saling
bertemu muka dengan sebagian besar wartawan surat kabar yang lain. Kenyataan
bahwa mereka saling berkompetisi, dikalahkan oleh adanya kepentingan bersama
yang terdapat pada mereka semuanya. Mereka yang tidak memcintai panggilan
dirinya sendiri dan mempunyai profesi yang terlalu banyak dapat mengikuti suatu
garis non-profesional dari kepentingan pribadinya.
5. Star-self. Pengenbangan kepribadian,dalam
beberapa hal akan mendapat simpati dari berbagai jenis orang menurut lapisan
yang berbeda.jadi akan timbul kepribadian teladan (star self) yang memancar ke
berbagai bidang. Contohnya dapat ditunjukkan pada kepribadian Goethe, Albert
Schweitzer, dan Betran Rusell.
Diperensiasi fungsional dan kompleksitas kehidupan masyarakat
kota, mendorong pengembangan kepribadian teladan ini. Sejumlah besar persoalan
yang memerlukan kerjasama (team work) terutama didasarkan atas harga yang harus
dibayar terhadap spheric-self tersebit di atas.
Adalah menjadi tugas sosiolog dan para pendidik di masa mendatang
untuk meneliti situasi sosial yang mana yang dapat membantu perkembangan dan
perluasan kepribadian yang sesuai dengan tuntutan kerjasama ini dan berbagai
kelemahan sosial lainnya.
Bagaimana juga, adalah penting ditekankan di sini bahwa
pengertian-pengertian di atas hendaknya jangan dihypothesakan sebagai
kepribadian yang tepisah satu sama lain. Kelima pengertian di atas mempunyai
keterbatasan penggunaannya secara praktis bagi sosiolog. Pertanyaan mendasar
yang dapat timbul adalah: bagaimanakah sifat dasar kepribadian yang telah
mendapatkan sumbangan pengaruh dari proses individualisasi dan proses
sosialisasi itu
BAB VI
E. KOMPETISI DAN MONOPOLI
Salah satu kekuatan sosial terpenting ialah kompetisi. Kita dapaat
mengklasifikasikan kekuatan sosial menjadi dua kelompok. Pertama, kekuatan
sosial yang mendorong perkembangan kerjasama, dan kedua kekuatan yang memaksa
orang untuk bertidak bertentangan dan beroposisi satu sama lain. Kekuatan
sosial utama yang mendorong orang untuk bertindak bertentangan satu sama lain
adalah perjuangan. Prjuangan dapat dirumuskan sebagai antar hubungan sosial di
mana kita ingin memaksa orang lain atau kelompok lain dengan kekuatan, agar
supaya bertindak menurt kemauan kita. Melalui perjuangan ini, perlawanan
dari orang lain itu diatasi. Kompetisi, sebaliknya dapat dianggap sebagai
sejenis perjuangan secara damai. Dengan demikian, dapat dirumuskan sebagai
suatu upaya secara damao dari beberapa individu atau kelompok untuk
mendapatakan barang sesuatu yang sama.
Kompetisi, seperti perjuangan, adalah suatu kategori universal
dari kehidupan. Dalam biologi kita berbicara tentang : perjuangan untuk
mempertahankan hidup dan ini adalah kategori universal dari kehidupan sosial.
Banyak orang yang percaya bahwa kompetisi adalah suatu fenomena ekonomi murni,
yang terutama dilambangkan oleh barter. Namun tak ada yang lebih keliru
daripada pemberian arti yang terbatas seperti itu terhadap istilah kompetisi.
prinsip kompetisi ialah samaa-sama bekerja ketika sejenis perlombaan terjadi,
tujuan bersama bagi setiap orang yang berkompetisi adalah mencoba untuk
mencapai tujuan paling dahulu daripada orang lain. Tetapi adalah juga
kompetisi, jika dua sekolah yang berbeda mencoba menyelesaikan problema ilmiah
yang sama,atau juka dua orang laki-laki ingin merebut hati dan mengawini wanita
yang sama. Ini penting untuk diperhatikan bahea semua barang-barang yang berbeda
itu kepunyaan bersama, dan kompetisi bekerja dalam keseluruhan bidang itu.
Kompetisi ekonomi termasuk ke dalam lapangan yang sama dan dalam hubungan ini
sekali lagi menjadi jelas bahwa ilmu ekonomi berhubungan erat dengan sosiologi.
Melihat riwayat ide kompetisi, adalah menarik dicatat bahwa
prinsip kompetisi mula-mula diselidiki dalam ilmu ekonomi, baru kemudian
dialihkan ke bidang biologi. Adam smith dan para penganut aliran physiocrat
lainnya adalah orang yang mula-mula melakukan analisa sistematis tentang
kompetisi. Menurut mereka, kemerdekaan dan kompetisi adalah elemen yang
diperlukan dalam mencpai keselarasan kepentingan. Malthus dalam karyanya Essay
on the principle of population (1798) menyatakan suatu pandangan yang
mengecilkan hati tentang adanya suatu kecenderungan umum bahwa pertambahan
jumlah penduduk berlangsung menurut deret ukur sedangkan pertambahan produksi
bahan makanan hanya menurut deret hitung. Charles Darwin adalah orang yang
mula-mula mengalihkan ide tentang kompetisi kehidupan biologi di tahun 1859. Ia
menganggap kehidupan makhluk hidup sebagai suatu perjuangan untuk
memepertahankan hidup dan sampai kepada suatu kesimpulan bahwa perjuangan ini
mendorong organisme secara individual untuk menyesuaikan dirinya terhadap
situasi khususnya sendiri. Jadi Darwin yang dipengaruhi oleh esei Malthus,
mengembangkan prinsip mengenai seleksi alamiah melalui perjuangan
mempertahankan hidup.
Hendaknya jangan dilupakan bahwa esei Malthus itu adalah suatu
reaksi yang pesimis melawan optimisme teori sosial yang diajukan oleh Godwin
dan Condoret yang mempercayai tentang kesempurnaan yang tak ada akhirnya dan
persamaan alamiah umat manusia.
1. FUNGSI KOMPETISI
Kita membedakan antara kompetisi perseorangan dan
kompetisi antar kelompok. Walaupun kompetisi didorong oleh tujuan-tujuan
perseorangan tetapi kompetisi itu melaksanakan fungsi sosial dari seleksi,
terutama dalam menetapkan satu tempat untuk setiap orang di dalam sistem
sosial. Alternatif utama bagi kompetisi sebagai suatu cara untuk menetapkan
tempat bagi masing-masing individu di dalam sistem sosial adalah sebagai
berikut;
a) Penetapan status sosial melalui warisan turun
menurun
b) Penetapan prinsip senioritas
c) Penetapan ukuran kemampuan melalui bentuk-bentuk
testing yang bertingkat.
Masyarakat yang
merencanakan dan seluruh masyarakat lainnya yang ingin menimalkan kompetisi,
boleh memilih diantara alternatif di atas.
Sejumlah aktivitas yang berhubungan dengan proses seleksi dalam
setiap masyarakat adalah suatu indek dari kompetisi. Di dalam masyarakat yang
statis, di mana biasanya anak-anak mengikuti pekerjaan orangtuanya; di mana
posisi tertentu dipertahankan pleh segelintir kasta, dimana sistem
memilih melalui suatu proses pemilihan tidak dikenal, maka orang hanya
mengorbankan sedikit tenaga untuk menemukan suatu tempat di dalam sistem sosial
demikian. Intensitas kompetisi berbeda-beda, sesuai dengan tingkat kemerdekaan
perseorangan, sesuai dengan tingkat perubahan sosial, dan berkebalikan dengan
sifat badan-badan selektif.
Semakin bebas individu dalam memilih tingkat upah yang lebih baik,
atau semakin jarang orang mengalami diskriminasi rasial, keagamaan atau
diskriminasi kelas, maka semakin tinggi tingkat kemajuan umum yang dicapai oleh
masyarakat yang bersangkutan.
Perubahan sosial membuaka kesempatan baru banyak orang, yang dalam
keadaan yang lain orang mungkin harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa mereka
ditentukan untuk selama-lamanya. Contoh menarik dari proses ini ialah pengaruh
peningkatan industri mobil di Amerika Serikat, yang mana selama 25 tahun
menyerap tenaga kerja sejuta orang dan sangat sedikit di antara mereka yang
mewariskan pekerjaan mereka kepada anak mereka. Makin baik badan-badan selektif
makin ekonomis dan makin tepat penyaringan terhadap orang-orang yang
berkompetisi.
2. AKIBAT KOMPETISI
Setiap orang yang berkompetisi akan mencoba menyesuaikan diri
mereka sendiri sebaik mungkin dengan kondisi khusus mereka sendiri agar supaya
menjadikannya sebagai orang yang terbaik, dan individualisasi adalah suatu
produk dari penyesuaian diri ini, di mana mentalitas perseorangan dari seorang
individu mencerminkan struktur dari situasi dan kekhasan dari orang yang
berkompetisi itu. Kompetisi mempertinggi keanekaragaman kepandaian, kekenyalan
dan mobilitas individu yang terlibat di dalamnya. Kompetisi dalam sebagian
besar kasus, berhubungan erat dengan mobilitas. Hanya jika saya dapat maju
menuju kemungkinan mencapai prestasi terbaiklah maka kompetisi mampu
mengembangkan potensi sosial saya. Bagaimana pun juga, kompetisi individual
adalah suatu perantara yang cenderung memecah solidaritas kelompok.
Pasar adalah tempat di mana kompetisi mula-mula timbul,mula-mula
terdapat di kawasan perbatasan suku, yakni ditempat mana komunikasi antar suku
berlangsung. Pandangan yang timbul di dalam situasi marjinal ini kemudian
menerobos ke tengah-tengah masyarakat dan dengan demikian dimulailah
transformasi ke arah situasi masyarakat yang serakah.
Secara psikologis,kompetisi cenderung menciptakan perasaan inferior.
Ini adalah konsekuensi dari cara-cara melalui mana kompetisi itu berlangsung.
Di sini dibedakan dua jenis perasaan inferior yang bersumber pada kompetisi.
Pertama, perasaan inferior yang menyebabkan individu menjadi aktif,yang
memaksanya untuk menyesuaikan dirinya sendiri dengan cara yang lebih baik
terhadap situasinya. Perasaan seperti ini menciptakan insentif baru dan
mendorong untuk menghormati kepribadian orang lain. Perasaan inferior kedua,
ialah yang melumpuhkan kekuatan individu dan memaksanya untuk menerima saja
perasaan inferiornya itu. Jenis pertama adalah potensial dan aktual dan dalam
kebanyakan kasus di sebabkan karena kompetisi yang benar-benar bebas. Sedangkan
jenis perasaan inferior kedua, terutama dibantu perkembangannya oleh tingkahlaku
yang otoriter dari mereka yang mendominasi individu yang berbeda pada posisi
yang lemah.
Pertanyaan yang timbul di sini adalah seperti berikut: siapakah
saingan kompetisi anda? Bagaimana acaranya anda mengkonpensasikan perasaan
inferior anda? Apakah kompetisi itu meningkatkan kekuatan anda ataukaah situasi
kompetisi demikian itu anda hadapi dengan menarik diri dan lari ke dalam diri
sendiri, sehingga anda menjadi seorang pendiam dan pelamun? Apakah kompetisi
itu membesarkan hati dan mendorong anda ataukah mengecilkan dan menciutkan hati
anda dalam berusaha?
Suatu perasaan inferior yang minimum sering perlu untuk menemukan
cara-cara penyesuaian diri yang baru, yang dibutuhkan dalam menghadapi situasi
baru. Perasaan inferiorlah yang menciptakan dalam diri individu suatu desakan
untuk mengkompensasikan perasaan inferiornya sendiri. Mekanisme ini dapat
mengubah penampilan yang buruk menjadi penampilan yang lebih baik di sekolah,
di tempat bekerja, dan sebagian. Tetapi sejumlah perasaan inferior yang berlebih-lebihan
melumpuhkan aktivitas individu,karena perasaan demikian merusak keseimbangan
kepribadiannya dan penilaiannya terhadap dirinya sendiri.
Tentu saja juga ada metode untuk menghilangkan perasaan inferior
seseorang. Contohnya, pertama sebagai pengganti pengembangan kemampuan diri
kita sendiri, kita mencoba membatasi lawan berkompetisi kita seperti ketika
seorang pimpinan menengah dalam suatu birokrasi memilih para asistennya dari
kalangan orang yang tidak berbakat, dan dengan demikian menimbulkan kemungkina
untuk menguasai perasaan inferior itu. Atau kedua, dengan mencemarkan ide-ide
atau nama baik orang lain yang berkompetisi dengan kita. Menurut cara ini,
kebencian, iri hati, dan dendam kesumat di lawan dengan kepahlawanan, dengan
kekesatriaan. Atau ketika prestasi kita sedang meningkat,kelompok lain yang
kurang berefektif mungkin mencoba menghasut orang lain untuk memusuhi kita yang
lebih efisien dan yang lebih berhasil. Contohnya kasus demikian ini dapat
ditunjukkan ketika para bangsawan pemilik tanah mencoba menciptakan perasaan
permusuhan melawan pengusaha industri yang banyak menghasilkan uang. Pencarian
`kambing hitam` juga bukan suatu hal yang taklazim dilakukan orang; kegagalan
yang bersumber sebenarnya pada kelemahan kita sendiri, kita lemparkan
kesalahannya kepada orang lain sebagai biang keladinya.
3. KETERBATASAN METODE KOMPETISI
Sepanjang kompetisi bekerja menurut cara-cara yang
konstruktif,maka ia akan memaksa individu untuk meningkatkan usaha
perseorangannya dan mendorongnya untuk berprestasi semaksimal mungkin. Karena
kompetisi berperan sangat efektif,maka sebagai akibatnya dimungkinkan untuk
memilih yang terbaik dri segi tipe manusianya yang paling menonjol dan dari
segi penampilannya yang terbaik dalam pekerjaan. Tetapi ada suatu kemungkinan
bahwa prinsip kompetisi yang sama,justru dapat menghasilkan akibat-akibat yang
berlawanan,dan menjadi alat dari cara-cara pemilihan yang bersifat negatif.
Karena itu kompetisi secara bebas harus selalu disertai dengan peraturan yang
mengikat dan standar yang di terima secara umum. Di sini, fenomena perlakuan
yang wajar terhadap semua orang (disebut: fair-play ) termasuk ke dalam nya.
Perlakuan yang wajar terhadap semua orang berarti bahwa baik dalam
keseluruhan masyarakat atau sekurang-kurangnya dalam salah satu stratanya,
suatu kontrol sosial tertentu berlaku dalam bentuk suatu standar tinhkahlaku
yang mempengaruhi mentalitas individu yang berkompetisi itu. Kejujuran seperti
itu dapat dimasukkan ke dalam situasi kompetisi di sekolah, di dalam dunia
usaha, dan di dalam bidang perjuangan politik. Kelompok harus menerima
sekurang-kurangnya harus ditegur oleh beberapa orang anggotanya,dan pemimpin
harus pula menerima suatu standar sosial yang menentukan, yang menjamin
kewajaran dan kejujuran terlaksana di kalansgan orang yang berkompetisi. C.H.
Cooley adalah orang yang pertama yang menyadari arti penting prinsip fair-play
ini.
BAB VII
MANUSIA, SAINS, DAN SENI
A. HAKIKAT DAN MAKN SAINS, TEKNOLOGI, DAN SENI BAGI
MANUSIA
Selama
perjalanan sejarah, umat manusia sudah berhasil menciptakan berbagai ragam
kebudayaan. Berbagai macam atau ragam kebudayaan, tersaebut hanya meliputi
tujuh buah kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan tersebut merupakan unsur-unsur
pokok yang selalu Vada pada pokok kebudayaan. masyarakat yang ada dibelahan
dunia ini. Menurut Kluchkhon sebagaimana dikutip Koenjaraningrat (1996), bahwa
ketujuh unsur pokok kebudayaan tersebut meliputi peralatan hidup (teknologi),
sistem mata pencaharian hidup (ekonomi), sistem kemasyarakatan (organisasi
sosial), sistem bahasa, kesenian (seni), sistem pengetahua ( ilmu
pengetahuan/sains), serta sistem kepercayaan (religi).
Ketujuh
unsur budaya tersebut merupakan unsur-unsur budaya pokok yang pasti ada atau
kita ketemukan apabila kita meneliti atau mempelajari setiap kehidupan
masyarakat mana pun di dunia ini. Karena ada pada setiap kehidupan masyarakat
didunia, maka ketujuh unsur pokok dari kebudayaan yang ada di dunia itu sering
kali dikatakan sebagai unsur – unsur budaya yang bersifat universal, atau
unsur-unsur kebudayaan universal.
Ilmu
pengetahuan (sains), peralatan hidup (teknologi), serta kesenian (seni), atau
yang disingkat Ipteks, termasuk bagian dari unsur-unsur pokok dari kebudayaan
universal tersebut. Maka dapat dipastikan Ipteks akan kita jumpai pada setiap
kehidupan masyarakat manusia dimana pun berada, baik yang telah maju, sedang
berkembang, sampai pada masyarakat yang masih sangat rendah tingkat
peradabannya. Bahkan, pada kehidupan masyarakat purba atau pada zaman
prasejarah sekalipun, ketujuh unsur-unsur budaya universal tersebu telah ada,
termasuk Ipteks, meskipun tentunya pada tingkatan yang sangat sederhana atau
primitif sekali.
Salah
satu bukti bahwa pada zaman purba telah muncul ketujuh unsur-unsur budaya
universal adalah pada zaman itu manusia telah mengenal adanya
peralatan hidup atau teknologi berupa alat-alat sederhana yang terbuat dari
batu maupan dari tulang yang diginakan untuk mencari makanan (berburu, meramu
makanan, atau bercocok tanam secara sederhana atau berladang). Kemudian, pada
saat itu manusia purba juga telah mengenal adanya sistem kepercayaan yang
sekaligus menunjukkan adanya nilai seni serta sistem mata pencaharian hidup
manusia purba, yakni sebagaimana terpotret pada gambar gambar mistis berupa
lukisan telapak tanganserta lukisan babi rusa yang terkena panah pada bagian
perutnya, yang ditemukan di gua-gua tempat tinggal mereka. Pad zaman purba,
ternyata juga telah dikenal adanya sistem pengetahuan dalam pelayaran yang
menggunakan sandaran pengetahuan pada perbintangan.
Demikianlah
pada masa-masa sesudahnya, pelan tetapi pasti Ipteks terus berkembang semakin
maju sejalan dengan kemajuan penalaran yang telah dicapai oleh umat manusia.
Bahkan, kini Ipteks yang pada awal perkembangannya berasal dari embrio
filsafat, sekarang pertumbuhannya telah bercabang-cabang menjadi puluhan,
bahkan ratusan disiplin ilmu ataupun teknologi yang masing-masing memiliki
karakteristik serta dasar keilmiahannya sendiri-sendiri.
Salah
satu fungsi utama ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk sarana bagi
kehidupan manusia, yakni untuk membantu manusia agar aktivitas kehidupannya
menjadi lebih mudah, lancar, efisien, dan efektif,sehingga kehidupannya menjadi
lebih bermakna dan produktif. Oleh karena itu, khususnya dalam ilmu
antropologi, istilah atau pengertian ilmu pengetahuan sering dipakai untuk
merujuk pada keterkaitan antar manusia, lingkungan, dan kebudayaan. Hal ini
dikarenakan dalam berinteraksi menghadapi lingkungannya, manusia mau tidak mau
pasti akan berusaha menggunakan sarana-sarana berupa pengetahuan yang dimiliki
serta menciptakan peralatan hidup untuk membantu kehidupannya. Dengan demikian,
Iptek bagi manusia selalu berkaitan dengan usaha manusia untuk menciptakan
taraf kehidupannya yang lebih baik.
Dalam
definisi lain (terutama berdasarkan kajian filsafat ilmu) istilah Iptek
(ilmu,pengetahuan, dan teknologi) juga sering dibedakan secara terpisah atau
sendiri-sendiri, karena masing-masing dari ketiga istilah itu dianggap memiliki
bobot keilmiahan yang berbeda-beda. Menurut pengertian ini, pengetahuan
merupakan pengalaman yang bermakna dalam diri tiap orang yang tumbuh sejak ia
dilahirkan. Oleh karena itu, manusia yang normal, sekolah atau tidak sekolah,
sudah pasti dianggap memiliki pengetahuan. Pengetahuan dapat dikembangkan
manusia karena dua hal.Pertama, manusia mempunyai bahasa yang dapat
mengomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua,
manusia mempunyai kemampuan berpikir menurut suatu alur pikir tertentu yang
merupakan kemampuan menalar. Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam
menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
Namun
begitu, yang namanya pengetahuan sifatnya acak, dan bagi kita (manusia),
pengetahuan tersebut sangat potensial. Hanya saja, dalam kehidupan yang makin
berkembang, kompleks, serta penuh tantangan ini, pengetahuan yang sifatnya acak
tersebut nilai fungsionalnya tidak sampai mencapai tingkatan yang optimum guna
menghadapi tantangan serta memecahkan masalah yang makin rumit. Oleh karena
itu, pengetahuan yang sifatnya acak tadi perlu ditingkatkan derajat atau bobot
keilmiahannya sehingga berubah menjadi ilmu. Dengan demikian, pengetahuan yang
bersifat acak serta terbuka itu dengan melalui proses yang cukup anjang, dapat
diorganisasikan dan disusun menjadi bidang bidang seperti filsafat, humaniora,
serta ilmu.
Selanjutnya
dalam kaitannya dengan ilmu. Ilmu itu sendiri secara garis besar dapat
dikelompokkan menjadi dua buah golongan besar, yakni ilmu eksak dan noneksak,
atau ilmu pengetahuan alam (IPA ) serta ilmu pengetahuan sosial (IPS ). Jika
dilihat dari ciri-cirinya serta dibandingkan dengan pengetahuan yang acak dan terbuka
lainnya, terletak pada adanya unsur sistematika, obkek kajian, ruang lingkup
kajian, serta metode yang diterapkan serta dikembangkannya. Jadi, ilmu
sesungguhnya merupakan pengetahuan yang sudah mencapai taraf tertentu yang
telah memenuhi sistematika, memiliki objek kajian, dan metode pembahasan akan
kajian tersebut.
Ilmu
dapat diartikan sebagai pengetahuan yang tersusun secara sistematis dengan
menggunakan kekuatan pemikiran, dimana pengetahuan tersebut selalu dapat
dikontrol oleh setiap orang yang ingin mengetahuinya. Berpijak dari pengertian
ini, maka ilmu memiliki kandungan unsur-unsur pokok sebagai berikut.
1. Berisi pengetahuan (knowledge)
2. Tersusun secara sistematis.
3. Menggunakan penalaran.
4. Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain.
Ilmu pengetahuan bersifat fungsional dalam kehidupan manusia
sehari-hari. Dengan pengetahuan, maka pemanfaatan benda, alat, senjata, dan
hewan, menjadi lebh mudah serta terarah guna mencapai hasil atau apa yang
diinginkannya. Apalagi setelah pengetahuan itu tersusun menjadi sebuah ilmu
(ilmu pengetahuan), maka fungsi dan penerapannya dalam rangka memanfaatkan
sebuah benda, alat, senjata, atau hewan tadi akan menjadi lebih baik lagi.
Sementara
itu, lebih khusus lagi jika pengetahuan dan ilmu pengetahuan tadi diterapkan
dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka untuk menampilkan sesuatu, maka akan
menghasilkan kemampuan apa yang kemudian disebut teknologi. Oleh
karena itu, sebagaimana dikatakan Brown (1980), bahwa teknologi pada hakikatnya
merupakan penerapan pengetahuan oleh manusia guna mengerjakan suatu tugas yang
dikehendakinya. Dengan kata lain, teknologi pada hakikatnya merupakan penerapan
praktis pengetahuan untuk mengerjakan sesuatu yang kita inginkan. Pengertian
senada juga pernah ditegaskan oleh Marwah Daud Ibrahim, yang menyatakan bahwa
ilmu pengetahuan pada hakikatnya adalah suatu jawaban sistematis atas kata atau
pertanyaan “mengapa”, sedangkan teknologi adalah jawaban praktis dari
pertanyaan “bagaimana”. Selanjutnya, dengan teknologi itu orang lalu dapat
memanfaatkan gejala alam, bahkan bisa mengubahnya.
Sebenarnya
masih banyak lagi definisi lain yang dibuat oleh para ahli tentang ilmu,
teknologi, serta seni yang dibuat oleh para ahli. Berbagai defenisi itu telah
diberikan oleh para filsuf, ilmuwan serta budayawan, yang mana masing masing
seolah membuat defensi sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Misalnya saja
yang paling sederhana mengatakan bahwa sains atau ilmu pengetahuan yang
sistematis. Sedangkan pengertian yang lebih luas dikatakan bahwa yang disebut
sainsadalah himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui suatu proses
pengkajian dan dapat diterima secara rasio. Jadi, dalam pengertian yang lebih
luas ini sains dikatakanya sebagai suatu himpunan rasionalitas kolektif insani.
Seacara etimologis, kata sains sendiri berasala dari bahasa Latin, yaitu scire,
yang berarti mengetahui atau belajar. Sedangkan sebagaimana sudah kita pahami
bersama bahwa kata sains sendiri dalam pengertian atau terjemahan bahasa
Indonesia berarti ilmu pengetahuan.
Sebagaimana
juga pernah disinggung sebelumnya, jika dilihat dari segi filsafat ilmu antara
pengetahuan dan sains adalah berbeda (memilki makna berbeda). Pengetahuan
adalah segala sesuatu yang diketahui oleh manusia melalui tangkapan panca
indera, intuisi, serta firasat, sedangkan ilmu pengetahuan yang sudah
diklasifikasi, diorganisasi, disistemisasi, serta diinterprestasikan sehingga
menghasilkan kebenaran yang objektif, sudah teruji kebenarannya, serta dapat
diulang secara imiah. Dalam sudut pandang filsafat imu, istilah
sains juga telah dipahami oleh masyarakat Indonesia menjadi suatu istilah baku,
yaitu ilmu pengetahuan.
Lalu,
timbul pertanyaan kapanatu bilamana kira-kira suatu pngetahuan itu dapat
dikategorikan sebagai suatu ilmu (sains/ilmu pengetahuan). Dalam kajian
filasafat ilmu, suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu apabila
memenuhi tiga kriteria pokok sebagai berikut.
1. Adanya aspek ontologis, artinya bidang studi yang bersangkutan telah
memiliki objek studi/kajian yang jelas. Dalam hal ini, bahwa yang nama nya
objek suatu studi itu haruslah yang jelas, artinya dapat diindentifikasikan,
dapat diberi batasan, serta dapat diuraikan sifat nya yang esensial. Objek
studi suatu ilmu itu sendiri terdapat dua macam, yaitu objek material serta
objek formal.
2. Adanya aspek epistemologi, yang artinya bahwa bidang studi yang
bersangkutan telah memiliki metode kerja yang lebih jelas. Dalam hal ini
terdapat tiga metode kerja suatu bidang studi, yaitu deduksi, induksi, serta
eduksi.
3. Adanya aspek aksiologi, yang artinya bahwa bidang studi yang bersangkutan
memiliki nilai guna. Misalnya, bidang studi tersebut dapat menunjukkan adanya
nilai teoritis, hukum, generalisasi, kecenderungan umum, konsep, serta
kesimpulan yang logis, sistematis, dan koheren. Selain itu, bahwa dalam teori
serta konsep tersebut tidak menunjukkan adanya kerancuan, perentangan
kontradiktif diantara satu sama lainnya.
Dalam filsafat ilmu, setiap ilmu membatasi diri pada salah satu
bidang kajian. Oleh karena itu, ada seseorang yang hanya mendalami bidang ilmu
tertentu dalam masyarakat, yang kemudian disebut sebagai spesialis,
dan ada pula seseorang yang banyak tahu dalam bidang ilmu, namun tidak sampai
mendalam, atau yang kemudian disebut generalis. Namun, karena
keterbatasan manusia maka sangat jarang ditemukan adanya seseorang dalam
masyarakat yang menguasai beberapa ilmu secara mendalam.
Setelah kita mengetahui tentang pengertian sains (ilmu
pengetahuan) dan teknologi, kemudian perbedaan serta hubungannya masing-masing,
lalu muncul pertanyaan lagi, yaitu bagaimana hubungannya dengan seni dalam
kehidupan manusia ? Nah, untuk dapat menjawab pertanyaan ini, berikut akan kita
uraikan sedikit tentang bagaimana keterkaitan di antara unsur-unsur Ipteks itu
dalam kaitannya dengan kehidupan manusia di alam semesta ini.
Dalam pemikiran Barat, sains emiliki tiga karakteristik pokok,
yaitu bersifat obyektif, netral, serta bebas nilai. Karakteristik sebuah ilmu
pengetahuan bersifat obyektif dan netral itu sudah jelas, namun apakah benar
bahwa sains itu juga harus bebas nilai ? tampaknya disinilah permulaan yang
akan kita bahas didalam menghubungkan antara pengetahuan, sains, teknologi,
serta seni dalam kehidupan manusia. Menurut sebagian ahli, bahwa sekalipun
diakui berpijak dari sistem nilai, namun sains tetap bebas dari
pertimbangan-pertimbangan nilai. Akan tetapi, mereka mengakui bahwa sains tetap
berpijak pada sistem nilai. Karena dalam pandangan mereka, hubungan langsug
diantara fakta dan bukan fakta, sedangkan pertimbangan-pertimbangan nilai
menurut mereka bukanlah wewenang dari sains. Namun perlu juga diketahui bahwa
fakta itu sangat tergantung pada sains, dan tergantung pula
pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para ilmuwan sendiri, karena memang
dialah yang menentukan fakta mana saja yang lebih relevan dan apa saja yang
dapat dikatakan sebagai fakta ilmiah.
Jadi, dalam pengertian tersebut bahwa fakta itu jelas sangat
tergantung pada jiwa seseorang dalam memilih pertanyaan yang diformulasikan dan
yang tergabung dalam aksioma serta pemilihan aksioma tadi. Jadi, bukanlah
pilihan pertanyaan dan aksioma terlepas dari pilihan serta pertimbangan nilai
nilai ? meskipun memang benar dikatakan bahwa nilai itu tidak akan bisa
langsung keluar dari fakta, namun sebuah fakta hanya akan menjadi relevan dan
signifikan apabila melalui sebuah sistem niali. Karena disini yang dikatakan
fakta hanya akan timbul karena daya sains yang bersifat objektif dan tanpa
pamrih.
Sedangkan
pada sisi lainnya, dikatakan bahwa meskipun teori pada sains juga dibangun
diatas fakta, tetapi laporan tentang fakta itu sendiri juga tidak luput dari
interprestasi. Oleh karena itu, dikatakan bahwa sains terbentuk karena adanya
pertemuan dua orde pengalaman, yakni orde observasi dan orde konsepsional. Orde
observasi didasarkan pada hasil observasi fakta, sedangkan orde konsepsi
didasarkan pada hasil pemahaman manusia mengenai alam semesta, karena itu
sifatnya menjadi sangat subjektif. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa sains,
tidak bisa bebas dari nilai-nilai. Jadi, sesuai dengan sifat sains itu sendiri
yang kebenaranya bersifat tidak mutlak.
Sedangkan
berbicara masalah teknologi, dimana istilah teknologi itu sendiri sebenarnya
sudah mengandung pengertian sains dan teknik atau engineering, sebab produk
teknologi tidaklah mungkin ada tanpa didasari adanya sains. Sementara itu,
dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai
hasil penerapan praktis dari sains. Walaupun pada dasarnya teknologi juga
memiliki karakteristik objektif dan netral, namun dalam kenyataannya teknologi
tidak bisa netral seluruhnya karena memerlukan juga sentuhan estetika yang
bersifat objektif.
Pada
titik ini kita berbicara tentang seni. Seni berasal dari bahasa Latin,
yaitu ars yang berarti kemahiran. Secara etimologis, seni
(art) diformulasikan sebagai suatu kemahiran dalam membuat barang atau
mengerjakan sesuatu. Pengertian seni merupakan kebalikan dari alam, yaitu
sebagai hasil campur tangan (sentuhan) manusia. Seni merupakan pengolahan budi
manusia secara tekun untuk mengubah suatu benda bagi kepentingan rohani dan
jasmani manusia. Seni merupakan ekspresi jiwa seseorang yang hasil ekspresi
tersebut berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Seni dan keindahan yang
tercipta merupakan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Dengan seni, cipta dan
karya manusia, termasuk teknologi, di dalamnya mendapat sentuhan keindahan atau
estetika.
Dari
uraian di atas, seni diartikan sebagai kegiatan manusia (human
activity), yaitu proses kegiatan manusia dalam menciptakan benda-benda
yang bernilai estetik. Jadi, dengan sentuhan seni, teknologi
sebagai hasil karya ilmu pengetahuan manusia tidak sekadar menjadi
alat, tetapi juga bernilai indah. Contohnya, pesawat terbang sebagai karya
teknologi tidak hanya berkembaang dari sisi kualitas, kemampuan mesin, dan
ketahanannya, tetapi juga berkembang semakin estetik, baik dalam hal bangunan
bodi, model, interior pesawat, warna, dan sebagainya. Selain itu, seni juga
berarti hasil karya seni itu sendiri. Pesawat adalah teknologi hasil karya dan
juga hasil seni dari manusia.
Ilmu
pengetahuan merupakan usaha manusia untuk memahami gejala dan fakta alam, lalu
melestarikan pengetahuan tersebut secara konsepsional dan sistematis. Sedangkan
teknologi adalah usaha manusia untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan itu untuk
kepentingan dan kesejahteraan. Karena hubungan tersebut, maka perkembangan ilmu
pengetahuan selalu terkait dengan perkembangan teknologi, demikiann pula
sebaliknya.
Sains
dan teknologi saling membutuhkan, karena sains tanpa teknologi bagaikan pohon
tak berakar (science without technology has no fruit, technology
without science has no root). Sains hanya mampu mengajarkan fakta dan
nonfakta pada manusia, ia tidak mampu mengajarkan apa yang harus atau tidak
boleh dilakukan oleh manusia. Jadi, fungsi sains di sini hanyalah
mengoordinasikan semua pengalaman manusia dan menempatkannya ke dalam suatu
sistem yang logis, sedangkan fungsi seni sebagai pemberi persepsi mengenai
suatu keberaturan dalam hidup dengan menempatkan suatu keberaturan padanya.
Tujuan sains dan teknologi adalah untuk memudahkan manusia dalam menjalani
kehidupannya. Sedangkan seni memberi sentuhan estetik sebagai hasil budaya yang
indah dari manusia.
B. DAMPAK PENYALAHGUNAAN IPTEKS PADA
KEHIDUPAN
Manusia
dengan potensi akalnya, telah diberi kebebasan untuk memilih dan mengembangkan
mana yang benar dan mana yang salah. Sedangkan dengan potensinya pula manusia
dapat menggali dan mengembangkan rahasia alam semesta ini sehingga lahirlah apa
yang kemudian disebut sains, teknologi, dan seni (disingkat
Ipteks). Pada saat ini, perkembangan Ipteks sudah sedemikian
pesatnya, bahkan telah berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung
bagi kehidupan manusia, dan pengaruh tersebut menyangkut pola pikir,
pola kerja, pola hidup, maupun tingkah lakunya. Semestinya, semakin tinggi
penguasaan terhadap Ipteks, harusnya manusia semakin kritis dalam
berpikir, semakin disiplin dalam bekerja, dan semakin efisien dalam bertindak.
Akan tetapi, pada kenyatannya kebanyakan manusia justru semakin merasa dibuai
dengan semua fasilitas dan produk yang dihasilkan oleh Ipteks tersebut.
Dalam
kehidupan modern, hampir tidak ada orang yang hidup tanpa menggunakan jasa
Iptek. Semakin tinggi orang yang menggunakan jasa Iptek, semakin tinggi pula
tingkat ketergantungannya kepada alat-alat tersebut. Dampak langsung dari
kemajuan Iptek adalah kemudahan-kemudahan dalam beraktivitas. Memang Iptek
diciptakan dengan tujuan untuk memberikan berbagai kemudahan dan memperingan
beban pekerjaan manusia yang tadinya sangat melelahkan menjadi ringan. Namun,
dampak negatif dari kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, dapat
mengakibatkan masyarakat semakin terbuai, karena mereka hampir tidak sadar
bahwa ternyata dirinya telah berada dalam situasi pola hidup konsumtif,
hedonistik, dan materialistik.
Perkembangan
Iptek yang demikian pesat mampu menciptakan perubahan-perubahan yang
berpengaruh langsung pada kehidupan masyarakat, khususnya dalam
elemen-elemen sebagai berikut.
1. Perubahan di bidang intelektual; masyarakat
meninggalkan kebiasaan lama atau kepercayaan tradisional, mereka mulai
mengambil kebiasaan serta kepercayaan baru, setidaknya mereka telah melakukan
reaktualisasi.
2. Perubahan dalam organisasi sosial yang mengarah
pada kehidupan politik.
3. Perubahan dan benturan-benturan terhadap tata
nilai dan tata lingkungannya.
4. Perubahan di bidanng industri dan
kemampuan di medan perang.
Keempat
persoalan di atas kini secara langsung telah menyentuh sendi-sendi kehidupan
manusia yang menuntut keterlibatan semua pihak, yang pada akhirnya
ikut menentukan pula kelangsungan hidup umat manusia di muka bumi ini.
Dalam
pemikiran teologis, ada suatu pernyataan yang seolah-olah tabu untuk
dipersoalkan, yaitu “Kapan kira-kira kiamat itu akan terjadi?”. Di sini
jawabannya sangat normatif, yaitu hanya Tuhanlah yang tahu karena Dia-lah yang
menentukan kapan kiamat itu akan tiba. Sedangkan dalam pemikiran saintifik,
pertanyaan semacam itu ternyata bisa dikembangkan, yaitu bahwa kiamat akan
terjaadi apabila alam semesta ini sudah kehilangan keseimbangannya, dan yang
menjaga keseimbangan alam itu adalah salah satu tugas manusia. Jadi, apabila
pengembangan Iptek (oleh manusia) sampai tidak memedulikan keseimbangan dan
kelestarian (yang juga menjadi salah satu tugas manusia), maka kiamat akan
segera tiba. Dengan demikian, peristiwa kiamat dalam pandangan saintifik sangat
tergantung pada ulah manusia, yakni sejauh mana manusia di muka bumi ini dapat
menjaga dan melestarikan alam ini. Oleh karena itulah, menjadi tugas manusia
sebagai makhluk yang telah diangkat oleh Tuhan menjadi khalifah di muka bumi
ini untuk menjaga kelestarian alam ini dengan memanfaatkan serta
menerapkan hasil karya Ipteks dengan cara yang tepat.
Seperti
sudah menjadi hukum alam, di samping ada sisi positif juga muncul sisi negatif
dari kemajuan Iptek. Selain yang sudah disebutkandi atas, contoh dampak negatif
Ipteks di antaranya adalah perlombaan senjata nuklir, pelanggaran norma
kesusilaan, kriminalitas, penurunan kesehatan, dan pencemaran lingkungan hidup.
Adanya
sisi positif dan negatif dari Ipteks maka sering dikatakan bahwa kemajuan
Ipteks bermata dua atau bersifat dilematis. Di satu sisi, Iptek secara positif
telah mendatangkan rahmat, dalam arti dapat meningkatkan kesejahteraan hidup
manusia. Oleh karena itu, ada pihak yang menyatakan bahwa Iptek menjadi “tulang
punggung kesejahteraan”. Namun di sisi lain, seperti dapat kita amati dalam
kehidupan, penerapan dan pemanfaatan Ipteks itu juga telah membawa dampak
negatif atau membawa laknat dalam bentuk munculnya masalah lingkungan, seperti
pencemaran, kekeringan, banjir, tanah longsor, dan kenaikan susu udara global.
Oleh karena itu, kita sebagai umat manusia tentunya harus penuh kewaspadaan dan
kehati-hatian dalam menerapkan dan memanfaatkan Iptek, yakni yang sesuai dengan
asas-asas keserasian, keseimbangan, maupun kelestarian. Dengan demikian,
kehidupan di bumi ini akan tetap berjalan secara seimbang dan lestari.
Bukan
hanya sampai disitu, pada saat ini perkembangan Iptek juga telah merambah ke
bidang teknologi informasi dan komunikasi. Sebagaimana kita dengar atau lihat
di berbagai media massa, semenjak runtuhnya komunisme dan dilanjutkan dengan
munculnya keterbukaan, dunia seakan dilanda arus informasi dan globalisasi.
Akibat kemajuan di bidang teknologi informasi yang ditandai dengan munculnya
berbagai media komunikasi canggih, seperti pesawat telepon, komputer,
faksimili, internet, dan lain-lain, maka arus informasi semakin cepat, dan
akibat lebih lanjutnya ialah dunia seakan-akan menjadi semakin transparan
(terbuka) dan sempit. Akan tetapi, pemanfaatan dan penerapan teknologi di
bidang informasi dan komunikasi juga mengandung suatu dilema atau bermata dua,
yakni rahmat dan laknat. Di bidang komunikasi, rahmat Iptek dapat Anda amati
dan hayati, yang bukan hanya telah mengglobal, melainkan juga telah mengangkasa
luar. Bahkan, satelit komunikasi juga semakin memacu derasnya informasi.
Derasnya arus informasi ini sebagaimana dilakukan stasiun-stasiun televisi yang
telah memanfaatkan berbagai penyiaran globalnya melalui satelit-satelit
komunikasi tersebut.
Sedangkan
dampak negatif yang membawa laknat juga telah mengglobal. Berbagai pencemaran
yang berpengaruh terhadap kesehatan fisik biologis dan mental psikologis pun
telah mengglobal. Dampak negatif dari perkembangan kemajuan serta penerapan
Iptek yang telah menghasilkan berbagai ketimpangan itu oleh Alvin Toffler
(1976) disebut sebagai guncangan hari esok (future shock), yang
tidak saja telah menimbulkan guncangan fisik(physical shock), melainkan
juga guncangan kejiwaan (psychological shock). Sekarang cobalah Anda
lihat dan amati sendiri, bagaimana telah mengglobalnya berbagai penyakit yang
timbul di masyarakat pada saat ini. Mulai dari ketegangan urat sraf, darah
tinggi, sadisme, kriminalitas, mabuk, teler,dan sebagainya, adalah berbagai
macam penyakit ataupun gangguan-gangguan fisik-biologis maupun
mental-psikologis, yang tidak hanya terjadi di negara-negara tertentu saja,
melainkan juga telah meluas ke berbagai negara di penjuru dunia. Dalam kaitan
ini, maka perkembangan kemajuan Iptek di bidang komunikasi dan informasi itulah
yang dianggap menjadi salah satu sarana penyebarannya. Di sinilah kiranya letak
tuntutan bagi dunia pendidikan pada khususnya, serta masyarakat dan pemerintah
pada umumnya, bagaimana caranya menciptakan kiat-kiat khusus guna mengatasi dampak
negatif Iptek terhadap guncangan fisik serta psikologis tadi.
C. PROBLEMATIKA PEMANFAATAN IPTEKS DI INDONESIA
Ipteks
dimanfaatkan oleh manusia terutama dalam memudahkan pemenuhan kebutuhan hidup.
Contoh sederhana adalah dengan dikembangkannya sarana transportasi, manusia
bisa bergerak dan melakukan mobilisasi dengan cepat. Kemajuan yang dicapai
manusia melalui Ipteks telah memberikan dampak positif dalam hidupnya. Ipteks
memberi rahmat dalam arti memicu kemajuan dan kesejahteraan. Namun demikian,
pemanfaatan Ipteks oleh manusia dapat pula berdampak buruk bagi kehidupan dan
lingkungan hidup manusia itu sendiri. Gejala negatif itu sebagai
akibat dari penyalahgunaan dalam hal pemanfaatannya, berlebihan dalam
penggunaannya, ataupun tidak mempunyai manusia dalam mengendalikan kekuatan
teknologi itu sendirii.
Pengembangan
ilmu pengetahuan berjalan aktif di segala bidang, yaitu kesehatan, pertaniian,
ilmu ekonomi, ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, dan sebagainya. Akan tetapi,
jika diamati lebih teliti ada empat bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
strategis yang akan menentukan masa depan dunia, yaitu material, energi,
mikroelektronik, dan bioteknologi (Rahardi Ramelan, 2004). Dari bidang-bidang
tersebut menghasilkan pula empat macam teknologi, yaitu teknologi bahan,
teknologi energi, teknologi mikroelektronika, dan teknologi hayati.
Teknologi
bahan adalah teknologi yang memanfaatkan material, terutama logam
seperti besi dan baja untuk pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan bahan
material tersebut. Dewasa ini, inovasi penciptaan material baru terus
berkembang dan tidak lagi mengandalkan logam atau komponen baku yang sudah
dibentuk alam (konvensional). Berbagai komposisi baru atau pemurnian dilakukan
untuk memanfaatkan material organik dan anorganik sebagai structural
material, tool material, atau electronic/electromagnetic
materials. Pembentukan material komposit yang semula hanya menggunakan
jenis-jenis polimer sebagai serat penguat/matriks juga digunakan
pada struktur pesawat terbang, printed circuit board, dan
lain-lainnya, telah berkembang dan akan terus berkembang dengan menggunakan
bahan-bahan serat lainnya, seperti kaca/gelas, karbon, logam, ataupun keramik.
Teknologi
energi adalah teknologi dengan
memanfaatkan sumber-sumber energi. Sumber energi konvensional di dunia adalah
minyak, gas alam, batu bara, tenaga air,geothermal, dan kayu. Sumber dan
teknologi modern sudah mulai dikembangkan, termasuk tenaga nuklir, gambut,
tenaga surya, gelombang laut, tenaga panas laut, angin, dan sebagainya.
Teknologi
mikroelektronika atau
yang berkembang sekarang ini sebagai teknologi informasiatau informatika.
Teknologi informasi ialah teknologi yang digunakan untuk menyimpan,
menghasilkan, mengolah, dan menyebarluaskan informasi. Informasi yang dimaksud
mencakup numerik, seperti angka, audio, teks, dan citra seperti gambar dan
sandi. Teknologi informasi merupakan salah satu jenis teknologi yang
dikembangkan dari ilmu-ilmu dasar, seperti matematika, fisika, dan sebagainya.
Pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi ini menghasilkan ciptaan baru
berupa komputer, internet, rekayasa perangkat lunak (program), termasuk
kecerdasan buatan. Perkembangan teknologi informasi atau dengan istilah lain
teknologi telematika mendapat perhatian luar biasa dari banyak negara, termasuk
Indonesia. Perkembangan teknologi informasi ini diyakini
menjadi faktor penting munculnya globalisasi.
Teknologi
hayati atau bioteknologi adaalah teknologi yang berusaha secara sistematis
menggunakan serta mengarahkan sistem atau komune biologis, terutama
organisme kecil, untuk menghasilkan barang atau jasa secara efisien. Untuk
memengaruhi dan mengarahkan itu, kini digunakan berbagai teknik dan alat yang
dikembangkan di cabang-cabang ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya, seperti
mikrobiologi, bioengineering, gentic engineering, dan sebagainya.
Bangsa Indonesia dari dulu sudah menyadari akan
pentingnya peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan. Faktor
yang paling menentukan dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
adalah manusia, yaitu para pelaku yang menggeluti bidang penelitian dan
pengembangan serta rancang bangun dan perekayasaan. Pembinaan terhadap para
pelaku seperti perguruan tinggi dan lembaga penelitian, bahkan pembinaan
kemampuan di sektor industri mulai dilakukan. Misalkan dengan dibentuknya
berbagai wadah seperti Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Dewan Riset
nasional, Dewan Standarisasi Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, dan
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Di
era sekarang ini, perhatian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi tampak pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2004-2009, khususnya pada bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Disadari oleh bangsa Indonesia bahwa pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi
(Iptek) pada hakikatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dalam rangka membangun peradaban manusia. Sejalan dengan paradigma
baru di era globalisasi, yaitu tekno-ekonomi (techno-economy paradigm),
teknologi menjadi faktor yang memberikan kontribusi signifikan dalam
peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. Pembangunan Iptek
merupakan sumber terbentuknya iklim inovasi yang menjadi landasan
bagi tumbuhnya kreativitas sumber daya manusia (SDM), yang pada gilirannya
dapat menjadi sumber pertumbuhan dan daya saing ekonomi. Selain itu, Iptek
menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi proses transformasi sumber daya
menjadi sumber daya baru yang lebih bernilai. Dengan demikian, peningkatan
kemampuan Iptek sangat diperlukan untuk meningkatkan standar kehidupan bangsa
dan negara, serta kemandirian dan daya saing bangsa Indonesia di mata dunia.
Namun demikian, masalah yang dihadapi bangsa Indonesia terkait
dengan pemanfaatan dan kemampuan Iptek ini dapat didefinisikasi sebagai berikut
(RPJMN 2004-2009).
1. Rendahnya kemampuan Iptek nasional dalam
menghadapi perkembangan global. Hal ini ditunjukkan dengan Indeks Pencapaian
Teknologi (IPT) dalam laporan UNDP tahun 2001 menunjukkan tingkat pencapaian
teknologi Indonesia masih berada pada urutan ke-60 dari 72 negara.
2. Rendahnya kontribusi Iptek nasional di sektor
produksi. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh efisiensi dan rendahnya
produktivitasnya, serta minimnya kandungan teknologi dalam kegiatan ekspor.
3. Belum optimalnya mekanisme intermediasi Iptek
yang menjembatani interaksi antara kapasitas penyedia iptek dengan kebutuhan
pengguna. Masalah ini dapat terilihat dari belum tertatanya infrastruktur
Iptek, antara lain institusi yang mengolah dan menerjemahkan hasil
penggembangan Iptek menjadi preskripsi teknologi yang siap pakai untuk
difungsikan dalam sisitem produksi.
4. Lamahnya sinergi kebijakan Iptek, sehingga
kegiatan Iptek belum sanggup memberikan hasil yang signifikan.
5. Masih terbatasnya sumber daya Iptek, yang
tercermin dari rendahnya kualitas SDM dan kesenjangan pendidikan di bidang
Iptek. Rasio tenaga peneliti Indonesia pada tahun 2001 adalah 4,7 peneliti per
10.000 penduduk, jauh lebih kecil dibandingkan Jepang sebesar 70,7.
6. Belum berkembangnya budaya Iptek di kalangan
masyarakat. Budaya bangsa secara umum masih belum mencerminkan nilai-nilai
Iptek yang mempunyai penalaran objektif, rasional, maju, unggul, dan mandiri.
Pola pikir masyarakat belum berkembang kea rah yang lebih suka
mencipta daripada sekedar memakai, lebih suka membuat daripada sekadar
membeli, serta lebih suka belajar dan berkreasi daripada sekadar menggunakan
teknologi yang ada.
7. Belum optimalnya peran Iptek dalam mengatasi
degradasi fungsi lingkungan hidup. Kemajuan iptek berakibat pula pada munculnya
permasalahan lingkungan. Hal tersebut antara lain disebabkan oleh belum
berkembangnya system menajeman dan teknologi pelestarian fungsi lingkungan
hidup.
8. Masih lemahnya peran Iptek dalam mengantisipasi
dan menanggulangi bencana alam. Wilayah Indonesia dalam konteks ilmu kebumian
global meruapakan wilayah yang rawan bencana. Banyaknya korban
akibat bencana alam merupakan indikator bahwa pembangunan Indonesia belum
berwawasan bencana. Kemampuan Iptek nasional belum optimal dalam memberikan
antisipasi dan solusi strategis terhadap berbagai permasalahan bencana alam,
seperti pemanasan global, anomali iklim, kebakaran hutan, banjir, longsor,
gempa bumi, dan tsunami.
BAB VIII
MANUSIA DAN LINGKUNGAN
Lingkungan
(milleu) memiliki hubungan dengan manusia. Lingkungan memengaruhi sikap dan
perilaku manusia, demikian pula kehidupan manusia akan memengaruhi lingkungan
tempat hidupnya. Hubungan antara lingkungan dan kehidupan manusia sudah diakui
para pemikir dan tokoh dunia sejak dahulu.
Aristoteles
mengatakan manusia dipengaruhi oleh aspek goegrafi dan lembaga politik.
Montesquieu menyatakan bahwa iklim memengaruhi perilaku iklim memengaruhi
perilaku politik dan semangat manusia. Arnold Toynbee menyatakan peradaban
manusia akan tumbuh pada lingkungan yang sukar dan penuh tantangan sehingga
melahirkan elan vital. Henry Thomas Bucle menyatakan bahwa iklim, tanaman, dan
tanah saling berkaitan dalam memengaruhi karakter dan sifat manusia.
Dari
beberapa pendapat diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa faktor lingkungan
(tanah, iklim, topografi, sumber daya alam) dapat menjadi prakondisi bagi sifat
dan perilaku manusia. Lingkungan menjadi salah satu variabel yang memengaruhi
kehiduapan manusia. Manusia pun dapat memengaruhi lingkungan demi kemajuan dan
kesejahteraan hidupnya.
Bab
ini mengkaji masalah lingkungan hidup dan menusia serta hubungan timbal balik
antara keduanya. Uraiannya mencakup: hakikat dan makna lingkungan bagi manusia;
kualitas penduduk dan lingkungan terhadap kesejahteraan; problematika
lingkungan sosial budaya yang dihadapi masyarakat; dan isu-isu penting
persoalan lintas budaya dan bangsa.
A. HAKIKAT DAN MAKNA LINGKUNGAN BAGI MANUSIA
Manusia hidup pasti
mempunyai hubungan dengan lingkungan hidupnya. Pada mulanya, manusia mencoba
mengenal lingkungan hidupnya, kemudian barulah manusia berusaha menyesesuaikan
dirinya. Lebih dari itu, manusia telah berusaha pula mengubah lingkungan
hidupnya demi kebutuhan dan kesejahteraan. Dari sinilah lahir peradaban
–istilah Toynbee-senagai akibat dari kemampuan manusia mengatasi lingkungan
agar lingkungan mendukung kehidupannya. Misalnya, manusia menciptakan jembatan
agar bisa melewati sungai yang membatasinya.
Lingkungan adalah suatu media di mana makhluk hidup tinggal,
mencari, dan memiliki karakter seta fungsi yang khas yang mana terkait secara
timbal balik dengan keberadaan makhluk hidup yang menempatinya, terutama
manusia yang memiliki peranan yang lebih kompleks dan riil (Elly
M.Setiadi,2006). Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya. Menurut
Pasal Undang-Undang No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup,
dinyatakan bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
memengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk
hidup lain.
Komponen hidup tidak bisa dipisahkan dari ekosistem atau sistem
ekologi. Ekosistem adalah satuan kehidupan yang terdiri atas sesuatu komunitas
makhluk hidup (dari berbagai jenis) dengan berbagai benda mati yang membentuk
suatu sistem. Lingkungan hidup pada dasarnya adalah sistem kehidupan dimana
terdapat campur tangan manusia terhadap tatanan ekosistem. Manusia adalah
bagian dari ekosistem.
Komponen lingkungan terdiri dari faktor abiotik (tanah, air,
udara,cuaca, suhu) dan faktor biotik (tumbuhan, hewan, dan manusia). Lingkungan
bisa terdiri atas lingkungan alam dan lingkungan buatan. Lingkungan alam adalah
keadaan yang diciptakan Tuhan untuk manusia. Lingkungan alam terbentuk karena
kejadian alam. Jenis lingkungan alam antara lain air, tanah, pohon, udara,
sungai, dan lain-lain. Lingkungan buatan dibuat oleh manusia. Misalnya
jembatan, jalan, bangunan rumah, taman kota, dan lain-lain. Ada pula lingkungan
alam, tetapi sudah merupakan hasil peradaban manusia. Artinya, lingkungan alam
itu sudah mendapat sentuhan tangan manusia. Contohnya, persawahan yang
berundak-undak, pegunungan di California AS yang dipahat menjadi beberapa tokoh
presiden.
Lingkungan dapat pula berbentuk lingkungan fisik dan nonfisik.
Lingkungan alam dan buatan adalah lingkungan fisik. Sedangkan lingkungan
nonfisik adalah lingkungan sosial budaya di mana manusia itu berada. Lingkungan
sosial adalah wilayah tempat berlangsungnya berbagai kegiatan, yaitu interaksi
sosial antara berbagai kelompok beserta pranatanya dengan simbol dan nilai,
serta terkait dengan ekosistem (sebagai komponen lingkungan alam) dan tata
ruang atau peruntukan ruang (sebagai bagian dari lingkungan binaan/buatan)
Lingkungan amat penting bagi kehidupan manusia. Segala yang ada
pada lingkungan dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup
manusia, karena lingkungan memiliki daya dukung, yaitu kemampuan lingkungan
untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Arti penting lingkungan
bagi manusia adalah sebagai berikut.
1. Lingkungan merupakan tempat hidup manusia,
berada, tumbuh, dan berkembang
di atas bumi sebagai
lingkungan.
2. Lingkungan memberi sumber-sumber penghidupan
manusia.
3. Lingkungan memengaruhi sifat, karakter, dan
perilaku manusia yang mendiaminya.
4. Lingkungan memberi tantangan bagi kemajuan
peradaban manusia.
5. Manusia memperbaiki, mengubah, bahkan
menciptakan lingkungan untuk kebutuhan dan kebahagiaan hidup.
Pentingnya lingkungan hidup ini telah didasari oleh masyarakat
internasional. Hal ini tercermin dari adanya Hari Lingkungan Hidup Sedunia,
yang selalu diperingati oleh masyarakat, khususnya para pemerhati dan pecinta
lingkungan. Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni.
Peringatan Lingkungan Hidup Sedunia dimaksudkan untuk menggugah kepedulian
manusia dan masyarakat pada lingkungan hidup yang cenderung semakin rusak.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali dicetuskan pada tahun
1972 sebagai rangkaian kegiatan lingkungan dari dua tahun sebelumnya ketika
seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson menyaksikan betapa kotor dan
cemarnya bumi oleh ulah manusia. Selanjutnya, ia mangambil prakarsa bersama
dengan LSM untuk mencurahkan satu hari bagi usaha penyelamatan bumi dari
kerusakan. Pada tanggal 22 April 1970, Gaylord Nelson memproklamasikan Hari
Bumi (Earth Day), sehingga tanggal tersebut diperingati sebagai Hari
Bumi (Earth Day). Secara prinsip, tidak ada perbedaan antara Hari Bumi
dan Hari Lingkungan, hanya saja sejarahnya yang berbeda. Hari Bumi diprakarsai
oleh masyarakat dan diperingati terutama LSM maupun organisasi yang
berorientasi kepada pelestarian lingkungan hidup, sedangkan Hari Lingkungan
didasarkan dari Konferensi PBB mengenai lingkungan hidup yang diselenggarakan
pada tanggal 5 Juni 1972 di Stockholm, Swedia. Tanggal 5 Juni tersebut
ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Bangsa Indonesia memiliki pandangan tentang pentingnya lingkungan
hidup bagi manusia. Bahwa lingkungan hidup Indonesia yang dipandang sebagai
karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia
merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan mantranya yang sesuai dengan
Wawasan Nusantara. Oleh karena itu, lingkungan hidup indonesia wajib
dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan
penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia serta makhluk hidup lainnya
demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. Pancasila sebagai
dasar dan filsafah negara serta sebagai kesatuanyang bulat dan utuh, memberikan
keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan
tercapai jika didasarkan atas keselarasan, keserasian, dan keseimbangan, baik
dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun manusia dengan
manusia, manusia dengan alam, dan manusia sebagai pribadi, dalam rangka
mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. Antara manusia, masyarakat, dan lingkungan
hidup terdapat hubungan timbal balik, yang selalu harus dibina dan dikembangkan
agar dapat tetap dalam keselarasan, keserasian, dan keseimbangan yang dinamis.
Berkaitan dengan itu, maka lingkungan hidup perlu dikelola secara
baik dan benar demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Pengelolaan
lingkungan hidup Indonesia telah dimuat dalam peraturan perundang-undangan,
yaitu Undang-Undang No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan,
pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan
hidup.
Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas
tanggung jawab negara, asas kelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk
mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam
rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dalam rangka pembangunan
masyarakat Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Warga atau masyarakat dapat berperan serta dalam pengelolaan
lingkungan hidup. Kesempatan berperan serta itu dapat dilakukan melalui cara
sebagai berikut.
1. Meningkatkan kemandirian, keberdayaan
masyarakat, dan kemitraan.
2. Menumbuhkan kembangkan kemampuan dan kepeloporan
masyarakat.
3. Menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk
melakukan pengawasan sosial.
4. Memberikan saran dan pendapat.
5. Menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan
laporan.
Dalam implementasinya, para warga yang berperan serta dalam
pelestarian fungsi lingkungan hidup mendapat penghargaan dari negara.
Contohnya, para perintis, penyelamat, dan pengabdi lingkungan meraih
penghargaan Kalpataru; para walikota dan bupati menerima penghargaan Adipura
sebagai kota atau kabupaten terbersih; para kepala sekolah yang meneriam
penghargaan Adhiwijaya atas keberhasilannya dalam menjadikan sekolah berbudaya
lingkungan.
Di tingkat internasional, ditandai dengan pemberian penghargaan
kepada perorangan ataupun kelompok atas sumbangan praktis mereka yang berharga
bagi pelestarian lingkungan atau perbaikan lingkungan hidup di tingkat lokal,
nasional, dan internasional. Penghargaan ini di beri nama Global 500 yang
diprakarsai Program Lingkungan PBB (UNEP=United Nation Environment Program).
B. KUALITAS LINGKUNGAN DAN
PENDUDUK TERHADAP KESEJAHTERAAN
1. Hubungan Lingkungan dengan
Kesejahteraan
Berdasarkan
uraian sebelumya, dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan erat antara
lingkungan dengan manusia. Lingkungan memberikan makna atau arti penting bagi
manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Lingkungan dapat memberikan
sumber kehidupan agar manusia dapat hidup sejahtera. Lingkungan hidup menjadi
sumber dan penunjang hidup. Dengan demikian, lingkungan mampu memberikan
kesejahteraan dalam hidup manusia.
Sudah
sejak dulu manusia mencari lingkungan yang memiliki daya dukung yang baik bagi
kehidupannya. Contohnya, manusia menempati daerah yang memiliki sumber mata
air, misalnya menempati daerah sekitar sungai, tepi raw, lereng gunung, dan
sebagainya. Kota-kota kuno atau peradaban lama banyak menempati daerah yang
dekat dengan sungai, misalnya peradaban kuno di tepi Sungai Nil. Kota-kota
besar di Indonesia juga banyak yang berada di tepi pantai atau dekat dengan
laut, misalnya jakarta, Surabaya, dan Makassar.
Pada masa sekarang, manusia tetap menginginkan lingkungan sebagai
tempat maupun sumber kehidupannya yang dapat mendukung kesejahteraan hidup.
Melalui ilmu pengetahuandan teknologi, manusia mengusahakan lingkungan yang
sebelumnya tidak memiliki daya dukung serta lingkungan yang tidak dapat untuk
hidup (unhabitable) menjadi lingkungan yang memiliki daya dukung yang
baik dan bersifat habitable. Contoh sederhana, manusia membangun
bendungan, dam, atau waduk guna menampung air. Air tersebut digunakan untuk
cadangan jika terjadi kamarau panjang, air bendungan digunakan untuk mengairi
sawah-sawah warga. Air juga digunakan sebagai penggerak untuk pembangkit
listrik. Daerah-daerah yang sebelumnya gersang, seperti daerah guru di Arab
sekarang ini sudah bisa ditanami pepohonan. Manusia membuat saluran khusus
untuk menyalurkan air sungai ke wilayah tersebut. Bahkan, dalam waktu tertentu
dibuat hujan buatan.
Dewasa ini, manusia dengan kemampuan ilmu pengetahuan yang maju
dan teknologi modern dapat mengatasi keterbatasan lingkungan, terutama yang
bersifat fisik atau lingkungan alam. Daerah-daerah yang pada masa lalu dianggap
tidak mungkin dapat digunakan sebagai tempat hidup, sekarang ini dimungkinkan.
Daerak itu sekarang mampu memberi kesejahteraan bagi hidup manusia berkat
penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah
meningkatkan kualitas hidup manusia melalui penciptaan lingkungan hidup yang
mendukungnya.
Manusia mengusahakan agar lingkungan mempunyai daya dukung
lingkungan hidup dan daya tampung lingkungan hidup secara baik. Daya dukung
lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung
perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Daya tampung lingkungan hidup
adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen
lain yang masuk kedalamnya.
Untuk menciptakan day dukung dan day tampung lingkungan hidup,
diperlukan pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan
hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang
meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan,
pemulihan, pengawasan, dan pengendalikan lingkungan hidup. Pelestarian
lingkungan hidup mencakup pelestarian daya dukung lingkungan hidup dan
pelestarian daya tampung lingkungan hidup. Pelestarian daya dukung lingkungan
hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup
terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu
kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup
lain. Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk
melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau
komponen lain yang dibuang ke dalamnya.
Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu dalam
pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan
pengembangan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan memiliki tujuan sebagai
berikut:
a. Mencapai kelsestarian hubungan manusia dengan
lingkungan hidup sebagai tujuan membangun manusia seutuhnya.
b. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya secara
bijaksana.
c. Mewujudkan manusia sebagai pembina lingkungan
hidup.
d. Melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan
untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang.
e. Melindungi negara terhadap dampak kegiatan
diluar wilayah Negara yang menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan.
Hakikat pengelolaan lingkungan hiduop oleh manusia adalah
bagaimana manusia melakukan berbagai upaya agar kualitas manusia meningkat sementara
kualitas lingkungan juga semakin baik. Lingkungan yang berkualitas pada
akhirnya akan memberikan manfaat bagi manusia yaitu meningkatkan kesejahteraan.
Pengelolaan lingkungan yang berhasil akan memberi manfaat atau
nilai bagi manusia. Terdapat nilai ekonomi, nilai mental, nilai ilmiah, dan
nilai budaya dari lingkungan. Nilai ekonomi, yaitu menambah
penghasilan dari hasil alam, menambah devisa, memperluas lapangan kerja, dan
lain-lain. Nilai mental , yaitu lingkungan yang bisa menambah
rasa estetika, rasa keagungan dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Nilai
ilmiah, yaitu lingkungan bisa dijadikan objek penelitian, pengembangan
sains, botani, proteksi tanaman, budidaya tanaman. Nilai budaya, adalah
bahwa lingkungan yang khas akan memberikan kebanggaan tersendiri bagi warganya.
Misalnya, bangga Indonesia dikenal sebagai zamrud khatulistiwa.
Undang-undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup yang mengatur hak, kewajiban, dan peran warga negar perihal pengelolaan
ini. Hak,kewajiban dan peran itu sebagai berikut :
a. Setiap orang mempunyai hak yang sama atas
lingkungan hidup yang baik dan sehat.
b. Setiap orang mempunyai ha katas informasi yang
berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang
mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian
fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan
perusakan lingkungan hidup.
d. Setiap orang yang melakukan usaha atau kegiatan
berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan
lingkungan hidup.
e. Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan
seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup.
2. Hubungan Penduduk
dengan Lingkungan dan Kesejahteraan
Sejak awal,
manusia merupakan subjek sekaligus objek dalam perjalanan hidupnya guna
mendapatkan kesejahteraan. Manusia membuat, menciptakan, mengerjakan, dan
memperbaiki berbagai hal yang ditujukan untuk kepentingan hidupnya. Penduduk
pada dasarnya adalah orang-orang yang tinggal disuatu tempat yang secara
bersama-sama menyelenggarakan kehidupannya. Penduduk Negara adalah orang orang
yang bertempat tinggal disuatu wilayah Negara, tunduk pada kekuasaan politik
Negara dan menjalani kehidupannya dibawah tata aturan Negara yang bersangkutan.
Dinegara,
penduduk merupakan salah satu modal dasar pembanguna. Sebagai modal dasar atau
asset pembangunan, penduduk tidak hanya sebagai sasaran pembangunan, tetapi
juga merupakan pelaku pembanguna. Mereka adalah subjek dan objek dari
pembangunan Negara. Pembangunan pada dasarnya dilakukan oleh penduduk Negara
dan ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan penduduk yang
bersangkutan.
Hal
yang bersangkutan dengan penduduk Negara meliputi :
a. Aspek kualitas penduduk mencakup tingkat
pendidikan, keterampilan, etos kerja, dan kepribadian.
b. Aspek kuantitas penduduk yang mencakup jumlah
penduduk, pertumbuhan, persebaran, perataan, dan perimbangan penduduk ditiap
wilayah Negara.
c. Dewasa ini, kualita penduduk merupakan aspek
yang penting bagi kesejahteraan hidup. Kesejahteraan hidup
Dewasa ini, kualitas penduduk merupakan aspek yang penting bagi
kesejahteraan hidup. Kesejahteraan hidup penduduk Negara sangat ditentukan oleh
kualitas penduduk yang bersangkutan. Kualitas penduduk mencerminkan kualitas
insani dan sumber daya tersebut dipengaruhi beberapa factor, antara lain
tingkat pendidikan, keterampilan, kesehatan, etos kerja, dan karakter atau
kepribadian.
Dari segi lingkungan, masalah pemukiman merupakan masalah penduduk
(Soerjani, 1987). Ketika jumlah penduduk kecil dan hidup bersahaja, maka cara
hidup dan bermukimnya lingkungan hidup. Namun, seiring dengan bertambahnya
jumlah penduduk dan majunya peradaban, maka cara hidup dan bermukimnya penduduk
tidak lagidiserasikan dengan lingkungan. Justru sebaliknya, lingkungan diubah
dan dicocokkan dengan cara hidup dan pemukiman manusia.
Lingkungan alam seperti tanah, dirombak untuk menampung berbagai
fasilitas kebutuhan manusia. Misalnya perumahan dan fasilitas lain seperti
pelayanan kesehatan, perndidikan, hiburan, pasar, jalan, saluran. Air tidak
hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Air juga untuk pembangkit
listrik.Pertumbuhan penduduk akan selalu berkaitan dengan masalah lingkungan
hidup. Penduduk dengan segala aktivitasnya akan memberikan dampak terhadap
lingkungan. Demikian pula makin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan makin
meningkata dampak terhadap lingkungan hidup. Dampak lingkungan hidup adalah
pengarauh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha
atau kegiatan. Lingkungan hidup bisa berdampak positif dan negative bagi
kesejahteraan penduduk.
Perubahan positif akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan,
misalnya dengan pembangunan jalan-jalan raya yang bisa menghubungkan
daerah-daerah yang sebelumnya terisolir. Pembuatan saluran air, taman kota,
penghijauan, penanaman turus jalan, pembuatan bendungan, adalah contoh-contoh
kegiatan yang menjadikan lingkungan memberi dapak positif bagi manusia.
Perubahan yang positif dari lingkungan tersebut tentu saja dapat memberikan
keuntungan dan sumber kesejahteraan bagi penduduk.
Perubahan lingkungan sebagai akibat tindakan manusia tidak jarang
memberikan dampak negative, yaitu kerusakan lingkungan hidup. Kerusakan
lingkungan hidup tidak hanya meniadakan daya dukung lingkungan itu sendiri,
tetapi juag memberikan resiko bagi kehidupan manusia. Kerusakan lingkungan hidup
merupakan problema besar yang dialami umat manusia sekarang ini.
Beberapa problema lingkungan hidup dewasa ini antara lain :
1. Pencemaran (polusi) lingkungan, yang mencakup
pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah, dan pencemaran suara.
2. Masalah kehutanan, seperti penggundulan hutan,
pembalakan hutan, dan kebakaran hutan.
3. Erosi dan banjir.
4. Tanah longsor, kekeringan, dan abrasi pantai.
5. Menipisnya lapisan ozon dan efek rumah kaca.
6. Penyakit yang disebabkan oleh lingkungan
yang buruk, seperti gatal-gatal, batuk, batuk, infeksi saluran pernapasan,
diare, dan tipes.
Di Indonesia berhasil
diidentifikasikanberbagai kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup tersebut dikhawatirkan akan
berdampak besar bagi kehidupan makhluk bumi, terutama manusia yang populasinya
semakin besar. Beberapa masalah tersebut antara lain :
a. Terus menurunnya kondisi hutan Indonesia. Indonesia merupakan Negara ASEAN terbesar
hutannya. Laju deforestrasi p[ada periode 1985-1997 adalah sekitar 1,6 juta
hektar per tahun meningkat menjadi 2,1 juta hektar per tahun pada periode
1997-2001.
b. Kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai). Praktik penebangan liar dan konversi lahan
menimbulkan dampak yang luas, yaitu kerusakan ekosistem dalam tatanan DAS.
c. Habitat ekosistem pesisisr dan laut semakin
rusak.kerusakan habitat
ekosistem diwilayah pesisir dan laut semakin meningkat, khususnya diwilayah
padat kegiatan seperti pantai utara Pulau Jawa dan Pantai timur Pulau Sumatra.
d. Citra pertambangan yang merusak lingkungan. Sifat usaha pertambangan, khusus nya
tambang terbuka (open pit mining), selalu mengubah bentang alam sehingga
memengaruhi ekosistem dan habitat aslinya. Dalam skala besar akan mengganggu
keseimbangan fungsi lingkungan hidup dan berdampak buruk bagi kehidupan
manusia. Dengan citra semacam ini, usaha pertambangan cenderung ditolak
masyarakat.
e. Tingginya ancaman terhadap keanekaragaman hayati
(biodiversity). Sampai saat ini, 90
jenis flora dan 176 fauna di Pulau Sumatera terancam punah. Populasi orang utan
di Kalimantan menyusut tajam. Kerusakan ekosistem dan perburuan liar yang
dilator belakangi rendahnya kesadaran masyarakat, menjadi ancaman utama bagi
keanekaragaman hayati di Indonesia.
f. Pencemaran air semakin meningkat. Kualitas air permukaan danau, situ dan perairan
umum lainnya juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Umumnya disebabkan
karena tumbuhnya fitoplankton secara berlebihan sehingga menyebabkan terjadinya
timbunan senyawa fosfat yang berlebihan.
g. Kualitas udara semakin menurun, khususnya
dikota-kota besar. Kualitas udara di 10
kota besar Indonesia cukup mengkhawatirkan, dan di enam kota diantaranya, yaitu
Jakarta, Surabaya, Bandung, medan, jambi, dan Pekanbaru dalam satu tahun hanya
dinikmati udara bersih selama 22 sampai 62 hari saja.
Kerusakan lingkungan hidup memberi efek yang besar bagi
kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Lingkungan sangat berkaitan dengan masalah
ketahanan hidup (survival) manusia. Ketahanan hidup amat bergantung pada
hubungan yang saling menopang dari lingkungan yang terdiri atas berbagai system
yang menunjang kehidupan itu ataupun yang saling menyayanginya. Bagi manusia,
problema lingkungan pada dasar timbunya kalau terjadi ketidakseimbangan
antarmanusia dengan sumber-sumber yang ada dalam lingkungannya. Pemanfaatan
yang berlebihan oleh manusia menyebabkan daya dukung lingkungan berkurang
sehingga keseimbangan tidaak terjadi lagi. Oleh karena itu, pengelolaan
lingkungan pada hakikatnya adalah menciptakan keseimbangan hubungan antara
manusia dengan lingkungan itu sendiri.
Masalah
kependudukan tidak hanya menciptakan masalah pemukiman dan problema lingkungan.
Pertambahan penduduk berpengaruh terhadap tingkat pendidikan. Dinegar-negara
yang anggaran pendidikannya rendah biasanya menunjukkan angka kelahiran yang
tinggi. Pertambahan penduduk yang cepat juga menghambat perimbangan
pendidikan.
Pertumbuhan
penduduk juga berpengaruh terhadap tingkat konsumsi penduduk. Penduduk yang
besar jelas membutuhkan konsumsi dalam jumlah yang besar pula. Pemenuhan
konsumsi yang besar,umumnya tidak diimbangi dengan kandungan gizi yang layak.
Tidak terpenuhinya konsumsi pangan penduduk berakibat pada kelaparan. Demikian
pula gizi yang kurang dapat berakibat pada timbulnya penyakit seperti busung
lapar dan cacat mental pada anak.
Seiring
dengan tidak tercukupinya kebutuhan pangan, maka akan muncul keterbelakangan
dan kemiskinan. Keterbelakangan dan Kemiskinan ibaratnya
adalah saudara kembar. Keterbelakangan dan kemiskinan merupakan “penyakit” yang
bisa melemahkan fisik dan mental manusia dan juga berpengaruh negatif terhadap
lingkupan.
C. PROBLEMATIKA
LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA YANG DIHADAPI MASYARAKAT
Lingkungan sosial adalah wilayah tempat berlangsungnya berbagai
kegiatan dan interaksi sosial antar berbagai kelompok beserta pranatanya dengan
simbol dan nilai serta terkait dengan ekosistem (sebagai komponen lingkungan
alam) dan tata ruang atau peruntukan ruang (sebagai bagian dari lingkungan
binaan/buatan). Manusia hidup berkaitan dengan lingkungan, baik lingkungan
fisik (alam dan buatan) maupun lingkungan sosial.
Lingkungan sosial seseorang manusia (individu) pada dasarnya adalah
individu lain atau kelompok individu dengan segala aktivitas dan pranata yang
dibentuknya. Seorang manusia pastilah akan hidup ditengah-tengah manusia lain.
Manusia hidup dalam lingkungan sosial mereka. Kehidupan dalam lingkungan sosial
manusia ditandai dengan adanya beragam aktivitas, aneka ragam interaksi,
berbagai pranata yang dibentuk, serta berada dalam suatu lingkungan alam dan
buatan sebagai tempat kehidupannya.
1. Interaksi dalam Lingkungan Sosial
Interaksi sosial
merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan timbal balik
anatar perorangan, antara kelompok manusia, maupun antara perorangan dengan
kelompok manusia dalam bentuk akomodasi kerja sama, persaingan, dan pertikaian.
Interaksi
sosial berbentuk hubungan pengaruh yang tampak dalam kehidupan bersama. Tanpa
interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan masyarakat. Interaksi sosial
terjadi antara seseorang dengan orang lain, antara seseorang dengan kelompok
sosial antara kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya.
Interaksi
sosial tersebut bisa dalam situasi persahabatan ataupun permusuhan (kerjasama
atau konflik), bisa dengan tutur kata, jabat tangan, bahasa isyarat, atau
bahkan tanpa kontak fisik. Bahkan, hanya dengan bau keringat sudah terjadi
interaksi sosial karena telah mengubah perasaan atau syaraf orang yang
bersangkutan untuk menentukan tindakan. Interaksi sosial hanya dapat
berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi dari kedua belah pihak.
Interaksi
sosial dapat terjadi apabila ada kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial
merupakan usaha pendekatan pertemuan fisik dan mental. Kontak sosial dapat
bersifat primer (face to face) dan dapat berbentuk sekunder (melalui
media perantara, koran, radio, tv, dan lain-lain). Komunikasi merupakan usaha
penyampaian informasi kepada manusia lain.tanpa komunikasi tidak mungkin
terjadi interaksi sosial. Komunikasi bisa berbentuk lisan, tulisan, atau simbol
lainnya.
Bentuk-bentuk
interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation),
akomodasi(accomodation), ersaingan (competition), dan pertikaian (conflict).
Kerja sama sebagai segala bentuk usaha guna mencapai tujuan bersama. Akomodasi
digunakan dalam dua arti, yaitu pada suatu keadaan dan sebagai suatu proses.
Akomodasi sebagai keadaan menunjukkan keyataan adanya keseimbangan dalam
interaksi sosial. Akomodasi sebagai proses menunjukkan pada usaha manusia untuk
meredakan peretentangan, yaitu usaha mencapai kestabilan. Persaingan merupakan
proses sosial dimana seseorang atau kelompok sosial bersaing memperebutkan
nilai atau keuntungan dalam kehidupan melalui cara-cara menarik perhatian
publik. Pertikaian merupakan interaksi sosial dimana seseorang atau kelompok
sosial berusaha memenuhi kebutuhannya dengan jalan menantang lawannya dengan
ancaman atau kekerasan.
2. Pranata dalam
lingkungan Sosial
Pranata sosial ( dalam
bahasa inggris nya istilahnya institution ) menunjuk
pada sistem pola-pola resmi yang dianut suatu warga masyarakat dalam
berinteraksi. Pranata adalah suatu sistem norma khusus yang menata rangkaian
tindakan berpola mantap guna memenuhi keperluan yang khusus dalam kehidupan
masyarakat. Sistem norma khusus dimaksudkan sebagai aturan , artinya perilaku
itu berdasarkan pada aturan-aturan yang telah ditetapkan.
Kehidupan
masyarakat memiliki berbagai pranata. Makin besar dan kompleks kehidupan
masyarakat makin banyak jumlah pranata yang ada. Penggolongan pranata
berdasarkan fungsinya untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Beberapa ragam
pranata tersebut sebagai berikut :
a) Pranata-pranata untuk memenuhi kebutuhan
kehidupan kekerabatan. Misalnya perkawinan, pengasuhan anak, pergaulan
antarkerabat, dan sistem istilah kekerabatan.
b) Pranata-pranata ekonomi, antara lain pertanian,
barter, industri, dan perbankan.
c) Pranata-pranata pendidikan, misalnya model
pendidikan, jenjang pendidikan, pers, pemberantasan buta aksara, dan
perpustakaan.
d) Pranata-pranata ilmiah, antara lain metodologi
imiah, penelitian, dan pengukuran.
e) Pranata-pranata untuk memenuhi kebutuhan akan
keindahan dan seni, seperti olahraga, berbagai kesenian, dan kesusastraan.
f) Pranata-pranata keagamaan sebagai kebutuhan
manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau alam gaib.
g) Pranata-pranata untuk menjaga dan mengatur
kekuasaan dimasyarakat, serta kepolisian, kehakiman, pemerintah, demokrasi,
tentara.
h) Pranata-pranata untuk memenuhi kebutuhan akan
kenyamanan hidup, seperti pemeliharaan kecantikan, kebugaran, kesehatan, dan
kedokteran.
Dalam kehidupan sehari-hari, istilah pranata sering tumpah tindih
atau dikacaukan penggunaannya dengan istilah lembaga. Istilah
social-institusion, ada yang diterjemahkan sebagai pranata sosial atau sebagai
lembaga sosial. Koentjaraningrat menganjurkan agar dibedakan secara tegas
antara oranata sosial dan lembaga sosial. Pranata sosial adalah sistem norma
atau aturan yang menyangkut suatu aktivitas masyarakat yang bersifat khusus.
Sedangkan lembaga sosial adalah badan atau organisasi yang melaksanakannya.
Lembaga sosial merupakan suatu bentuk kelompok atau perkumpulan sosial yang
khusus. Lembaga dan pranata sosial mungkin tidak bisa dipisahkan, karena didalam
lembaga sosial terdapat pranata sosial, dan pranata sosial berjalan dalam suatu
lembaga sosial sebagai wadahnya.
Lembaga
sosial bertujuan memenuhi kebutuhan pokok manusia. Lembaga sosial memiliki
beberapa fungsi.Pertama, memberi pedoman pada anggota masyarakat
bagaimana mereka harus bertingkah laku dalam menghadapi masalah.
Kedua, menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan. Ketiga, memberi pegangan
kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial.
3. Problema dalam Kehidupan Sosial
Problema sosial
merupakan persoalan karena menyangkut tata kelakuan yang abnormal, amoral,
berlawanan dengan hukum, dan bersifat merusak. Problema sosial menyangkut
nilai-nilai sosial dan moral yang menyimpang sehingga perlu diteliti, ditelaah,
diperbaiki, bahkan mungkin untuk dihilangkan.
Problema-problema
sosial timbul dari kekurangan dalam diri manusia atau kelompok manusia yang
bersumber dari faktor ekonomi, biologis, biopsikologis, dan kebudayaan. Setiap
masyarakat memiliki sejumlah dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial.
Penyimpanagan terhadap norma-norma tersebut memunculkan gejala abnormal yang
mengarah pada terciptanya problema sosial.
Problema
sosial yang terjadi dan dihadapi msyarakat banyak ragamnya. Sesuai dengan
faktor-faktor penyebabnya, maka problema sosial dapat diklafikasikan sebagai
berikut :
a. Problema sosial karena faktor ekonomi, seperti
kemiskinan, kelaparan, dan pengangguran.
b. Problema sosial karena faktor biologis, seperti
wabah penyakit.
c. Problema sosial karena faktor psikologis,
seperti bunuh diri, sakit jiwa, dan disorganisasi.
d. Problema sosial karena faktor kebudayaan,
seperti perceraian, kejahatan, kenakalan remaja, konflik ras, dan konflik
keagamaan.
Sering kali suatu problema sosial dapat digolongkan lebih dari
satu kategori. Kemiskinan misalnya, mungkin sebagai akibat dari penyakit
paru-paru sehingga tidak bisa mencari nafkah, atau karena sakit jiwa, atau
dapat pula bersumber dari faktor budaya, yaitu tidak adanya pekerjaan atau
ditolak bekerja.
Sosiologi berusaha menentukan kriteria apakah suatu permasalahan
dapat dikatakan problema sosial atau tidak. Ukuran atau kriteria untuk
menentukan tersebut adalah sebagai berikut :
a. Kriteria utama untuk menentukan suatu problema
sosial adalah tidak adanya persesuaian antara ukuran atau nilai sosial dengan
kenyataan serta tindakan sosial yang terjadi.
b. Sumber-sumber sosial dari problema sosial. Sebab
dari problema sosial haruslah bersifat sosial. Berdasarkan hal ini maka
kejadian-kejadian menyimpang (abnormal) yang tidak bersumber dari perbuatan
manusia bukanlah merupakan problema sosial. Gejala seperti gempa bumi, angin
topan, dan gunung meletus yang disebabkan alam bukanlah problema sosial.
c. Pihak-pihak yang menetapkan apakah suatu
kepincangan merupakan problema sosial. Ukuran diatas sebenarnya bersifat
relatif. Mungkin banyak orang yang harus mengatakan atau sekelompok orang yang
berkuasa yang mengatakan. Dalam suatu wilayah misalnya, masyarakat didaerah
tersebutlah yang menyatakan apakah suatu gejala merupakan problema sosial atau
tidak.
d. Manifest social problems dari latent social
problems
Perlu
dibedakan antara manifest social problems dan latens social
problems. Manifest social problems adalah problema sosial yang timbul sebagai
akibat terjadinya kepincangan dalam masyarakat karena tidak sesuainya tindakan
dengan norma atau nilai dimasyarakat. Masyarakat umumnya tidak menyukai
tindakan itu. Latent social problems merupakan problema sosial yang juga
menyangkut hal-hal yang berlawanan dengan nilai-nilai masyarakat, tetapi
diterima juga. Manifest social problems diyakini dapat diperbaiki, dibatasi,
bahkan dihilangkan. Sedangkan latent social problems sulit diatasi, karena
walaupun masyarakat tidak menyukainya, tetapi merasa tidak berdaya untuk
mengatasinya.
Keserasian
adalah kesesuaian hubungan timbal balik antara komponen serta berbagai aspek
dalam lingkungan tersebut. Keserasian lingkungan sosial adalah kesesuaian pola
tindakan manusia dalam suatu sistem hubungan timbal balik antara berbagai aspek
kehidupan sosial dan jaringan unsur-unsur pokok yang ada dalam masyarakat yang
memengaruhi sistem sosial, nilai, sikap dan pola perilaku individu serta
kelompok nya, proses sosial, struktur sosial, dan perubahan sosial.
Keserasian
antarorang atau kelompok akan memengaruhi daya tampung lingkungan sosial. Sebaliknya,
daya tampung lingkungan sosial akan memengaruhi keserasian hubungan antara
orang dan kelompok sosial. Daya tampung lingkungan sosial adalah kemampuan
manusia dan kelompok penduduk yang berbeda-beda itu untuk hidup bersama-sama
sebagai suatu masyarakat secara serasi, selaras, seimbang, rukun, tertib, dan
aman.
D. ISU-ISU PENTING
PERSOALAN LINTAS BUDAYA DAN BANGSA
Isu-isu penting menjadi
persoalan lintas budaya dan bangsa pada umumnya merupakan isu global yang
menjadi keprihatinan umat manusia sedunia. Merupakan isu global karena
persoalan ini tidak hanya dihadapi umat manusia dalam suatu negara atau wilayah
tertentu, tetapi melanda ke berbagai belahan dunia.
Berikut
ini akan kita ketengahkan isu-isu global yang terdiri atas isu mengenai
lingkungan dan isu mengenai kemanusiaan. Isu tentang lingkungan antara lain
mencakup kekurangan pangan, kekurangan sumber air bersih, polusi dan perubahan
iklim. Isu tentang kemanusiaan antara lain mencakup kemiskinan, konflik, dan
wabah penyakit.
1. Isu Tentang Lingkungan
a. Kekurangan Pangan
Pangan merupakan
komoditi penting dan strategis, mengingat pangan adalah kebutuhan pokok manusia
yang hakiki. Kebutuhan pangan disetiap pemukiman perlu tersedia dalam jumlah yang
cukup, mutu yang layak, aman dikonsumsi, dan dengan harga yang terjangkau oleh
masyarakat. Problema kekurangan pangan masih saja menghantui umat
manusia,kendati tingkat pertumbuhan ekonomi dunia meningkat. Hal ini disebabkan
pertumbuhan penduduk dunia yang cepat tidak seimbang dengan produksi pangan.
Selain itu,masalah keadilan dan distribusi sumber-sumber pangan yang tidak
merata
Kekurangan
pangan menciptakan kekwatiran berbagai pihak. Dunia pun diliputi kekwatiran
itu,karena pertambahan penduduk yang tinggi, terutama di negara-negara
berkembang. Menurut FAO,saat ini didunia terdapat sekitar 200 juta orang yang
kekurangan pangan.penduduk indonesia pada tahun 2035 di perkirakan akan
bertambah menjadi dua kali lipat dari jumlahnya sekarang,menjadi sekitar 400
juta jiwa.
Kekurangan
pangan menciptakan gejala serius berupa kelaparan. Mantan sekretaris jendral
Perserikatan Bangsa-Bangsa(PBB),Kofi Annan pernah menegaskan,walaupun saat ini
ada kemajuan yang luar biasa dibidang teknologi dan pertanian, namun
penderitaan yang paling tua dan paling mendasar yaitu kelaparan,masih saja ada.
Setiap hari setidaknya 840 juta orang tidak punya bahan pangan untuk dimakan.
Di
Afrika Selatan, satu dalam setiap empat orang mengalami kelaparan. Di Afrika
Sahara proporsinya lebih tinggi lagi, satu dalam setiap tiga orang. Sedangkan
jumlah penduduk yang kekurangan pangan diwilayah asia pasifik sekita 525 juta.
b. Kekurangan Sumber Air Bersih
Sejak dulu air di akui
sebagai sumber kehidupan.Air,khususnya air bersih banyak dimanfaatkan manusia
untuk berbagai keperluan,terutama sekali untuk minum. Dengan
demikian,ketersediaan air bersih merupakan keharusan bagi penduduk disuatu
wilayah. Sumber-sumber air bersih didapatkan dari mata air, atau sungai yang
telah dilakukan proses penyulingan.
Dengan
semakin bertambahnya jumlah penduduk dunia,kebutuhan air bersih juga meningkat
tajam. Seiring dengan itu,sumber-sumber air bersih mejadi berkurang atau justru
semakin habis. Dewasa ini,penduduk dunia dilanda kekurangan air bersih. Padahal
masalah kekurangan air langsung berdampak terhadap kesehatan dan kelangsungan
hidup manusia.
Kurangnya
ketersediaan air bersih berarti telah terjadi kelangkaan air sebagai sumber kehidupan.
Kelangkaan air bersih menyebabkan orang terpaksa bergantung pada sumber air
yang mungkin tidak aman. Tidak tersedianya air bersih dapat memicu timbulnya
berbagai penyakit,seperti kolera,tifus,malaria,demam berdarah,dan penyakit lain
yang menular.kelangkaan air juga dapat menjadikan orang kehabisan waktu dan
dana untuk mendapatkan air bersih.
Perubahan
iklim, kekeringan, dan banjir yang sering kali terjadi, ditenagarai berpengaruh
terhadap ketersediaan air bersih. Contohnya, kekeringan pada sebagian
sungai-sungai besar didunia. Indonesia juga dilaporkan mulai terancam
kekurangan air bersih.
C. Polusi
Atau Pencemaran
Polusi atau pencemaran
lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi,
dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
kualitasnya turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup
tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkan nya.
Menurut
tempat terjadinya, pencemaran dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu pencemaran
udara, air, tanah. Polusi air dapat disebabkan oleh beberapa jenis pencemar,
antara lain pembuangan limbah industri, sisa insektida, dan pembuangan sampah
domestik, sampah organik, dan fosfat. Pencemaran tanah disebabkan oleh beberapa
jenis pencemar, seperti sampah-sampah plastik yang sukar hancur,
botol, karet sintetis pecahan kaca, dan kaleng. Polusi suara disebabkan oleh
suara bising kendaraan bermotor, kapal terbang, deru mesin pabrik, radio/tape
recorder yang berbunyi keras sehingga mengganggu pendengaran.
Salah
satu penyebab polusi udara di Indonesia saat ini adalah seringnya terjadi
kebakaran hutan. Kebakaran hutan merupakan bencana yang setiap tahun terus
terjadi. Kebakaran hutan skala besar adalah fenomena yang menjadi sebuah
kecenderungan yang rutin dalam 20 tahun terakhir.
Dampak
buruk kebakaran hutan amat terasa. Polusi udara melanda di kota-kota sekitar
hutan. Kebakaran hutan di Riau menebabkan pendudknya mulai merasakan mata perih
dan berkurang nya jarak pandang karena kabut asap. Polusi udara akibat
kebakaran hutan di Indonesia juga berdampak bagi masyarakat luar.
D. Perubahan
Iklim
Sumber energi
fosil(minyak bumi, batu bara, dan gas alam) yang dihasilkan oleh banyak pembangkit
energi membangkitkan terjadinya pencemaran udara. Hal ini karena pembangkit
tersebut mengeluarkan gas dan zat-zat pencemar, seperti gas (SO2)
dan gasgas rumah kaca (GRK), seperti karbondioksida (CO2). Banyak
penelitian menyebutkan bahwa GRK telah memicu terjadinya pemanasan global
akibat adanya efek rumah kaca.
Efek
rumah kaca terjadi akibat GRK yang terkumpul diatmosfer membentuk selubung yang
menghalangi radiasi panas matahari yang dipantulkan bumi sehingga tidak dapat
lepas keatmosfer. Panas terperangkap dalam lapisan troposfer dan menimbulkan
fenomena pemanasan global.
Lebih
lanjut, pemanasan global telah memicu terjadinya perubahan iklim (climate
change). Perubahan iklim mengakibatkan adanya perubahan-perubahan yang tidak
terkirakan sebelumnya, seperti peningkatan suhu, melelehnya gunung es,
permukaan air laut naik, banyaknya banjir dan badai, serta musim panas yang
semakin panjang. Puahan-perubahan iklim yang ekstrem ini dapat engancam
kehidupan manusi di bumi. Ancaman tersebut antara lain :
1. Panasnya suhu menimbulkan makin banyak nya wabah
penyakit endemik seperti leptospirosis, demam berdarah, diare, dan malaria.
2. Wilayah-wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
terancam tenggelam oleh naiknya air laut.
3. Maraknya banjir dan badai topan yang
sewaktu-waktu melanda pemukiman manusia.
4. Berkurang nya ketersediaan air bersih karena
kekeringan dalam jangka waktu lama.
5. Kegagalan panen karena cuaca yang tidak
mendukung.
2. Isu Tentang
Kemanusiaan
a.
kemiskinan
Kemiskinan meruakan
masalah global yang sering dihubungkan dengan kebutuhan, kesulitan, dan
kekurangan diberbagai keadaan hidup. Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara.
Pemahamannya mencakup :
1) Gambaran akan kekurangan materi, yang biasanya
mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan
kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan
barang-barang dan pelayanan dasar.
2) Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk
keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi
dalam masyarakat. Halini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial
biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah
politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
3) Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan
kekayaan yang memadai. Makna “memadai” disini sangat berbeda-beda, melintasi
bagian-bagian politik dan ekonomi diseluruh dunia.
Kemiskinan penduduk dunia kebanyakan terdapat dinegara-negara
berkembang. Istilah negara berkembang biasanya digunakan untuk merujuk ke
negara-negara yang “miskin”. Indonesia sebagai negara berkembang tidak luput pula
dari ancaman kemiskinan. Meskipun presentase penduduk miskin semakin berkurang
setiap tahun, namun jumlah penduduk semakin besar karena semakin bertambahnya
jumlah penduduk Indonesia.
b. Konflik atau Perang
Konflik berasal dari
bahasa Latin, yaitu configere yang berarti saling memukul.
Secara sosisologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua
orang atau lebh (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha
menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik
dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri yang dibawa individu dalam suatu
interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri
fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya.
Selain itu, konflik juga dapat disebabkan oleh perbedaan latar belakang
kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda kepentingan antar
individu atau kelompok.
Konflik
dalam pengertian luas mencakup konflik secara fisik dan nonfisik. Konflik dalam
derajat yang longgar atau lemah, misalanya perbedaan ide dan pendapat. Konflik
dalam derajat yang tinggi, seperti pertentangan fisik, kerusakan, revolusi,
bahkan perang. Konflik sering kali diterima secara negatif karena dianggap
merusak keteraturan dan ketertiban dalam masyarakat. Namun, konflik dalam
derajat yang longgar dapat memicu kemajuan. Oleh karena itu, konflik tidak
harus dipersepsikan hal yang buruk.
Konflik sosial (termasuk konflik politik) adalah sebuah fenomena
sosial penting yang memerlukan penyelesaian konflik. Konflik sosial juga
merupakan fenomena yang memengaruhi pembuatan keputusan. Semakin hebat koflik,
semakin sulit membuat keputusan yang mengikat semua pihak.
Konflik dalam derajat tinggi, yaitu perang antarmanusia itulah
yang mengancam sendi-sendi kehidupan manusia. Perang hanya menyisakan beragam
penderitaan, kesengsaraan, kehancuran, dan kehilangan segalanya. Namun, anehnya
kehidupan umat manusia sejak masa lalu sampai sekarang tidak pernah sepi dari
kasus-kasus peperangan.
c.
Wabah Penyakit
Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu
penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara
nyata, melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta
dapat menimbulkan malapetaka. Sumber penyakit dapat berasal dari manusia,
hewan,tumbuhan dan benda-benda yang mengandung atau tercemar bibit penyakit,
serta yang dapat menimbulkan wabah.
Penyakit
yang mewabah sekarang ini dengan cepat sekali menyebar menembus batas-batas
wilayah dan negara. Penyakit yang sebelumnya hanya melanda sebuah negara atau
suatu kawasan dengan cepat menyebar ke negara dan kawasan lain dibumi. Tepat
kiranya jika sekarang ini terdapat istilah globalisasi penyakit. Globalisasi
penyakit merupakan dampak negatif dari semakin cepatnya pergerakan manusia,
hewan, tumbuhan dan barang-barang yang dibawa. Wabah penyakit menyebar
sedemikian cepat.
Penyakit
yang menyebar sekarang ini makin banyak dan beragam. Jika dulu orang hanya mengenal
sakit malaria, sekarang telah muncul virus poli, SARS,AIDS, dan sebagainya.
Selain penyakit infeksi diatas, penyakit modern yang muncul akibat perubahan
gaya hidup yang kini juga menjadi penyakit yang mengglobal. Sama seperti
penyakit infeksi, penyakit gaya hidup juga tidak mengenal batasan negara atau
batasan status ekonomi. Penyakit gaya hidup, contohnya serangan jantung, darah
tinggi, depresi, stroke, obesitas. Penyakit gaya hidup pada mulanya muncul di
negara-negara maju. akan tetapi sekarang ini penyakit tersebut melanda pula
negara-negara industri baru di Asia.
Wabah
penyakit yang menimbulkan malapetaka yang menimpa umat manusia dari dulu sampai
sekarang maupun masa mendatang tetap merupakan ancaman terhadap kelangsungan
hidup dan kehidupan. Selain wabah membahayakan kesehatan masyarakat karena
dapat mengakibatkan sakit, cacat, dan kematian, wabah juga akan mengakibatkan
hambatan dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Penyakit dapat menurunkan
tingkat produktivitas manusia dalam bekerja yang bisa berpengaruh terhadap
pendapatan mereka. Banyak produktivitas yang hilang akibat serangan penyakit.
Disisi lain, pendapatan yang diperoleh banyak dikeluarkan untuk biaya
pengobatan. Pada akhirnya, timbulnya penyakit bisa berpengaruh terhadap tingkat
ekonomi masyarakat.